Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Biografi>Belajar GOBLOK dari BOB SADINO

Belajar GOBLOK dari BOB SADINO

oleh: dikca     Pengarang : Dodo Mawardi
ª
 
Sebagian besar orang pintar ternyata goblok ! Sejak lama saya berkeyakinan, sekolah formal tidak mampu mendukung potensi seseorang menjadi wirausahawan tangguh.Saya yakin sekali , seorang pengusaha tidak butuh sekolah formal, yang dia perlukan hanyalah segera melangkah, dan belajar dari proses kehidupan. Sekolah kehidupan/jalanan mengajarkan seseorang untuk terus melakukan praktik secara repetisi sampai trampil. Repetisi ini ternyata lebih hebat ketimbang teori di sekolah Formal !

Kalimat ini adalah ucapan Om BOB SADINO dalam buku yang mengulas perjalanan kesuksesannya -
Belajar Goblok dari Bob Sadino. Anda tentu kenal beliau, pengusaha kawakan yang sukses dan menurut sebagian besar orang sikapnya nyentrik dan punya pandangan /prinsip yang tidak biasa.

Om Bob sebelum menjadi pengusaha menjadi karyawan di Unilever dan Jakarta Lloyd, di Amsterdam dan Hamburg. Setelah lama bekerja di luar negeri kembali ke Jakarta tahun 1967. Itu seletah Om Bob bosan terus menerus jadi bawahan dan stres menghadapi tekanan atasan. Bersama Soelami Soejoed, karyawan BI di Amerika, Om Bob pulang ke Indonesia untuk menikah. Kehidupan mapan dan gaji besar ditinggalkannya. Dua sedan mercy adalah hasil jerih payahnya selama bekerja diluar negeri. Lalu satu dia jual untuk beli tanah di Kemang. Satunya dijadikan taksi gelap. Tapi belum genap setahun , taksinya tertabrak dan dia tak bisa memperbaikinya
karena kekurangan dana. Mobil itu jadi sampah. Om Bob terpukul dengan kejadian itu, "Hati saya ikut hancur, "katanya.

Om Bob muda sempat menjadi kuli bangunan selama setahun, lalu pindah kerja dari kantor ke kantor. Kehidupan keluarganya sangat prihatin. Kondisinya itu mendorong seorang teman menolong, menyarankan Om Bob berternak ayam. Mulailah Om Bob beternak ayam. Bibit ia dapat dari temannya itu. Om Bob belajar dari banyak bacaan dan berlangganan majalah peternakan terbitan Belanda. Berkat majalah itu Om Bob tahu seluk beluk peternakan ayam, ia bahkan kadang lebih ahli dari para pakar dari perguruag tinggi yang kemudian sering mengundangnya. Dari situlah Om Bom berkeyakinan belajar tidak harus di bangku sekolah atau kuliah.

Om Bob memulai usahanya dengan berjualan telur secara eceran dari rumah ke rumah di kawasan Kemang.. Ada yang mau tapi lebih banyak yang menolak karena da menjual telur ayam negeri yang sama sekali belum populer kala itu. Orang lebih banyak makan telor ayam kampung. Tidak mudah mengenalkan sesuatu yang baru, perlu edukasi pasar menurut ilmu manajemen., Tapi Bob tidak mengenal kata edukasi pasar. Yang dial lakukan hanyalah
terus menerus tiada henti menawarkan telur barunya kepada semakin banyak orang. Untuk menarik perhatian calon pembeli yang kebanyakan orang-orang asing yang tinggal di kemang, Bob sengaja memasukkan setangkai bunga anggrek pada setiap plastik telurnya. Ternyata bonus bunga anggrek itu berhasil

Lebih lanjut Om Bob mengatakan :
Sayang memang karena kebanyakan orang sudah terbelenggu dengan berbagai hal termasuk sekolah formal. Belenggu ini pula yang memungkinkan Anda tidak akan menyetujui pendapat saya. Padahal secara empiris saya sudah buktikan dengan apa yang saya jalani sekarang. Ada 3 belenggu yang begitu kuat mencengkeram orang, khususnya orang pintar :

1. Rasa takut

Rasa ini sangat membelenggu hingga seseorang tidak mampu berbuat apapun. Mau jadi pengusaha takut gagal, mau naik pesawat takut jatuh. Jika mau bergerak jauh, belenggu ini harus dihilangkan.

2. Banyak mengharap.
Ini sering tidak disadari, karena dalam ilmu manajemen modern, justru harapan ini diwajibkan. Buat saya itu Nonsesnse! Semaikin banyak mengharap semakin kita menjadi tidak berdaya. Coba berapa banyak sih harapan kita yang jadi kenyataan. Mau berhasil dan sukses, bebaskan diri anda dari harapan

3. Belenggu pikiran sendiri
Para sarjana biasanya sudah sangat dibelenggu oleh otaknya sendiri. Salah satu belenggu itu misalnya tujuan /goal. Saya tidak mau dibelenggu oleh tujuan. Apalagi sampai diperbudak. Saya mau otak saya bebas tekanan,
terus berjalan, bergerak dan beraktivitas. sampai akhirnya melewati tujuan itu sendiri. Itulah belenggu kehidupan yang antara lain disumbangkan oleh ilmu manajemen modern. Saya tidak anti ilmu manajemen, tapi saya mengubah pandangan terhadapnya menjadi sebuah seni. Buat saya manejemen bukan ilmu tapi seni,
Sangat bagus seseorang mengetahui teori manajemen, tapi yang tidak tahu teorinya pun belum tentu jelek. Bahkan mungkin lebih bagus daripada yang tahu. Saya yakin itu. Biasanya makin sempurna ilmu manajemen seseorang, kian sulit buat dia untuk memulai menjadi wirausahawan.

Buat saya menjadi pengusaha itu tidak ada syaratnya. Ini gobloknya orang pintar saja yang membuat 1001 macam syarat sebelum jadi pengusaha. Padahal pengusaha harus bebas tekanan, merdeka, mau kemanapun dia melangkah. Tidak boleh ada kata Harus begini, begitu. Jika mau jadi pengusaha, terjun saja, Just do it !Tidak perlu pikir macam-macam seperti orang pintar. Kian lama berpikir makin terjerusmus Anda ke dalam belenggu pikiran Anda sendiri.

Sandaran Calon pengusaha.
Meski saya orang Goblok dan tidak mengenal syarat untuk jadi pengusaha, anda sebaiknya memiliki beberapa sandaran. Kenapa namanya sandaran ? Seperti kursi yang yang bagian belakangnya bisa menopang punggung. Nah sandaran ini juga bisa menopang seseorang menjadi the real entrepreneur. Kurang satu saja, tidak bisa disebut sebagai pengusaha sejati . Sandaran itu :

1. Mau jadi pengusaha. Kemauan ini sangat mutlak. Tanpa kemauan , lupakan !
2. Punya tekad sangat kokoh dan komitmen kuat atau determinasi.
3. Berani mengambil peluang. Percuma punya kemauan dan determinasi, bila masih takut mengambil peluang dan mendapatkan resiko.
4. Tahan banting dan tidak cengeng. Menjadi pengusaha berarti akrab dengan kegagalan, hambatan dan tantangan. Makin sering gagal makin tahan banting seseorang.
5. Bersyukur pada YME
Kesimpulan : Jika mau jadi pengusaha, jangan terlalu banyak berpikir dan berencana seperti orang pintar. Tapi segera mulai lakukan saja. Just do it, layaknya orang goblok

Bab lain dalam buku ini :
- Memilih Tidak Punya Tujuan
- Percaya dan Biarkan anak buah berbuat salah
- Sekolah = racun
- Rencana = bencana
- Jangan memfotokopi saya
- TIdak pernah pelit bagi ilmu
- TIdak pernah berharap
- Mendidik anak ? Biarkan saja !
Diterbitkan di: 25 Mei, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.