Isi Serat Centhini jilid-9, melanjutkan cerita tentang perjalanan Jayengwesthi, Jayengraga, Kulawirya diiringi santri Nuripin
dalam rangka mencari Seh Amongraga di wilayah Jawa Timur.
Pelajaran dari membaca Serat Centhini jilid-9 adalah tentang niat. Antara perjalanan lelanabrata Seh Amongraga dengan perjalanan Jayengwesthi dkk. ada perbedaan pengalaman yang bagaikan bumi dan langit. Ini berkaitan degan niat. Niat Seh Amongraga melakukan lelanabrata untuk mencari kesempurnaan ilmu spritiul oleh karena itu pengalaman yang didapat adalah dalam rangka kesempurnaan ilmu agamanya, sebaliknya, niat dari Jayengwesthi dkk. adalah untuk mencari Seh Amongraga tanpa embel-embel untuk memperdalam ilmu agama. Masih agak lumayan adalah Jayengwesthi yang masih teguh memperdalam ilmu agama dalam perjalanan sedangkan Jayengraga dan Kulawirya memanfaatkan pengalaman-pengalaman dalam perjalanan yang tidak ada kaitannya dalam memperdalam agama bahkan cenderung melakukan hal-hal yang bersifat maksiat.
Ini bisa juga cerminan perjalanan hidup kita sebagai manusia yang punya keinginan luhur agar bisa mempelajari ilmu agama, melaksanakan dalam bentuk budi pekerti yang luhur, mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT. Tapi kenyataannya banyak dari kita tersandung-sandung dalam perjalanan menuju kepada kesempurnaan hidup, melakukan banyak pelanggaran perintah agama, berbuat maksiat tanpa mampu mengendalikan. Sangat baik kalau mampu melakukan perbaikan dan masih punya waktu untuk bertobat. Banyak dari kita tidak mampu mencapai hakekat kesempurnaan hidup dan melakukan banyak perbuatan tercela dan maksiat sepanjang hidupnya. Pilihan sepenuhnya ada dalam diri kita.
Oleh karena itu niat adalah sangat penting dalam setiap langkah tindakan yang kita ambil. Dikatakan dalam buku suci Al-Qur’an, Surat Al An'aam, ayat (162) Katakanlah: "Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, ayat (163) tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". Menurut pendapat saya ini adalah sebaik-baiknya niat untuk kehidupan.
Ada dua hal yang lain yang disinggung dalam Serat Centhini Jilid 9, yaitu:
1. Pengalaman Jayengwesthi dkk. melewati desa Padakan yang sedang tawuran dengan desa Mungur rebutan tempat menggembalaan hewan piaraan. Rupanya budaya tawuran antar kelompok maupun antar desa sudah ada sejak dulu dan masih dipelihara sampai saat ini dengan masih tetap maraknya tawuran antar suku, antar mahasiswa, antar pelajar. Apakah ini suatu kegiatan latihan perang dan tes keberanian? Atau budaya adu phisik peradaban primitif yang masih dipelihara?
2. Adanya sedikit percakapan di kediaman Ki Demang Ngabei Kidang Wiracapa tentang kalangan santri dan kalangan priyayi. Dikatakan bahwa kewajiban priyayi adalah menjaga ketenteraman kerajaan dengan cara-cara yang sudah ditetapkan oleh kerajaan tanpa harus meninggalkan perilaku beragama yang baik. Hal ini muncul karena Jayengwesthi dkk. adalah dari kalangan santri, sedangkan Ki Demang Ngabei Kidang Waracapa dulunya juga dari kalangan santri yang saat itu sudah menjadi seorang pejabat kerajaan di Trenggalek.
Sedangkan cerita/legenda, adat istiadat, ilmu spiritual yang dibicarakan dalam jilid-9 adalah:
Cerita/Legenda: Cerita tentang Panji Asmarabangun adalah kisah cinta Pangeran Jenggala dan Putri Candra Kirana dari Khauripan. Masih populer sampai dengan saat ini dikalangan masyarakat di Jawa.
Adat Istiadat: Ilmu-ilmu di Jawa bukan saja berkembang berkenaan dengan kesempurnaan ilmu agama (dikatakan sebagai ilmu putih) tapi juga berkembang ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kejahatan, ilmu sihir/teluh, dan ilmu mencari kekayaan (dikatakan sebagai ilmu hitam). Ilmu hitam pada umumnya adalah syirik yang sangat dilarang dalam agama Islam.
Pengetahuan Spirituil/Agama:
1. Sembilan tingkat derajat Islam: mukmim ngam – asal-asalan, mukmin ngabid – memakan hanya yang halal, mukmin saleh – berbudi pekerti luhur, mukmin jahada – banyak tirakat, mukmin salik – menjalankan semua perintah Allah SWT, mukmin supi – bening hatinya, mukmin ngarip – selalu menghadap Allah SWT, mukmin ngasik – selalu merindukan Allah SWT, mukmin mukip – berbakti hanya kepada Allah SWT
2. Serat Panitisastra: Salah satu buku karangan R. Ng. Ranggawarsito yang mengajarkan tentang budi pekerti yang luhur.
3. Hal-ihwal keduniawian (Kadariyah) dan keakhiratan (Kajabariyah).
Dandanggula: Kalihe tan wonten prabedaneki, Kadariyah lan Kajabariyah, kewala sami kusnine, puniku dhaupipun, kadya siyang kalawan ratri, dangune tan prabeda, namun kaotipun, apepeteng kalawan padhang, samya saking nuring rahman lawan rahim, wilayating Pangeran.
Artinya: Keduniawian dan keakhiratan adalah sama-sama penting seperti siang dan malam, terang dan gelap, rahman (kasih) dan rahim (sayang). (Note: selama dijalankan dengan niat dan cara yang baik).
4. Hubungan antara topeng, gamelan, gendhing, wayang dan dhalang dengan menyembah kepada Allah SWT.
a. Pocung: De punika dhaupe marang ing ngilmu, unining gamelan, sami lan unining lambe, gendhingane punika jatining niyat. (Note: gendhing bisa berubah jadi gendheng (gila) tanpa niat untuk mengagungkan nama Allah SWT.)
b. Asmaradana: Jejer Jenggala Kediri, dhauping Panji Kirana, sasolah bawaning topeng, topeng wrananing roh mukdas, wrananing Hyang werana, Hyang wrana pribadinipun, werana tanpa kerana. (Note: topeng adalah kiasan dari keberadaan roh yang merupakan keajaiban dari Allah SWT).
c. Megatruh: Kelir jagad gumelar wayang pinangung, asnapun makluking Widi, gedebog bantala regung, balencong panaming urip, gamelan gendhinging lakon. (Note: wayang adalah perumpamaan menggelar panggung dunia keberadaan manusia ciptaan Allah SWT di bumi sebagai penerangan hidup dalam menjalankan kehidupan).
d. Megatruh: Inggih dhalang sejati punika ratu, kang murba solahing urip, kang sineren mring Hyang Agung, nampeni ayating takdir, tabiyat bawaning kang wong. (Note: dhalang sejati seperti raja yang menguasai segala hal tentang kehidupan, yang berlindung pada Allah SWT, menerima takdir dan menguasai peri laku segala macam manusia).