Apa yang membedakan pemain-pemain seperti Diego Maradona, Roberto Baggio, Zinedine Zidane, atau Lionel Messi dengan pemain
lainnya? Jawabannya adalah kemampuan untuk "melihat yang tak terlihat" hal-hal di lapangan hijau. Mereka dianugerahi bakat untuk menghentikan waktu dan memandang masa depan dalam 90 menit pertandingan, dengan berbagai keputusan dan tindakan yang tidak pernah terbayangkan oleh pemain lawan, bahkan oleh rekan satu timnya sendiri. Pemain dengan bakat seperti itulah yang disebut dengan sebutan "Fantasista".
Teppei Sakamoto, seorang anak dengan tubuh pendek dan badan kecil, adalah seorang anak dari pulau terpencil di Jepang yang dianugerahi bakat sebagai Fantasista. Sepanjang hidupnya, ia hanya bermain bola sendirian setelah ditinggal oleh kakaknya, Kotone ke Tokyo. Setelah lulus SMP, Teppei pun menyusul kakaknya ke Tokyo, yang kini bekerja sebagai guru sekaligus pelatih tim sepakbola sekolah SMU Mizumoto. Teppei bagaikan berada di surga ketika ia pertama kali merasakan sepakbola dalam satu tim bersama SMU Mizumoto. Awalnya, Teppei hanya mengandalkan kemampuan dribbling dan kecepatannya yang sangat luar biasa, namun sama sekali tidak memperhatikan kerjasama tim sehingga dibenci oleh rekan satu timnya sendiri. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, pengetahuan dan kemampuan Teppei dalam sepakbola pun bertambah, hingga akhirnya dipanggil untuk memperkuat tim Junior Jepang dalam Japan Youth Cup. Di turnamen inilah Teppei bertemu dengan sosok yang akan terus berusaha dikalahkannya sepanjag hidup, yaitu Marco Quorre, striker tim Italia Junior. Marco yang berbadan lebih kecil dari Teppei berhasil menunjukkan pada Teppei arti dari "Fantasista" yang sebenarnya pada pertandingan final.
Permainan Teppei di JY Cup menarik perhatian klub klub besar dunia. Setelah sempat bimbang, akhirnya ia menerima tawaran AC Milan dan bergabung dalam tim junior. Di tim inilah Teppei harus mengalami berbagai perjuangan untuk dapat melampaui Marco QUorre. Serial ini diakhiri dengan pertandingan antara Teppei dan Marco yang sangat fantastis.
Dalam buku ini, kita dapat mengetahui mengapa pemain dengan bakat besar bertipe Fantasista tak selalu bersinar dalam timnya. Permainan yang tergambar dalam kepala seorang fantasista sering tidak dapat diimbangioleh oleh imajinasi rekan satu timnya, sehingga kerja sama tim pun menjadi rusak. Hal inilah yang harus dilawan oleh Teppei untuk menggapai mimpinya.