Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Sastra Klasik>Resensi Serat Centhini - Jilid 2

Resensi Serat Centhini - Jilid 2

oleh: GranatWP     Pengarang : KGPA Anom Amengkunegara III
ª
 
Pada jilid-2 ini, kisah awal perjalanan Mas Cebolang berpusat pada pertemuannya dengan berbagai tokoh dengan berbagai keahlian disekitar istana kerajaan Mataram. Kerajaan pada masa itu adalah poros kekuasaan dan istana adalah tempat berkumpulnya banyak ahli diberbagai bidang pengetahuan yang ada pada saat itu, baik pengetahuan tentang adat istiadat maupun pengetahuan tentang agama.

Mataram pada jaman Sultan Agung adalah kesultanan Islam yang terbesar yang berhasil dibentuk dan mampu menguasai seluruh pulau Jawa. Kesultanan Mataram setelah Sultan Agung mengalami kemunduran sejalan dengan masalah suksesi serta meningkatnya pengaruh Belanda yang jengkal demi jengkal melebarkan pengaruh kolonialnya keseluruh Nusantara.

Perkembangan Islam pada saat itu ter-refleksi dengan cerita dan legenda yang diceritakan dalam jilid-2 ini, disamping cerita wayang yang merupakan cerita asli Jawa dengan pengaruh Hindu, juga diceritakan berbagai cerita yang berasal dari Timur Tengah yaitu: Permaisuri Raja Bagdad dan perdana mentrinya; Raja Istambul yang hafal Al-Qur’an; Cerita tentang asal muasal bahasa dan huruf tatkala membangun menara Bibel; Ni Kasanah yang berbakti sama suaminya Suhul; Siti Aklimah yang dituduh serong pada jaman Rasul; Nabi Sulaiman mencoba kesetiaan cinta kasih antara Dara Murtasyah dengan Sayid Ngarip.

Cerita-cerita dari Timur Tengah tersebut tidak lagi terdengar dikalangan masyarakat Jawa saat ini, malahan cerita wayang yang masih hidup dikalangan masyarakat Jawa sampai dengan saat ini. Ini merupakan bukti ada resistensi intervensi budaya Arab di masyarakat Jawa walaupun menerima Islam sebagai agama.

Yang menarik adalah cerita Sunan Kalijaga bertemu dengan Yudistira (Puntadewa) raja Amarta. Sunan Kalijaga adalah salah satu Wali Sanga penyebar agama Islam, sedangkan Yudistira adalah raja Amarta dari kisah Mahabarata (Note: belum ada bukti yang konkrit bahwa Mahabarata adalah kisah berdasarkan fakta sejarah, pendapat yang berkembang merupakan cerita fiksi).

Diceritakan waktu para wali mau mendirikan mesjid Demak, membabat hutan diwilayah Glagahwangi. Hutan selalu diselimuti pedut (asap). Hutan yang ditebang hari ini besoknya sudah kembali lagi menjadi hutan. Jadi pembabatan hutan tidak pernah berhasil. Sunan Giri menyuruh Sunan Kalijaga untuk menyelidiki masuk kedalam hutan. Ternyata didalam hutan ada seorang tinggi besar yang sedang bertapa. Terjadi dialog antara Sunan Kalijaga dengan pertapa tersebut (disebutkan dialog terjadi dalam bahasa Budha – mungkin maksudnya Sangsekerta) diketahui pertapa tersebut adalah Yudistira raja kerajaan Amarta, disuruh bertapa oleh dewa karena tidak bisa mati-mati disebabkan memagang jimat bernama Kalimasada atau Pustaka-Jamus.

Kemudian Sunan Kalijaga meminta untuk melihat jamus tersebut mungkin bisa membantu. Ternyata jamus tersebut selembar kulit yang ada tulisan-nya yang isinya adalah Kalimah Syahadat – adalah kata-kata yang diucapkan kalau seseorang masuk agama Islam. Setelah jamus tersebut bisa dijabarkan oleh Sunan Kalijaga, Puntadewa ikut membacanya dan bisa menemui ajalnya setelah masuk Islam. Sebelumnya meninggal sempat memberikan gambar-gambar pada lembaran kulit kerbau yang isinya adalah gambar keluarga dekat Yudistria tokoh-tokoh yang ada dalam kitab Mahabarata. Gambar-gambar tersebut yang dijadikan dasar Sunan Kalijaga membuat wayang kulit tokoh-tokoh Mahabarata. Setelah Yudistira wafat, hutan berhasil dibabat dan Puntodewo dimakamkan disitu (makam Glagaharum) yang sampai sekarang masih ada dilingkungan mesjid Agung Demak.

Apakah cerita ini benar? Atau hanya akal-akalan dari Sunan Kalijaga untuk meng-Islamkan masyarakat Jawa yang pada saat itu masih beragama Hindu? Masuk Islam tapi masih diperbolehkan melestarikan wayang kulit yang digemari masyarakat Jawa padahal ceritanya berasal dari agama Hindu. Wallahualam!

Sedangkan adat istiadat yang yang dibicarakan dalam jilid-2 banyak sekali berkaitan dengan pengantin, pernikahan dan hubungan suami-istri. Juga dibicarakan tentang keris, kuda, batik, gending, gamelan, tari-tarian, wayangpurwo, ruwatan. Kesemuanya masih lestari sampai saat ini.

Perihal budaya keris beberapa tahun yang lalu terbit Ensiklopedia Keris yang menceritakan hal-ihlwal keris sangat detail (Penyusun: Bambang Harsrinuksmo, Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, tahun 2004). Begitu juga ada Ensiklopedia Wayang Purwo berisi hal-ihwal tokoh-tokoh yang ada di pewayangan (Terbitan Balai Pustaka tahun 1991).

Budaya ruwatan (Murwakala) juga masih hidup sampai saat ini terutama di pedesaan apabila punya anak: ontang-anting (anak tunggal: laki-laki atau perempuan), uger-uger lawang (dua anak laki-laki), kembang sepasang (dua anak perembuan), dhana-gedhini (satu anak laki-laki dan satu anak perempuan, yang tua anak laki-laki), gedhini-gedhana (satu anak laki-laki dan satu anak perempuan, yang tua anak perempuan), pandhawa (lima anak laki-laki semua), ngayoni (lima anak perempuan semua), madangake (anak lima: empat laki-laki, satu perempuan), apil-apil (anak lima: empat perempuan, satu laki-laki).

Pengetahuan Spirituil pada jilid-2 di-dominasi pengetahuan tentang agama Islam. Beberapa yang dibicarakan pada jilid-2:

1. Penjelasan tentang turunnya Lailatul-kadar. Berisi perkiraan kemungkinan hari-hari Lailatul-kadar akan turun. Lailatul-kadar adalah salah satu hari seminggu terakhir puasa Ramadhan, terjadi suatu pengalaman spiritual turunnya rahmat Allah SWT bagi yang bisa mengalaminya.
2. Kisah Nabi Kidhir dan Nabi Musa. Hanya dijelaskan sekilas bukan seperti yang ada di Al-Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 66 s/d 82.
3. Pahala orang yang hafal Al-Qur’an apalagi kalau mengerti artinya. Dalam bentuk contoh cerita Raja Istambul.
4. Penjelasan tentang puasa sunah: Puasa sunah adalah puasa yang dianjurkan yang bukan puasa wajib bulan Ramadhan. Yang masih dianjurkan sampai saat ini: Senin dan Kamis, Puasa Sawal: tujuh hari setelah Hari Raya Idul Fitri, Puasa Besar: dua hari sebelum hari Raya Idul Adha

Diterbitkan di: 02 Agustus, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.