Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Anak & Remaja>Totto Chan, Si Gadis Kecil di Tepi Jendela

Totto Chan, Si Gadis Kecil di Tepi Jendela

oleh: LDewiYudhistira     Pengarang : Tetsuko Kuroyanagi
ª
 
Buku ini merupakan kisah nyata sekolah dasar di Tokyo Jepang pada akhir PD II. Diceritakan Totto terpaksa mencari sekolah baru karena dianggap menganggu proses belajar di sekolah umum. Akhirnya ia menemukan sekolah TOMOE yang ruang belajarnya merupakan gerbong bekas. Ternyata bukan hanya bentuk kelasnya yang berbeda, kepala sekolah dan guru-guru di sekolah itu juga berbeda, mereka bersedia mendengarkan murid, bukan sekedar meminta jawaban atas pertanyaan yang mereka ajukan. Begitu juga terhadap Totto. prisnsip pendidikan Bpk Kobayashi adalah ' anak siapapun pada saat lahir selalu memiliki sifat baik, selama tumbuh ia dipengaruhi oleh keadaan sekelilingnya atau dimanjakan oleh orang dewasa. karena itu, secepatnya kita harus menemukan 'sifat baik' itu dan memupuk serta mengembangkannya untuk menjadi manusia yang berkepribadian.

Sistem belajar di sekolah TOMOE pun selalu ditekankan pada minat anak. Salah satunya adalah dengan menuliskan daftar pelajaran untuk satu hari penuh dan membiarkan anak menyelesaikan mana yang menurutnya bisa diselesaikan lebih dahulu, asalkan pada akhir jam sekolah semuanya terselesaikan. Tentu saja selain untuk melihat minat dan bakat anak, sistem ini mendidik siswanya untuk dapat bertanggung jawab dalam menetapkan skala prioritas. Siswa juga dapat belajar dengan nyaman dan terbiasa dengan perbedaan cara belajar ... sungguh sistem yang sulit ditemukan pada sekolah umum, sampai saat ini sekalipun. 
Selain itu ... sekolah TOMOE seringkali memberikan pelajaran yang bersifat praktis dan menghargai alam. Kebijakan tentang 'makanan dari gunung dan laut' adalah upaya untuk memperkenalkan asal makanan dan menu yang seimbang, dan itu tidak harus mahal. mereka juga diajarkan untuk memasak dengan pembagian tugas sesuai dengan usianya.
Seni di sekolah TOMOE tidak terlepas dari pelajaran moral. Ada pelajaran RITMIK yang menyeimbangkan jiwa dan raga. Dalam mempelajari not balok para siswa dibebaskan mencoret-coret lantai kayu dengan kapur, untuk kemudian dibersihkan bersama-sama. makanya tidak ditemukan siswa TOMOE yang mencoret-coret dinding di jalanan.dengan mecoret-coret itu mereka juga belajar menulis dengan benar tanpa mematahkan kapur.
Kegiatan 'jalan'jalan' pun menjadi media pembelajaran tentang apa yang ada di sekitar mereka dan bagaimana semua itu tumbuh.
Selain itu, siswa TOMOE dibiasakan (bukan hanya diajarkan) untuk bertanggung jawab, berempati dan percaya diri. Di salah satu bagian dikisahkan Totto membongkar tempat pembuangan kotoran untuk mencari dompetnya, dan kepala sekolah hanya mengatakan 'kalau sudah semua dibereskan ya'. bukannya melarang atau membantu mencari, tapi Totto dibiarkan untuk bertangung jawab atas barangnya, berusaha mencari dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.
Di bagian lain diceritakan Totto membantu Yasuaki memanjat pohon. Temannya ini memiliki kaki kecil dan lemah, dan petualanan memanjat itu menjadi yang pertama dan terakhir bagi Yasuaki, sebuah kisah yang mengharukan dibalik kepolosan anak-anak. Demikian juga pada Takahashi, satu teman baru Totto yang berbadan pendek dibawah rata-rata. Kepala sekolah merancang pertandingan pada hari olah raga sehingga hampir semua cabang dimenangkan oleh Takahashi, untuk memberi kepercayaan diri bahwa tubuh yang dikatakan 'kurang sempurna' tidak berarti tidak dapat berprestasi. Kebiasaan lain adalah berenang telanjang, sehingga paara siswa terbiasa dengan perbedaan fisik, yang normal maupun tidak.
Di dalam buku ini, banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan terutama tentang bagaimana memahami seorang anak dan bagaimana sistem pembelajaran dapat membentuk karakter anak. Penulis dan teman-temannya terbukti menjadi manusia yang tangguh, peka terhadap lingkungan dan berhasil dalam pilihannya.
Betapa sulitnya menemukan sistem pembelajaran seperti ini ... terutama di sekolah umum dengan kurikulum yang seragam ... 
Betapa sulitnya menumbuhkan 'kebahagiaan bersekolah' ditengah-tengah tumpukan materi yang dibebankan.
Buku ini benar-benar layak dibaca oleh orang tua, pendidik dan tentu saja anak-anak.
Diterbitkan di: 22 Januari, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    TOTO CHAN 1 Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    cinta: cerita ..indah.. ..namun.. ..tiada.. ..artii.. ..betull kann .... Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
  1. 5. L DewiYudhistira

    reply

    @aris : di Gramedia udah dicetak ulang

    0 Nilai 26 Desember 2011
  2. 4. liiya

    CINTA

    cinta bukan matematika yankk dapat dii hitung... cinta bukkanlah ppkn yankk sellaluee dii atuer oleh passall... cinta bukanlah ekonomi yankk kadang utankk dan rugi... tanppa cinta kita tak akkan menjadii sepertii ini....!!

    1 Nilai 04 Agustus 2011
  3. 3. aris

    menarik nih kayaknya

    Dimana ya saya bisa mendapatkan buku ini?

    1 Nilai 11 April 2011
  4. 2. LDewiYudhistira

    Amiin

    @monica ... Amiiin semoga niat mulia itu tercapai. Kalau saya bisa membantu ... minimal sumbang saran .... bisa kontak saya mbak ...

    1 Nilai 04 April 2011
  5. 1. monica andriani

    setuju

    kisah yan menarik salah satu cita2ku juga mendirikan sekolah yang sepertiiyu untuk anak jalanan,ini adalah referensi yang sangat berharga.terimakasih karena telah memberitahukan arti semangat dalam hidup

    2 Nilai 01 April 2011
X

.