Isi Serat Centhini jilid-10: melanjutkan cerita tentang perjalanan Jayengwesthi (Jayengremi), Jayengraga, Kulawirya diiringi
santri Nuripin dalam rangka mencari Seh Amongraga di wilayah Jawa Timur serta cerita tentang penangkapan Seh Amongraga oleh Tumenggung Wiraguna atas perintah Sultan Agung akibat ulah Jamal dan Jamil menyebarkan ilmu karang dan ilmu sihir di daerah kekuasaan Mataram yang dianggap meresahkan masyarakat setempat.
Perjalanan di Serat Centhini adalah perjalanan para santri dengan berbagai niat masing-masing. Cukup banyak diceritakan di Serat Centhini perihal mudahnya terjadi pernikahan yang berumur pendek. Di jilid-2 pernah diceritakan Mas Cebolang yang menikahi empat cantrik di padepokan Seh Wakidiyat di gunung Tidhar dan diceraikan begitu saja ketika mau meneruskan perjalanan. Di jilid-7 diceritakan Seh Amongraga meninggalkan Niken Tambangraras setelah menikah 40 hari. Pada jilid-10 ini Jayengraga menikahi Rara Widuri di Trenggalek Lembuastha hanya selama 7 (tujuh) hari kemudian ditinggal begitu saja ketika Jayengraga pulang ke Wanamarta.
Apakah kebiasaan ini masih terjadi pada masa kini didaerah pengaruh budaya pesantren masih sangat kuat di pedesaan? Pada budaya priyayi dianjurkan bahwa pernikahan hanya sekali seumur hidup dan selamanya oleh karena itu dianjurkan sangat berhati-hati memilih jodoh (paling tidak itu yang saya ingat yang diajarkan orang tua pada jaman saya). Budaya pesantren lebih permisif perihal pernikahan, wanitanya agak kurang berhati-hati dalam memilih pasangannya, bisa menerima pasangan yang sudah menikah dan bisa menerima pasangannya menikah lagi.
Dalam cerita di Serat Centhini pernikahan yang terjadi bukan kehendak orang tua tapi memang menjadi pilihan dari wanita tersebut karena memang tertarik dengan pasangannya, jadi kebebasan memilih pasangan sudah ada sejak dulu pada wanita di Jawa. Yang menjadi masalah dalam memilih pasangan mereka lebih tertarik para pengelana atau para pendatang yang justru kepastian untuk kelanggengan pernikahan seumur hidup adalah sangat berisiko.
Ini mungkin yang menyebabkan banyak wanita Jawa/Indonesia senang dengan para pendatang dan sangat suburnya kawin kontrak maupun kawin siri. Hal ini memang suatu tradisi kecenderungan pilihan wanita Jawa/Indonesia di pedesaan di masa lalu yang masih lestari sampai saat ini. Sedangkan budaya pernikahan kaken ninen dan satu istri selamanya adalah budaya kerajaan atau budaya priyayi yang barangkali sudah terpengaruh budaya barat. Budaya pewayangan juga menganjurkan satu istri untuk selamanya, kalau terjadi pernikahan lebih dari satu istri hanyalah untuk tokoh-tokoh tertentu (dianggap sebagai suatu penyimpangan).
Hal lain yang juga selalu diceritakan di Serat Centhini dan diceritakan lagi di jilid-10 adalah sikap permisif terhadap penyimpangan tingkah laku seksual:
1. Jayengraga yang berhubungan sesama jenis pada waktu Rara Widuri marah dan Jayengraga tidak berani pulang.
2. Kalawirya untuk menyembuhkan penyakit bahkan berhubungan dengan binatang (kuda).
Juga diceritakan sikap dan sifat wanita terhadap pasangannya, kalau pada jilid-8 diceritakan Randa Sembada yang hipersek, pada jilid-10 ini diceritakan tentang Rara Widuri yang terlalu obsesif (cemburuan) terhadap suaminya Jayengraga. Karena sifatnya ini, tidak malu membuat onar dimuka umum. Sifat-sifat wanita yang khusus seperti ini walaupun jarang memang masih tetap ada di masyarakat sampai dengan saat ini.
Sedangkan cerita/legenda, adat istiadat, ilmu spiritual yang dibicarakan dalam jilid-9 adalah:
Cerita/Legenda: Cerita tentang Arya Banyakwulan dari Singasari, perihal asal usul ikan keramat di kedung Bagong. Cerita semacam ini tersebar hampir diseluruh Jawa, adanya suatu tempat yang dikeramatkan yang dihubungkan dengan tokoh kerajaan-kerajaan Jawa di masa lalu. Tempat-tempat keramat bisa dijadikan pengamalan ilmu yang bersifat sirik (ilmu hitam) tapi juga bisa dijadikan tempat mendalami keajaiban kekuasaan Allah SWT (ilmu putih).
Adat Istiadat: Perbedaan wayang Krucil dan wayang Purwa.
1. Wayang Krucil: dibuat dari kayu pipih, bentuknya lebih kecil dari wayang purwa, ceritanya biasanya tentang kerajaan Majapahit atau cerita Panji. Belakangan disebut juga wayang klithik (karena dibuat dari kayu kalau digerakkan berbunyi klithik-klithik). Saat ini sudah jarang dipertunjukkan.
2. Wayang Purwa: dibuat dari kulit, ceritanya dari kisah Ramayana dan Mahabarata. Masih cukup populer sampai dengan saat ini terutama di masyarakat pedesaan di Jawa Tengah, Jawa Timur atau didaerah transmigrasi di luar Jawa.
Pengetahuan Spirituil/Agama:
1. Perlambang wayang sebagai perlambang hakekat yang sejati.
Nonton wayang harus mengetahui cerma (kulit dan tulang) dan cermin (kaca). Bukan hanya cerma (kulit dan tulang) yang dilihat tapi cermin (kaca) dari sari cerita ki dalang tentang kesucian dan keajaiban Allah SWT.
2. Makna rasa topeng.
Dalam kehidupan hanya ada dua perkara, baik atau buruk. Baik dan buruk adalah suatu pilihan, kalau memakai topeng yang bersifat baik, tarian yang disajikan halus dan menarik, tapi kalau memakai topeng yang bersifat buruk, tarian yang disajikan kasar dan berangasan. Ini sejatinya pilihan dalam hidup kita.
3. Hakekat pengabdian.
Dasar pengabdian adalah sikap andhap-asor (sikap merendah). Prabot genging utami, andhap-asor wekasan luhur. Sikap dalam mendalami ilmu agama (mengaji) maupun bekerja (ngawula).
Sinom: Sapala sawiji sandhang, sapala sawiji guling, sapala sawiji pangan, sapala tan ngekehi, ngenes rajah-tamahipun, de jalma ahli praja, suwita marang narpati, andhap-asor rehning srawungan wong khatah.
Artinya: menerima apapun yang serba sedikit dan selalu bersikap merendah dalam pergaulan.
4. Hakekat ilmu kajatmikan (ketenangan hati):
Jatmikaning sila-krama – ketenangan hati dalam kesusilaan
Jatmikaning sabda-krama – ketenangan hati dalam bertutur kata
Jatmikaning sureng-karya – ketenangan hati dalam bekerja
Jatmikaning karya-bukti – ketenangan hati dalam membuat bukti