Hasan ibnu Abil Hasan Al Bashri lahir di Madinah pada tahun 21 Hijriah
atau 642 Masehi. Hasan al Bashri adalah seorang anak budak yang ditangkap di
Maisan dan kemudian menjadi budak Zaid bin Tsabit. Dibesarkan di Bashrah
membuat dia lebih banyak bertemu dengan sahabat Nabi SAW termasuk tujuh puluh
orang yang berpartisipasi dalam perang badar. Ia terkenal karena kesalehannya
dan penolakan yang tegas terhadap keduniawian. Dalam biografi sufi, ia termasuk
salah seorang wali terbesar pada era awal Islam.
Pada awalnya, ia adalah seorang pedagang perhiasan hingga dijuluki “
Hasan Mutiara “. Ia banyak berhubungan bisnis dengan orang Byzantium termasuk
Jenderal dan menteri Caesar. Pada suatu hari, Hasan diajak pergi oleh perdana
menteri menuju ke suatu tempat. Dilihatnya ada sebuah tenda yang terbuat dari
kain brokat Byzantium berdiri kokoh diatas tanah, dengan tali sutera dan pasak
emas.
Pertama yang dilihatnya adalah sekelompok pasukan besar melingkari tenda
itu dan mereka berkata, “ Wahai Pangeran, jika apa yang telah menimpamu
berkaitan dengan perang maka kami semua pasti akan mengorbankan jiwa kami
untukmu. Namun apa yang telah menimpamu karena kekuasaan tangan seseorang yang
tidak bisa kami lawan, sesorang yang tidak bisa kami tantang “. Mereka berkata
demikian lalu pergi.
Kemudian datanglah para filsuf dan sarjana mendekat dan berkata, “ Apa
yang telah menimpamu adalah kehendak sesorang yang kepadanya kami tidak bisa
lakukan apapun dengan imu dan filsafat. Semua filsuf di dunia tak berdaya
dihadapannya dan semua orang terpelajar menjadi bodoh disisi pengetahuannya.
Bila bukan itu yang terjadi, kami akan menyusun cara dan kata yang tak
tertahankan oleh semua makhluk “. Merekapun lalu pergi.
Selanjutnya para tetua yang dimuliakan mendekat dan berkata, “ Wahai
Pangeran, bila apa yang terjadi bisa diatasi oleh campur tangan kami, maka kami
akan campur tangan melalui do’a-do’a kami yang merendah dan tidak akan
meninggalkanmu disana. Namun apa yang telah terjadi merupakan kehendak
seseorang yang tak ada campur tangan seorang manusiapun yang berdaya
dihadapannya “. Merekapun berkata lalu pergi.
Lalu datanglah ratusan gadis cantik dengan membawa piring emas dan
sebuah piring perak yang berisi batu permata mendekat dan berkata, “ Wahai
putra Caesar, bila apa yang menimpamu bisa diatasi dengan kecantikan dan
kekayaan, maka kami akan mengorbankan dengan memberikan banyak uang serta tidak
akan meninggalkanmu. Tapi apa yang telah menimpamu merupakan kehendak seseorang
yang dihadapannya kekayaan dan kecantikan tidak berarti apa-apa “. Mereka
berkata demikian lalu pergi.
Caesar sendiri bersama perdana menterinya memasuki tenda dan berkata,”
Wahai belahan hatiku, apa yang dapat ayahmu lakukan. Ayah sudah datangkan
pasukan, para filsuf, para penasehat dan pendo’a serta gadis-gadis cantik.
Apapun akan Ayah lakukan demi kamu anakku. Tetapi apa yang telah menimpamu
merupakan kehendak seseorang yang dihadapannya menjadi tak berdaya “. Iapun
berkata lalu pergi.
Melihat hal itu, Hasan heran dan bingung. Ditanyakannya hal itu pada
perdana menteri bahwa Caesar pernah mempunyai anak laki-laki yang ketampanannya
tiada tara, sempurna dalam semua cabang ilmu dan tak tertandingi dalam arena
kejantanan. Caesar amat menyayangi putranya, namun tiba-tiba dia jatuh sakit.
Semua tabib yang hebat yang dikerahkan tidak mampu menyembuhkan anaknya hingga
akhirnya meninggal dan dimakamkan di tenda tersebut. Sejak saat itu Hasan
menenggelamkan dirinya dalam ketaatan dari kedisiplinan diri.
Kisah diatas menjadi pelajaran pada kita bahwa sehebat apapun dia dan
setampan apapun tidak akan mampu menghalangi kehendak Tuhan, walaupun sudah
berusaha dengan usaha yang terbaik jika sudah ketetapan-Nya, ketetapan itupun
akan terjadi juga. Pun juga tidak bisa digantikan dengan kekayaan maupun
kecantikan serta do’a orang-orang yang dimuliakan.