Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Mohammad Hatta

oleh: Stargoldman     Pengarang : Amrin Imran
ª
 
Mohammad Hatta dilahirkan tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Sumatra Barat. Ayahnya bernama Haji Mohammad Jamil. Ibunya bernama Siti Soleha. Haji Mohammad Jamil berasal dari Batuhampar, dekat Payakumbuh. Sedangkan Siti Soleha orang Bukittinggi asli. Hatta adalah anak kedua. Anak yang pertama bernama Rafi’ah, lahir tahun 1900.

Nama Hatta yang sebenarnya ialah Mohammad ‘Athar. ‘Athar itu sebuah kata Arab yang artinya harum. Ketika umur tujuh bulan, Hatta sudah menjadi anak yatim. Ayahnya meninggal dunia dalam usia 30 tahun. Kemudian ibu Soleha menikah dengan Mas Agus Haji Ning, pedagang dari Palembang dan dikaruniai 4 orang anak perempuan. Hatta dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang cukup berada dan terpandang.

Waktu Hatta berumur lima tahun, ia belajar di sekolah swasta. Kemudian setelah kurang lebih enam bulan ia pindah ke Sekolah Rakyat, selama 3 tahun, dan pindah lagi ke sekolah Belanda, yakni Europose Lagere School (ELS) dan taman tahun 1916. Kemudian masuk Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) di Padang, belajar selama 3 tahun, setelah itu ia masuk sekolah dagang, Prins Hendrik School (PHS) di Jakarta. Setelah lulus, melanjutkan pendidikannya pada Handels Hoogere School di Rotterdam, Belanda. Di Belanda Hatta memasuki organisasi mahasiswa Indonesia yang ada di negeri itu. Hatta menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1932, dan memperoleh gelar sarjana Ekonomi.

Hatta selain giat belajar juga pandai berorganisasi. Ketika sekolah di Padang, ia masuk perkumpulan sepakbola. Waktu Hatta bersekolah di Jakarta ia juga dipilih menjadi bendahara Jong Sumatra Bong pusat. Ia juga menjadi bendahara di Indische Vereniging, serta diserahi tugas memimpin majalah Hindia Putra. Selain itu Hatta juga terpilih menjadi ketua Perhimpunan Indonesia (PI) pada tahun 1926. Hatta banyak menulis karangan yang dimuat dalam majalah Hindia Putra, yang oleh Belanda dianggap mengecam Pemerintah Belanda. Kemudian pada tanggal 25 September 1927 Hatta ditangkap dan dimasukkan ke penjara Rotterdam. Namun setelah mengikuti dua kali persidangan, yaitu tanggal 8 Maret 1928 dan 22 Maret 1928 Hatta dibebaskan.

Pemerintah jajahan bertindak sangat keras. Kegiatan partai-partai politik dibatasi. Pada tanggal 25 Januari 1934 Hatta ditangkap oleh Pemerintah Belanda, dan ditahan di Kantor Besar Polisi. Kemudian dipindahkan ke penjara Glodok, lalu dipindahkan ke penjara Salemba, dan selanjutnya dibuang ke Digul, Irian Jaya. Cukup lama di Digul, akhirnya ia dan Syahrir dipindahkan ke Banda Naira, lima tahun lamanya Hatta tinggal d Banda Naira.

Pada masa pemerintahan Jepang, Hatta bekerja sebagai penasehat pemerintah pendudukan Jepang. Hatta menggunakan kedudukannya untuk membela kepentingan rakyat. Hatta dengan Ir. Soekarno mendirikan Pusat Tenaga Rakyat (Putera). Hatta juga diangkat menjadi pengurus Jawa Hokokai oleh Pemerintah Jepang.

Pada saat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dibentuk, Hatta dipilih menjadi wakil PPKI dengan ketuanya yaitu Ir. Soekarno.

Setelah Jepang menyerah pada sekutu tanggal 14 Agustus 1945, Hatta, Soekarno, golongan tua serta golongan muda, tanggal 16 Agustus 1945 berhasil menyusun naskah teks proklamasi melalui sidang yang diadakan di rumah Laksamana Maeda. Hatta yang menyusun teks proklamasi itu dan Soekarno yang menuliskannya. Naskah itu ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta. Kemudian dibacakan pagi hari, tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 oleh Soekarno, di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta.

Tanggal 18 Agustus 1945, melalui sidang PPKI, Hatta dipilih sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia dengan Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, Hatta juga turut membantu meredakan perang kemerdekaan. Berkat bantuan Hatta, perundingan Roem Royen yang dilaksanakan tangal 7 Mei 1949 berjalan lancar.

Tanggal 15 Desember 1949, Hatta dipilih menjadi Perdana Menteri RIS. Tanggal 27 Desember 1949 Hatta menghadiri upacara pengakuan kedaulatan di Belanda. Dalam sidang DPRS tanggal 14 Oktober 1950, Hatta diangkat menjadi Wakil Presiden RI.

Dalam menjalankan pemerintahan, antara Soekarno dan Hatta timbul perbedaan pendapat yang pada akhirnya pada tanggal 1 Desember 1959 Hatta mengundurkan diri dari jabatannya.

Hatta menjalani kehidupannya dengan seorang wanita yang bernama Rahmi Rahim, yang dinikahinya tanggal 18 November 1945. Kemudian dikaruniai 3 orang anak perempuan, yaitu Meutia Farida, Gemala Rubiah, dan Halida Nuriah.

Hatta hidup dengan istri dan anak-anaknya dalam keadaan rukun. Hatta tidak memanjakan anak-anaknya. Hatta dikenal sebagai seorang yang sangat disiplin. Ia hidup serba teratur. Ia juga rajin beribadah. Hatta dan keluarganya hidup secara sederhana.

Setelah dua anaknya menikah, Hatta sudah mempunyai cucu. Cucu yang pertama bernama Sri Juwita Hanum, putri dari Meutia dan Edi Swasono. Sedangkan cucu kedua bernama Mohammad Athar, putra dari Gemala dan Cholil.

Tanggal 3 Maret 1980, Hatta dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Pukul 18.45 tanggal 14 Maret 1980, Hatta meninggal dunia dalam usia menjelang 78 tahun. Jenazah Hatta dibawa ke rumah kediamannya di Jalan Diponegoro 57, Jakarta, dan dimakamkan di Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta.
Diterbitkan di: 12 Januari, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.