Drama ini bercerita tentang keadaan kerajaan Romawi beberapa saat sebelum dan sesudah pembunuhan Julius Caesar.
Dalam adegan
pembuka dikisahkan Flavius dan Marvullus membubarkan kerumunan rakyat Roma yang mengelu-elukan keberhasilan Julius Kaisar menaklukkan Pompey.
Dalam adegan berikutnya, digambarkan Kaisar menolak mahkota kekuasaan yang ditawarkan kepadanya. Hal inilah yang dijadikan alasan
oleh Cassius dalam menghasut Brutus (putra Julius Caesar) untuk segera merebut tahta Kaisar. Brutus pun akhirnya termakan bujukan Cassius. Rencana disusun dengan matang, dan keesokan paginya ia bersama Cassius, Casca, Ligarius, Decius, Metellus serta pegikutnya yang lain menuju ke senat, tempat di mana Julius Caesar dijadwalkan untuk hadir hari itu. Setelah ditunggu, Kaisar pun hadir di senat, tak mengindahkan peringatan dari seorang peramal dan firasat buruk dari Calpurnia, istrinya. Akhirnya, Kaisar pun wafat setelah ditikam oleh Brutus dan kroni-kroninya. Di hadapan rakyat Roma, Brutus pun segera mengukuhkan diri sebagai Kaisar sekaligus menjelaskan alasannya membunuh Julius Caesar. Rakyat sempat terhasut oleh pidato Brutus, namun segera berbalik menentangnya setelah mendengar pidato pemakaman Julius Kaisar yang disampaikan oleh Mark Antony (Anggota triumvirat yang setia pada Julius Caesar). Perang saudara pun tak terelakkan lagi. Mark Antony, OCtavius Caesar (Pengganti Julius Caesar) dan Lepidus berhasil mendesak pasukan Brutus hingga keluar kota Roma. Brutus makin frustasi ketika hantu Julius Caesar menampakkan diri dan mengutuknya. Akhirnya, pasukan Brutus pun berguguran. Titinius dan Cassius bunuh diri, dihantui perasaan bersalah. Brutus pun memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan pedangnya sendiri, sekaligus mengakhiri perang. Julius Caesar adalah salah satu drama tragedi karya Shakespeare . Karya ini telah dipentaskan di seluruh dunia dalam berbagai macam bahasa. Tak dapat disangkal, drama berjudul "Julius Caesar" ini adalah salah satu mahakarya dalam dunia kesusastraan Inggris.