Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Biografi>Metode DAKWAH MENURUT AL-QUR’AN DAN SUNNAH

Metode DAKWAH MENURUT AL-QUR’AN DAN SUNNAH

oleh: AL_Bersaudara    
ª
 
Segala puji bagi Allah yang maha rahman dan rahim, yang masih memberikan naungan hidayahnya kepada kita semua sehingga kita masih bisa meenggegam ajaran islam yang haq sampai sekarang dan sampai akhir nanti insyallah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada nabi Muhammad SAW, beserta para keluarga, sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan semoga kita semua yang masih senantiasa memegang ajaran beliau hingga akhir zaman.

Masihkah ingat dengan sabda nabi Muhammad yang artinya : “sampaikanlah dariku walau satu ayat”. Sabda beliau ini memberikan satu pelajaran bagi semua manusia, terkhusus lagi bagi umat islam untuk menyampaikan kepada orang lain apa yang telah di mengerti dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah meskipun hanya satu ayat. Kata menyampaikan di atas lebih sering dikenal dengan istilah DAKWAH.
Orang sering berfikir bahwa dakwah itu identik dengan pak ustad dan dakwah itu hanya sebatas seseorang naik di atas mimbar lalu menyampaikan sesuatu di depan orang banyak dengan materi keagamaan. Memang aktifitas seorang kiyai atau ustad di atas mimbar merupakan bagian dari dakwah itu sendiri, tetapi sesungguhnya dakwah bukanlah sebatas yang demikian, dakwah berlaku bagi semua orang islam yang sudah baligh dan mampu memahami ajaran-ajaran islam yang terkandung dalam Al-Qur’an da As-Sunnah untuk kemudian disampaikan kepada orang lain baik sesama orang islam sendiri maupun kepada non islam.
Dakwah tidak sekedar menyampaikan sesuatu kepada orang lain, tapi sesungguhnya dakwah itu mempunyai metode dan tatacara tersendiri yang harus di ketahui dan di mengerti oleh setiap orang, agar dakwah itu sendiri bisa tertata dengan rapi dan apik, sehingga apa yang disampaikan oleh dai dapat dimengerti dan di pahami oleh orang lain, dan untuk selanjutnya agar dakwa itu sendiri bisa berhsil secara maksimal.
Diantara sekian metode dan tatacara berdakwah, AL-Qur’an dan As-Sunnah sendiri telah mengajarkannya. Sebagaiaman QS. An-Nahl : 125
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ [١٦:١٢٥] 125.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Ayat di atas diawali dengan kalimat perintah yang di tujukan kepada baginda Muhammad SAW untuk mengajak semua manusia kepada jalan yang lurus yakni dinul islam. Maka ayat ini juga menjadi pelajaran penting bagi semua umat islam untuk menyampaikan dan mengajak orang lain agar menjadikan agama islam ini sebagai satu-satunya ajaran dalam kehidupan ini, serta menjalankan apa yang telah diperintahkan dan menjahui apa yang telah di larang oleh agama islam.

Tidak lepas begitu saja, ayat di atas juga memberikan metode dan tata cara berdakwah, diantaranya adalah :
1. BI THARIQIL HIKMAH Artinya dengan kebijaksanaan. Dijelaskan dalam tafsir Al-Muyassar dan tafsir Qur’nul Adim bahwa bi thariqil hikmah adalah jalan lurus yang telah di berikan Allah kepada semua manusia yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah, kemudia dijelaskan juga al-hikmah adalah hendalah bercakap-cakap dan berbicara dengan bahasa yang dimengerti oleh orang diajak bicara. Oleh karena itu bagi para penyeru atau dai, setiap ucapan dan perkataan yang dilontarkan haruslah berlandaskan al-qur’an dan sunnah, terlebih pada sikap dan tingkah lakunnya haruslah sesuai dan cocok dengan ajaran-ajaran al-quran dan sunnah, Karena setiap ucapan, perkataan, sikap, dan tingkah laku seorang dai itu akan selalu di lihat dan di pantau oleh orang lain untuk kemudian di jadikan teladan bagi mereka.
begitu pula bagi seorang dai hendaklah memehami keadaan yang diajak bicara termasuk menggunakan bahasa yang dipahami oleh yang di ajak bicara, agar apa yang disampaikan dapat dimengerti dan dipahami. Dengan pemahaman yang demikian, maka dakwah yang di sampaikan akan lebih berkesan dan berhasil dengan baik.
2. WAL MAUIDHATIL KHASANAH Artinya nasehat yang baik. Dijelaskan dalam tafsir al-muyassar bahwa “al-mauidah khasanah” adalah memberi nasehat yang baik sehingga orang akan suka kepada kebaikan dan menjahui kejelekan. Sedangkan tafsir qur’anul adhim menjelaskan bahwa “al-mauidah khasanah adalah memberi nasehat menggunakan perasaan hati dan memahami konteks keadaan, agar mereka menjadi takut dengan siksaan Allah SWT. Keterangan ini memberikan pelajaran bagi setiap penyeru (dai) bahwa dalam menyampaikan dan memberi nasehat hendaklah dengan cara yang baik dan yang sesuai dengan keadaan mereka, tidak semata-mata hanya keinginan sendiri dan disukai, tapi hendaklah melihat siapa yang di ajak berbincang, termasuk menggunakan perasaan bila perlu. Artinya seorang dai hendaknya juga memahami psikologi yang di ajak bicara atau mad’u. sehingga dengan memahami keadaan dan psikologi mereka seorang dai akan mempertimbangkan terlebih dahulu perkataan yang akan di sampaikan, mana yang harus disampaikan dan mana yang tidak hearus disampaikan. Karena keadaan orang maupun masyarakat itu berbeda-beda maka berbeda pula pola berfikir dan pemahamannya, dan ini tidak bisa di samakan.
3. WAJADILHUM BIL LATI HIYA AHSAN Artinya berdebat dengan cara yang baik. Dijelaskan dalam tafsir al-muyassar “wajadilhum bil lati hiya ahsan” adalah berdebat dengan cara lemah lembut dan rasa kasih sayang. Sedangkan makna “ wajadilhum bil lati hiya ahsan” dalam tafsir qur’anul adhim adalah jika ada orang yang berhujjah atau mengajak berdebat hendaklah melawan dengan raut muka yang manis, sikap yang lembut, dan ucapan yang baik. Keterangan ini memberikan satu suntikan pelajaran bagi para dai, jika di tengah-tengah berdakwah ada seseorang yang membantah dan mengajak berdebat maka hendakalah berdebat dengan cara yang baik, ucapan yang baik, bersikap lemah lembut, dan menampakkan raut muka yang manis bila perlu. Karena tidak semua orang yang di dakwahi begitu saja ikut dengan perkataan dai, terkadang terjadi perbedaan dan perselisihan. Selain metode dakwah yang diajarkan oleh Al-Quran, beliau baginda Muhammad pun telah mengajarkan hal itu. Sebagaimana sabda beliau yang artinya “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran hendaklah merubahnya dengan lisan, jika hal itu tidak bisa maka gunakan tangan, jika hal itu masih tidak bisa maka gunakan hati, tapi hal ini adalah selemah-lemahnya iman”.
Diterbitkan di: 25 September, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.