Terakhir penderitaannya di tempat pembuangan biadab
yang dibentuk bangsanya sendiri
di Pulau Buru
selama 10 tahun (1969-1979), dibalasnya
dengan cara yang
sangat beradab: menerbitkan sejumlah karya berkelas "sastra Nobel". Ketika ia harus makan bangkai tikus, cecak dan daging
kuda yang terserang antrax, lamunannya justru melayang jauh ke
jaman-jaman kegelapan sejarah bangsa Indonesia yang disembunyikan
rapat-rapat oleh penguasa. Kemudian kepingan dan serpihan yang
ada disusun
kembali
dalam bayangan manusia Pram beserta sejumlah pengalaman sejarah
yang membentuk wataknya. Kesimpulan sang
penulis: Pram adalah seorang humanis tulen, sebagaimana sosok Multatuli
yang dikagumi Pram habis-habisan Dan yang lebih mengejutkan
lagi: Pram
ternyata jauh berbeda dengan apa yang dituduhkan oleh rejim Orde Baru
pada dirinya.
Desertasi yang dibuatnya selama 6 tahun sebetulnya
direncanakan akan dipertahankan di salah satu univeritas di Jakarta,
tapi tak ada satu
pun akademikus Indonesia yang bersedia jadi promotor
resminya.Baik buku yang telah diterbitkan mau pun yang belum, makala, artikel mau pun surat pribadi.
Tak pelak lagi, penyusun buku ini dengan jeli berhasil mengamati setiap
respon Pram dalam menanggapi perkembangan peradaban di sekitarnya yang
selalu memunculkan "revolutionary hero" lewat pergulatan batin para
tokoh fiksinya, yang samar antara ada dan tiada. Orang- orang yang kerap diidentifikasi kritikus sastra sebagai tokoh yang kaya dengan pengalaman kemanusiaan.
Resensi lain tentang Pemikiran Pramoedya Ananta Toer Dalam Novel- Novel Muktahirnya