Serat Centhini Jilid-11 berisi perjalanan menuju pertemuan seluruh keluarga yang saling berpisahan di Jurang Jangkung (Wanataka)
serta cerita Seh Amongraga maupun beberapa keluarga dekatnya yang berhasil mendalami ilmu kesempurnaan agama melalui pendekatan ilmu tasauf dengan langkah pendalaman ilmu syariat, tarekat, hakekat dan makrifat.
Alam kesempurnaan yang telah dicapai oleh Seh Amongraga, Jayengresmi dan Jayengraga beserta istri-istrinya menurut buku Serat Centhini Jilid 11 ini adalah:
1. Penguasaan transformasi dari badan halus (roh) ke badan kasar (jasmani) dan sebaliknya. Dengan penguasaan ini mereka bisa menjadi roh (badan halus) yang tidak kelihatan kemudian bila diinginkan bisa kembali sebagai badan kasar sebagaimana manusia biasa. Ini berlainan dengan kematian dimana roh tidak punya kemampuan kembali ke badan kasar. Hal yang mirip juga dikenal di agama Budha yang dinamakan mokswa.
2. Kemampuan melakukan “mangunah” yaitu permohonan kepada Allah SWT untuk menjadikan atau menciptakan sesuatu yang saat itu juga bisa terlaksana. Mujidhat semacam ini kalau di kitab suci Al-Qur’an hanya dipunyai oleh para nabi. Di Jawa banyak sekali cerita para wali (wali sanga) ataupun para aulia agama Islam yang punya kemampuan melakukan berbagai mujidhat (atas ijin Allah SWT) yang tidak bisa dilakukan oleh manusia biasa.
Mujidhat yang dilakukan oleh Seh Amongraga dalam Serat Centhini jilid 11 adalah:
1. Lolosnya Seh Amongraga dari hukuman di larung di laut selatan. Seh Amongraga saat itu tidak meninggal dunia tapi awal dari transformasi badan kasarnya menjadi badan halus dengan sarana prabawa Raja (Sultan Agung). Mulai saat itu Seh Amongraga hidup di alam kesempurnaan yang punya kemampuan transformasi dari badan halus ke badan kasar atau sebalilknya.
2. Menampakkan diri kembali pertama kali ketika Niken Rangcangkapti adiknya meninggal dunia karena sedih mendengar berita kematiannya.
3. Menghidupkan kembali Niken Rancangkapti.
4. Membantu istrinya Niken Tambangraras, Jayengresmi, Jayengraga maupun istri-istrinya memasuki alam kesempurnaan (dikarenakan mereka sudah memenuhi syarat masuk di alam kesempurnaan).
5. Anggota keluarganya bisa bertemu dengannya di Sendhang Kalampeyan maupun Jurang Jangkung dengan cara mengundang untuk datang melalui itikad.
6. Dianya sendiri mempunyai kemampuan sewaktu-waktu untuk menemui dalam bentuk badan kasar kepada siapa saja yang dia ingin temui.
7. Menciptakan dan menghancurkan kembali sebuah kota - Kota Baja.
Apakah ini sekedar cerita atau suatu kenyataan adalah Wallahu Alam! Kalau kita melihat dari penciptaan mahluk hidup yang ada di kitab suci Al Qur’an, manusia dikatakan sebagai mahluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna, karena punya lingkup kemungkinan yang lebih luas dari mahluk lainnya:
1. Setan/jin: karena tidak mau tunduk kepada manusia dihukum oleh Allah SWT selamanya akan menjadi penggoda manusia agar ikut dengannya berbuat kejahatan dengan tenggang waktu sampai kiamat.
2. Manusia: bisa terseret dalam rangkulan setan/jin, bisa jadi manusia dengan kekurangan dan kelebihannya, punya kemampuan meniru perilaku malaikat yang hanya menjalankan perintah dan memuji kepada Allah SWT, bahkan punya kemampuan mendekati (bukan menyamai) sifat-sifat Allah SWT.
3. Malaikat: diciptakan hanya untuk melaksanakan perintah dan memuji Allah SWT.
4. Sedangkan alam semesta dan mahluk hidup lainnya seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan diciptakan semata-mata rahmat Allah SWT untuk kepentingan manusia.
Adalah terserah manusia itu sendiri bagaimana menentukan dirinya sendiri memanfaatkan tenggang waktu umur hidupnya untuk mencapai lingkup kemungkinan yang mana yang mampu dicapainya atau sebaliknya terseret oleh pengaruh setan/jin.
Pengetahuan Spirituil/Agama:
1. Iman dan Islam: Iman lan Islam bedanya, anenggih lair lan bathin, Islam punika lair, iya Iman bathinipin (Perbedaan Iman dan Islam, Islam itu lahirnya, Iman itu bathinnya).
Rukun Iman: percaya akan keberadaan Allah SWT, Malaikat, Kitab-Kitab Suci, Nabi-Nabi, Kiamat dan Kodrat.
Rukun Islam: mengucapkan kalimat sahadat, sembahyang lima waktu, puasa dibulan Ramadhan, menunaikan Zakat, kalau mampu naik Haji.
2. Mandi wajib yang dilakukan oleh wanita dan pria:
a. Wanita
i. Mandi kel (waktu haid yang pertama kali)
ii. Mandi jinabat (waktu sehabis sanggama)
iii. Mandi wiladah (waktu setelah melahirkan)
iv. Mandi nipas (waktu lepas 40 hari setelah melahirkan)
v. Mandi mayit (waktu meninggal dunia)
b. Pria:
i. Mandi jinabat (waktu sehabis sanggama)
ii. Mandi mayit (waktu meninggal dunia)
3. Ugeran (pakem atau pokok-pokok ajaran) ilmu sarengat, tarekat, hakekat, makrifat:
a. Ilmu sarengat (syariat): Kasdu takrul takyin
Kasdu – niat, Takrul – menyatakan/mengatakan, Takyin – melaksanakan ibadah sesuai yang disyaratkan hukum agama.
b. Ilmu tarekat: suci badan, suci lesan, suci hati
Suci badan – beribadah sujud rukuk (memperbanyak beribadah dan sholat)
Suci lesan – berbicara hanya yang perlu dan sesuai dengan hukum agama, kalau tidak yakin atau tidak perlu atau tidak tahu lebih baik diam.
Suci hati – menanamkan pengertian dalil Al-Qur’an dalam hati
c. Ilmu hakekat: Iman Tauhid Mangaripat
Iman – berbudi pekerti luhur
Tauhid – memusatkan hanya pada Allah SWT
Mangaripat – tidak ada yang dilihat kecuali keberadaan Allah SWT.
d. Ilmu makrifat: syukur suka rila
Syukur – mensyukuri (berterimakasih) dengan apa yang didapat, tidak mengeluh dengan apapun kepastian/ketentuan yang sudah terjadi, masing-masing pribadi berbeda-beda kejadiannya.
Suka – mengerti akan asal muasal kejadian dan sifat kuasa Allah SWT, kodrat dan takdirnya, yang “tan kinaya apa” (tidak bisa dipertanyakan).
Rila – tidak heran terhadap semua kejadian, dari tidak ada menjadi ada, dari ada menjadi tidak ada, adanya tidak bisa dilihat, ketidakadaannya selalu ada.
4. Tekad tama (tekad utama): Utamakna kang wus awajib, sayogya tinekadna kasucyaning laku, angegungken panarimanya.
Artinya: Mengutamakan yang wajib, bertekad untuk menyucikan budi pekerti, selalu berterimakasih terhadap rahmat dan nikmat Allah SWT.