Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Sastra Klasik>[Kritik Cerpen] 'Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi

[Kritik Cerpen] 'Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi

oleh: assyifaramadhani     Pengarang : Alfia
ª
 
Cerpen 'Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi' mengandung aspek sosiologis. Pengarang dalam cerpen tersebut mengangkat sebuah kehidupan masyarakat yang hidup di daerah padat penduduknya. Dengan kepandaiannya mendeskripsikan setting cerita, membuat nyata gambaran daerah yang diceritakan, sehingga pembaca seakan-akan melihat langsung semua yang terjadi di dalam cerita. Hal ini dapat dilihat pada bagian awal cerita: 
“... Tempat itu adalah sebuah gang yang panjang. Di kiri kanan gang itu rumah penduduk berhadap-hadapan, kecuali yang satu yang di ujung. Di sana hanya ada tembok, bagian belakang rumah Ibu Saleha, janda yang menyewakan kamar-kamar di rumahnya. Di balik tembok itu rupanya ada kamar mandi. Pada lobang angin yang dibuat di tembok itu, selalu terlihat sabun dan sikat gigi. Ke balik tembok kamar mandi itulah Pak RT datang.“

Pengarang tidak hanya lincah mendeskripsikan setting, Ia pun lincah di dalam mendeskripsikan tokoh-tokohnya. Tokoh yang diproduksinya sanagt alami, penuh kewajaran dan sesuai dengan keadaan yang diceritakan. Tokoh-tokohnya itu adalah orang-orang yang tidak terlalu istimewa, tetapi sangat menarik untuk dipahami, selain itu pengarang juga mendeskripsikan kehidupan masyarakat dengan segala kebiasaannya dengan penuh kewajaran seperti yang biasa terjadi di masyarakat. Hal ini dapat kita lihat pada petikan cerita berikut:
 “... Wajah-wajah wanita yang sepanjang hari memakai daster, sibuk bergunjing, dan selalu ada gulungan kriting rambut di kepalanya. Wanita yang selalu menggendong anak dan kalau berteriak tidak kira-kira kerasnya, seperti di sawah saja,“ kemudian “... Seorang wanita muda yang meski tidak begitu cantik juga tidak tergolong jelek. Seorang wanita yang hidup dengan sangat teratur. Pergi ke kantor dan pulang ke rumah pada waktu yang tepat. Bangun dan tidur pada jam yang telah ditentukan. Makan dan membaca buku pada saat yang selalu sama. Begitu pula ketika ia harus mandi, sambil menaynyi dengan suara serak-serak basah.“




Pengarang di dalam cerita itu, memang memiliki kelebihan di dalam mendeskripsikan segala yang ada di dalam cerita. Hal ini bukan berarti pengarang terlepas dari kekurangan. Dalam hal mendeskripsikan prilaku masyarakat, pengarang cenderung memberikan perlakuan negatif yang terlalu berlebihan. Prilaku itu seperti membiarkan tokoh terlena dalam dunia imajinasi hanya dengan mendengarkan suara nyanyian di kamar mandi, sampai mereka orgasme. Prilaku ibu-ibu yang sepertinya hanya memiliki kebiasaan buruk dalam hidupnya, seperti tidak berdandan, senang berteriak-teriak, dan selalu menyalahkan orang lain. Adanya prilaku yang tidak wajar yang dilakukan oleh tokoh-tokoh di dalam cerita, misalnya mendengarkan dari balik tembok kamar mandi suara orang yang sedang mandi sambil menyanyi. Kemudian adanya juga prilaku dari Pak RT dan Bu Saleha yang tidak merasa terganggu dengan kebiasaan wanita tersebut menyanyi di kamar mandi.

Alangkah lebih bagus cerpen tersebut, andaikata pengarang menceritakan kehidupan masyarakat dengan melihat sisi baik prilaku tokohnya. Pengarang tidak hanya menjelek-jelekkan prilaku tokohnya di dalam cerita, melainkan juga memunculkan kebaikan prilaku yang dimiliki tokoh walau hanya sedikit saja.

Berdasarkan uraian pada bagian sebelumnya, penulis menyimpulkan bahwa sebuah cerpen berangkat dari realitas kehidupan. Realita kehidupan ini, didukung oleh imajinasi pengarang, sehingga menjadi sangat menarik untuk dibaca. Misalnya, cerpen Seno Gumira Ajidarma yang berjudul 'Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi.' Cerpen tersebut mengangkat kehidupan nyata sekelompok masyarakat di daerah padat penduduk.

Cerpen tersebut sangat menarik untuk dibaca. Pendeskripsian setting, tokoh dan prilakunya, membuat cerita tersebut sangat menarik. Tentunya cerita tersebut akan lebih menarik lagi, jika pengarang menampilkan prilaku baik si tokoh, walau hanya sedikit. Mengingat cerpen sebagai cermin realitas kehidupan, sudah pasti tidak selamanya penuh dengan sisi keburukan, melainkan ada kebaikan yang dimiliki oleh tokoh-tokoh di dalam cerita.
 
Diterbitkan di: 09 Mei, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.