Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Biografi>Hasan Al Bashri, Seorang Tokoh Sufi

Hasan Al Bashri, Seorang Tokoh Sufi

oleh: EzraIbrahim    
ª
 


Hasan ibnu Abil Hasan Al Bashri lahir di Madinah pada tahun 21 Hijriah atau 642 Masehi. Hasan al Bashri adalah seorang anak budak yang ditangkap di Maisan dan kemudian menjadi budak Zaid bin Tsabit. Dibesarkan di Bashrah membuat dia lebih banyak bertemu dengan sahabat Nabi SAW termasuk tujuh puluh orang yang berpartisipasi dalam perang badar. Ia terkenal karena kesalehannya dan penolakan yang tegas terhadap keduniawian. Dalam biografi sufi, ia termasuk salah seorang wali terbesar pada era awal Islam.

Pada awalnya, ia adalah seorang pedagang perhiasan hingga dijuluki “ Hasan Mutiara “. Ia banyak berhubungan bisnis dengan orang Byzantium termasuk Jenderal dan menteri Caesar. Pada suatu hari, Hasan diajak pergi oleh perdana menteri menuju ke suatu tempat. Dilihatnya ada sebuah tenda yang terbuat dari kain brokat Byzantium berdiri kokoh diatas tanah, dengan tali sutera dan pasak emas.

Pertama yang dilihatnya adalah sekelompok pasukan besar melingkari tenda itu dan mereka berkata, “ Wahai Pangeran, jika apa yang telah menimpamu berkaitan dengan perang maka kami semua pasti akan mengorbankan jiwa kami untukmu. Namun apa yang telah menimpamu karena kekuasaan tangan seseorang yang tidak bisa kami lawan, sesorang yang tidak bisa kami tantang “. Mereka berkata demikian lalu pergi.

Kemudian datanglah para filsuf dan sarjana mendekat dan berkata, “ Apa yang telah menimpamu adalah kehendak sesorang yang kepadanya kami tidak bisa lakukan apapun dengan imu dan filsafat. Semua filsuf di dunia tak berdaya dihadapannya dan semua orang terpelajar menjadi bodoh disisi pengetahuannya. Bila bukan itu yang terjadi, kami akan menyusun cara dan kata yang tak tertahankan oleh semua makhluk “. Merekapun lalu pergi.

Selanjutnya para tetua yang dimuliakan mendekat dan berkata, “ Wahai Pangeran, bila apa yang terjadi bisa diatasi oleh campur tangan kami, maka kami akan campur tangan melalui do’a-do’a kami yang merendah dan tidak akan meninggalkanmu disana. Namun apa yang telah terjadi merupakan kehendak seseorang yang tak ada campur tangan seorang manusiapun yang berdaya dihadapannya “. Merekapun berkata lalu pergi.

Lalu datanglah ratusan gadis cantik dengan membawa piring emas dan sebuah piring perak yang berisi batu permata mendekat dan berkata, “ Wahai putra Caesar, bila apa yang menimpamu bisa diatasi dengan kecantikan dan kekayaan, maka kami akan mengorbankan dengan memberikan banyak uang serta tidak akan meninggalkanmu. Tapi apa yang telah menimpamu merupakan kehendak seseorang yang dihadapannya kekayaan dan kecantikan tidak berarti apa-apa “. Mereka berkata demikian lalu pergi.

Caesar sendiri bersama perdana menterinya memasuki tenda dan berkata,” Wahai belahan hatiku, apa yang dapat ayahmu lakukan. Ayah sudah datangkan pasukan, para filsuf, para penasehat dan pendo’a serta gadis-gadis cantik. Apapun akan Ayah lakukan demi kamu anakku. Tetapi apa yang telah menimpamu merupakan kehendak seseorang yang dihadapannya menjadi tak berdaya “. Iapun berkata lalu pergi.

Melihat hal itu, Hasan heran dan bingung. Ditanyakannya hal itu pada perdana menteri bahwa Caesar pernah mempunyai anak laki-laki yang ketampanannya tiada tara, sempurna dalam semua cabang ilmu dan tak tertandingi dalam arena kejantanan. Caesar amat menyayangi putranya, namun tiba-tiba dia jatuh sakit. Semua tabib yang hebat yang dikerahkan tidak mampu menyembuhkan anaknya hingga akhirnya meninggal dan dimakamkan di tenda tersebut. Sejak saat itu Hasan menenggelamkan dirinya dalam ketaatan dari kedisiplinan diri.

Kisah diatas menjadi pelajaran pada kita bahwa sehebat apapun dia dan setampan apapun tidak akan mampu menghalangi kehendak Tuhan, walaupun sudah berusaha dengan usaha yang terbaik jika sudah ketetapan-Nya, ketetapan itupun akan terjadi juga. Pun juga tidak bisa digantikan dengan kekayaan maupun kecantikan serta do’a orang-orang yang dimuliakan.

Diterbitkan di: 24 Februari, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.