Buku ini merupakan kisah nyata sekolah dasar di Tokyo Jepang pada akhir PD II. Diceritakan Totto terpaksa mencari sekolah baru karena dianggap menganggu proses belajar di sekolah umum. Akhirnya ia menemukan sekolah TOMOE yang ruang belajarnya merupakan gerbong bekas. Ternyata bukan hanya bentuk kelasnya yang berbeda, kepala sekolah dan guru-guru di sekolah itu juga berbeda, mereka bersedia mendengarkan murid, bukan sekedar meminta jawaban atas pertanyaan yang mereka ajukan. Begitu juga terhadap Totto. prisnsip pendidikan Bpk Kobayashi adalah ' anak siapapun pada saat lahir selalu memiliki sifat baik, selama tumbuh ia dipengaruhi oleh keadaan sekelilingnya atau dimanjakan oleh orang dewasa. karena itu, secepatnya kita harus menemukan 'sifat baik' itu dan memupuk serta mengembangkannya untuk menjadi manusia yang berkepribadian.
Sistem belajar di sekolah TOMOE pun selalu ditekankan pada minat anak. Salah satunya adalah dengan menuliskan daftar pelajaran untuk satu hari penuh dan membiarkan anak menyelesaikan mana yang menurutnya bisa diselesaikan lebih dahulu, asalkan pada akhir jam sekolah semuanya terselesaikan. Tentu saja selain untuk melihat minat dan bakat anak, sistem ini mendidik siswanya untuk dapat bertanggung jawab dalam menetapkan skala prioritas. Siswa juga dapat belajar dengan nyaman dan terbiasa dengan perbedaan cara belajar ... sungguh sistem yang sulit ditemukan pada sekolah umum, sampai saat ini sekalipun.
Selain itu ... sekolah TOMOE seringkali memberikan pelajaran yang bersifat praktis dan menghargai alam. Kebijakan tentang 'makanan dari gunung dan laut' adalah upaya untuk memperkenalkan asal makanan dan menu yang seimbang, dan itu tidak harus mahal. mereka juga diajarkan untuk memasak dengan pembagian tugas sesuai dengan usianya.
Seni di sekolah TOMOE tidak terlepas dari pelajaran moral. Ada pelajaran RITMIK yang menyeimbangkan jiwa dan raga. Dalam mempelajari not balok para siswa dibebaskan mencoret-coret lantai kayu dengan kapur, untuk kemudian dibersihkan bersama-sama. makanya tidak ditemukan siswa TOMOE yang mencoret-coret dinding di jalanan.dengan mecoret-coret itu mereka juga belajar menulis dengan benar tanpa mematahkan kapur.
Kegiatan 'jalan'jalan' pun menjadi media pembelajaran tentang apa yang ada di sekitar mereka dan bagaimana semua itu tumbuh.
Selain itu, siswa TOMOE dibiasakan (bukan hanya diajarkan) untuk bertanggung jawab, berempati dan percaya diri. Di salah satu bagian dikisahkan Totto membongkar tempat pembuangan kotoran untuk mencari dompetnya, dan kepala sekolah hanya mengatakan 'kalau sudah semua dibereskan ya'. bukannya melarang atau membantu mencari, tapi Totto dibiarkan untuk bertangung jawab atas barangnya, berusaha mencari dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.
Di bagian lain diceritakan Totto membantu Yasuaki memanjat pohon. Temannya ini memiliki kaki kecil dan lemah, dan petualanan memanjat itu menjadi yang pertama dan terakhir bagi Yasuaki, sebuah kisah yang mengharukan dibalik kepolosan anak-anak. Demikian juga pada Takahashi, satu teman baru Totto yang berbadan pendek dibawah rata-rata. Kepala sekolah merancang pertandingan pada hari olah raga sehingga hampir semua cabang dimenangkan oleh Takahashi, untuk memberi kepercayaan diri bahwa tubuh yang dikatakan 'kurang sempurna' tidak berarti tidak dapat berprestasi. Kebiasaan lain adalah berenang telanjang, sehingga paara siswa terbiasa dengan perbedaan fisik, yang normal maupun tidak.
Di dalam buku ini, banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan terutama tentang bagaimana memahami seorang anak dan bagaimana sistem pembelajaran dapat membentuk karakter anak. Penulis dan teman-temannya terbukti menjadi manusia yang tangguh, peka terhadap lingkungan dan berhasil dalam pilihannya.
Betapa sulitnya menemukan sistem pembelajaran seperti ini ... terutama di sekolah umum dengan kurikulum yang seragam ...
Betapa sulitnya menumbuhkan 'kebahagiaan bersekolah' ditengah-tengah tumpukan materi yang dibebankan.
Buku ini benar-benar layak dibaca oleh orang tua, pendidik dan tentu saja anak-anak.