Serat Centhini Jilid-4 berisi lanjutan perjalanan Mas Cebolang. Dalam jilid ini juga berisi suatu sisi lain dari budaya masyarakat
pedesaan / masyarakat traditional yang sangat longgar dari segi hubungan seksual diluar pernikahan maupun toleransi masyarakat terhadap penyimpangan seksual pada suatu kelompok masyarakat tertentu. Toleransi ini masih berlajut sampai saat ini di daerah-daerah tertentu di Jawa. Secara umum masyarakat Indonesia saat ini juga sangat bertoleransi pada perilaku seks diluar pernikahan maupun penyimpangan seks lainnya walaupun telah ada usaha-usaha dari kelompok agamis yang berusaha memasukkan kaidah-kaidah agama agar perilaku seks hanya dilakukan dalam bentuk pernikahan secara formal.
Justru letak kekuatan dari karya besar seperti Serat Centhini ini adalah merekam berbagai budaya, adat-istiadat maupun pengetahuan sprirituil yang hidup dalam masyarakat, tanpa melakukan suatu penilaian dari segi etika dilihat dari sudut pandang tertentu ataupun melakukan penyaringan hanya pada hal-hal yang sekiranya baik sesuai dengan pandangan nilai etika tertentu.
Serat Centhini merekam semua hal yang memang hidup dan nyata pada masyarakat Jawa abad ke 16-17 tanpa dikurangi sedikitpun sebagai suatu warisan budaya yang sangat beragam dan sangat kaya akan nilai-nilai dari sisi yang manusiawi dalam kehidupan. Justru kebanyakan dari kita yang mencoba menilai suatu karya dengan perbandingan nilai-nilai yang sudah tertanam dalam “frame of reference” diri kita sendiri yang tidak selamanya benar secara hakiki.
Cerita/legenda dengan nuansa lokal adalah:
1. Lanjutan ramalan Jayabaya tentang akan datangnya jaman Kalabendu yang ilustrasinya diambil dari cuplikan Serat Kalathida karya R. Ng. Ranggwarsita yaitu suatu peringatan akan mengalami jaman edan, kalau tidak ikut edan tidak kebagian dan tidak tahan, bisa berakibat kelaparan, tapi sebetulnya masih untung yang tetap ingat dan waspada (tidak ikut-ikutan edan).
2. Cerita Jokobodho murid Sunan Tembayat, cerita Jaka Tingkir raja Pajang, cerita Ki Buyut Banyubiru murid Sunan Kalijaga, Serat Rama - sifat tokoh-tokoh pewayangan dari Ramayana, cerita tiga batu yang berkhasiat, cerita sifat tokoh-tokoh pewayangan dari Mahabarata.
Cerita yang bernuansa Islam: cerita tanda-tanda kiamat yang dambil dari Hadist penuturan Aisyah r.a. salah satu istri Nabi Muhammad s.a.w., cerita Seh Markaban dari Mesir, cerita Sultan Abdulkarim Kubra, cerita Prabu Nursirwan yang sangat adil, cerita orang Arab bernama Katim Tayi yang sangat pemurah.
Cerita tentang adat-istiadat adalah: Serat Waduaji yang berisi nama-nama punggawa (pegawai) dan prajurit kerajaan beserta kewajiban masing-masing; sedangkan yang lainnya sangat dominan menceritakan petualangan seks bebas Mas Cebolang pada saat menyamar sebagai pesinden wanita maupun pada saat jadi sinden kentrung serta cerita ketika berada dilingkungan para warok dan gemblakannya. Note: Sampai saat ini masih ada kebiasaan di Jawa Timur para laki-laki yang berpakaian wanita bekerja sebagai sinden (penyanyi lagu traditional) ataupun pada kesenian ludruk.
Pengetahuan Spirituil/Agama:
1. Antara Tasauf dan Fikih. Sampai saat ini difinisi Tasauf dan Fikih masing diperbincangkan dikalangan ulama-ulama Islam dan tidak ada difinisi final perihal hal ini. Di Serat Centhini jilid-4 ini ada diskusi antara Mas Cebolang dengan Endrasmara yang mencoba mendifinisikan istilah Tasauf dan Fikih, sebagai berikut:
a. Pengertian Tasauf (dalam tembang Balabak) :
i. Cebolang ngling nitik saking ing surasa, estune, manungseku tartamtu ing Pangeran, kodrate, piyambak-piyambak lalampahe neng donya, mulyane.
ii. Myang sangsara begja cilaka waluya, sakite, sugih miskin ngagesang tanapi laya, milane, nir pamikir kajawi mung lumaksana, anane.
Artinya hidup hanya sekedar melaksanakan secara ikhlas apa adanya seperti yang sudah dikodratkan oleh Allah SWT.
b. Pengertian Fikih (dalam tembang Balabak):
i. Kang kasebut ing kitab Palakil-kobra, malihe, kang kaenas ing kitab Pekih punika, manggene, kangge Jawi mufakat lampahing gesang, limrahe.
ii. Dadosipun, menggah agesang punika, ecane, punapa kang kalimrah kanggo manungsa, tatane, inggih linampahan sacara-caranya, wajibe.
Artinya dalam menjalani kehidupan dengan cara yang umum berlaku sesuai dengan tatacara dan kewajiban yang sudah digariskan (note: oleh agama).
2. Khasiat dari Asma’ulhusna. Dzikir dengan mengucapkan nama-nama Allah SWT yang 99 diuraikan sesuai dengan manfaatnya. Untuk bisa terlaksana diperlukan suatu keimanan yang sangat kuat.
3. Berkaitan dengan agama Budha:
a. Tingkatan Siswa di Agama Budha: Upasaka, Sangha, dan Samana, masing-masing tingkat berbeda yang didalami.
b. Karma: sebab akibat karena perbuatan manusia yang mengakibatkan manusia tidak bisa melepaskan diri dari kehidupan, tujuan agama Budha adalah mengilangkan karma kehidupan untuk mencapai kesempurnaan menuju nirwana (tidak dilahirkan kembali akibat karma kehidupan).
c. Ilmu dan Laku (dalam tembang Pangkur):
i. Matur malih Mas Cebolang, ing Kabudan paran kang sami ngelmi, kulup tegese pangawruh, iku upama iwak, dene laku iku umpamane bumbu, yen ta munggah umpamanya, kudu gene prong prakawis.
Ilmu dan Laku adalah pasangan bagaikan ikan dan bumbunya keduanya harus dipelajari lalu dilaksanakan.
4. Cerita Dewa Ruci: Adalah cerita pewayangan ketika Werkudara (penengah Pandawa) disuruh gurunya Pendita Durna mencari “air kehidupan” yang berada di tengah lautan. Setelah melalui berbagai rintangan akhirnya ketemu dengan seseorang yang mirip dirinya tapi jauh lebih kecil yang bernama Dewa Ruci. Dewa Ruci menyuruh Werkudara masuk dalam tubuhnya melalui telinga, tentunya Wrekudara tidak percaya bisa masuk dalam tubuh Dewa Ruci melalui telinga sedangkan badan Dewa Ruci saja jauh lebih kecil darinya (perlambang bahwa pada pengalaman dunia sprirituil terjadi suatu relatifitas ruang dan waktu). Ketika didalam tubuh Dewa Ruci ini Werkudara mengalami berbagai pengalaman spiritual yang berupa simbolik warna yang diuraikan oleh Dewa Ruci jalan menuju kesempurnaan hidup yang di Jawa umum disebut manunggaling kawula gusti.