Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Anak & Remaja>Pendidikan Seks Yang Ngaco

Pendidikan Seks Yang Ngaco

oleh: Andita_lanz    
ª
 
Selama ini banyak anak-anak tumbuh tanpa bekal pendidikan seksual. Pendidikan seksual seharusnya menjadi bagian pendidikan anak di sekolah maupun di rumah dan dimulai sejak dini. Untuk itu, pendidikan seksual ditunjang oleh unsur-unsur pendidikan etika, psikologi, sosiologi, agama, dan tata krama yang membekali setiap orang untuk berperan membawakan diri sesuai dengan jenis organ reproduksinya. Untuk menyampaikan pendidikan seksual yang baik memang bukan pekerjaan mudah. Berikut ini beberapa pemikiran keliru tentang pendidikan seks dan uraian yang benar.
"Pendidikan seksual cuma pantas untuk suami-istri"
>> Pendidikan seksual bukan seperti itu. Pendidikan seksual tidak mengajarkan atau mempraktikkan teknik atau seni berkegiatan seks.
"Dengan pendidikan seksual, anak atau remaja justru ingin mencoba-coba melakukan kegiatan seksual"
>>
Pendidikan seksual justru untuk membekali anak dan remaja agar tidak melakukan sesuatu yang "sudah bisa tapi tidak boleh" itulah maka pendidikan seksual dibutuhkan.
"Pendidikan seksual hanya pantas untuk anak-anak di negara maju dan tidak sesuai dengan budaya timur"
>>
Jika pendidikan seksual diberikan secara benar, tidak ada yang menyimpang dari nilai-nilai ketimuran. Justru setiap orang Timur harus memiliki nilai-nilai yang ditanamkan orangtua atau guru. Pendidikan seksual tidak pantas diberikan secara luas dan terbukaSelama pendidikan berorientasi pada penanaman nilai-nilai, pantas dan sah saja diberikan kepada semua orang. Lain halnya jika pendidikan seksual diartikan sebagai konseling seks perkawinan yang tentu bukan untuk semua umur.
"Sikap menabukan atau melihat seks sebagai sesuatu yang kotor dan dosa, justru tidak menyehatkan perkembangan psikoseksual anak"
>>
Kelak anak akan memiliki kepribadian yang menyimpang justru oleh anggapan salahnya tentang seks.
Pendidikan seksual tidak mengurangi kenakalan dan kejahatan seksual. Tujuan pendidikan seksual memang bukan untuk menekan kejahatan dan kenakalan seksual. Kenakalan dan kejahatan seksual merupakan bagian yang berbeda dari upaya menyehatkan kematangan seksual pria-wanita. Ada unsur lain di luar jangkauan pendidikan seksual yang menjadikan seseorang cenderung melakukan kenakalan dan kejahatan seksual. Selama ini, tanpa pendidikan seksual toh tidak apa-apa. Tanpa itu, angka-angka kawin dan hamil muda, aborsi ilegal, penyimpangan seksual dan penyakit kelamin remaja, serta bentuk penyimpangan seksual di dunia meningkat terus.
"Pendidikan seksual hanya bisa diberikan oleh dokter atau konselor seksologi"
>>
Semua orangtua dan guru bisa belajar dan diajarkan untuk memberikan pendidikan seksual. Ada banyak panduan yang bisa dirujuk untuk tujuan itu. Selama mengacu pada dasar pendidikan seksual, yakni pengetahuan anatomi-faal organ reproduksi, nilai-nilai agama dan etika, nilai kehidupan untuk berkembangnya kepribadian yang matang dan sehat, akibat buruk tidak akan terjadi.
"Pendidikan seksual harus diberikan secara terpisah antara anak laki-laki dan perempuan" .
>>
Selama makna seks diterima sebagai sesuatu yang wajar dan alami, bukan sebagai sesuatu yang kotor dan dosa, semua anak pria dan wanita menjadi sehat menerimanya bersama-sama. Anak pria perlu sama-sama tahu tentang organ reproduksi wanita, dan sebaliknya.
Diterbitkan di: 09 April, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.