Bersatunya kulit dada dengan kulit punggung, tertimpanya paha sutra dengan selendang ruas kaki bawah, ingin lari tapi justru terasa makin lengket, berusaha diam tapi yang kudapat gemuruh dalam batas pusar sampai dada, tiada yang mampu membendung kemana gerakan LINGGA ALU untuk berusaha saling berbunyi tanpa perlu ragu ragu lagi untuk segera memercikan SARI SARINYA, entah siapa yang meretas bunganya tempat tidur, semua terus bergerak mengikuti suara diriknya alur nafas yang saling bersautan, saling merengkuh, saling menggegat, saling..... dan saling.... saling yang lain. Aku terpana semua begitu sempurna tanpa bisa berpaling sekejab sekalipun. Hati tetidur lelap, dibilik lainnya riuh rendah gemuruh terus menaiki terjanya ASMARA DAHANA, siapa yang bertanggung jawab ini, bila banyak anak lahir tanpa orang tua, suka sama suka, yang penting makin naik karena tidak pernah tau kapan kita akan turun pastilah sulit rasanya karena aku ingat hanya terasa hangat sampai unjung kuku jariku. Dan jari jari yang lain juga terasa hangat sampai terasa sampai Qolbu ku yang dalam, entah sudah berapa lama aku terlelap dalam hangatnya SELIMUT SELENDANG ASMARA.