Dulu kau begitu agung, masyur dan mententramkan hati anak negeri. Tapi kini kau hanya bisa meratapi kebobrokan anak-anak
mu. Dulu kau adalah tempat terindah untukku mengais Ilmu Pasti, bahkan sampai anak-anak negeri tetangga mu ikut mengais ilmu disini. Tapi sekarang Kau bukanlah apa-apa. Kau hanya bisa meratapi kebodohan anak-anak negeri mu. Karna Beberapa tahun kebelakang bangsa ini terus di jajah oleh kebodohan, bahkan pembodohan dari berbagai sudut kian merajalela menghakimi anak-anak Ibu pertiwi.
Aku sebagai anak negeri tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa berdoa semoga ke Agungan mu mampu di kembalikan oleh anak-anak negeri mu. Aku hanyalah salah seorang dari sekian anak negeri yang merasakan pembodohan itu, meski aku terus berontak dan melawan dalam hati Tapi apalah artinya jika aku hanya seorang diri, tanpa memiliki kekuatan untuk melawan pembodohan itu, yang ada aku hanya dianggap angin yang berhembus, suara yang berguman yang keluar dari kebahagiaan dan kecongkakan para tuan tanah, kaum imperialis dan Tertawa ejekkan dari para koruptor atas kepuasannya merampas hak anak negeri.
Sampai kapan bangsa ini akan terus mengalami pembodohan, Sampai kapan ke besaran nama bangsa ini akan kembali pulih seperti dulu semasa di pegang oleh seorang putra bangsa yang sangat di takuti oleh negeri lain. Suara sang putra bangsa yang menggelegar kini telah tenggelam, tercekik oleh Orde Baru yang semakin membuat ibu pertiwi terpuruk.
Perang saudara dimana-mana, perpecahan anak-anak negeri semakin dibiarkan. Seakan tak perduli lagi akan saudara nya sendiri. Bukankah kita itu satu, Satu bahasa, satu bangsa satu nusa dan kita juga satu bahasa yaitu BAHASA INDONESIA. Bangkitlah Ibu Pertiwi, berikan satu anak bangsa lagi yang mampu mengangkat derajat mu dimata Dunia, yang mampu membawa kesejahteraan di tanah ini.
Sekarang ini telah banyak kantong-kantong atau telur-telur (red : Partai) yang akan menetaskan satu putra bangsa dan juga wakilnya. Partai kini seperti kacang goreng, merajalela tanpa ada tujuan yang pasti. Mereka selalu saling membanggakan telur-telurnya, tapi sebenarnya apa yang ada di benak meraka kita tidak tahu. Yang kita tahu hanya apa yang mereka gembor kan saja, lewat berbagai media, pasang aksi, pasang wajah hanya untuk mendapatkan suara untuk menetaskannya. Padahal kita tidak tahu apakah setelah mereka di tetaskan, mampu membawa bangsa ini untuk kearah yang lebih baik??? Belum tentu...
Rakyat tidak butuh janji, rakyat tidak butuh gembar-gembor atau warawiri. yang mereka butuhkan adalah sang putra bangsa yang mampu membawa perubahan di tanah ibu pertiwi. Bukan yang "BABI" (Banyak Bicara) mempengaruhi, dan membodoh-bodohi demi perutnya sendiri.
Buat siapa saja yang akan di tetaskan dari tempurungnya masing-masing jangan lupa ketika anda sudah di tetaskan selesaikan tugas negara dengan jujur dan adil. Sejahterakan Rakyat yang telah mengangkatmu.
Hujan tahun ini masih terus menjanjikan kebanjiran, Tapi sadarkah kita, bahwa itu adalah air mata ibu pertiwi yang menangisi anak-anaknya yang tertimpa kemiskinan, bencana lapindo, tanah longsor dan masih banyak lagi musibah yang dialami anak-anak ibu pertiwi. Ibu pertiwi tidak mampu lagi melahirkan anak-anak yang berpredikat baik, etika yang baik, dan moral yang baik.
Apakah kini yang ada hanyalah penderitaan saja di tanah air ini..?? apakah tidak ada lagi yang mampu membawa perubahan dan meninggalkan penderitaan ini..?? Kembalikan Keceriaan ibu pertiwi, kembalikan senyum ibu pertiwi jangan biarkan ia terus larut dalam kesedihan... Do'a ku untuk negeri ku INDONESIA.