Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Biografi>Biografi R. A. KARTINI

Biografi R. A. KARTINI

oleh: ijay     Pengarang : Departemen Sosial RI
ª
 
Sesuai adat istiadat yang berlaku kala itu, pada usia 12 tahun R.A Kartini harus memasuki masa pingitan sehingga tidak bebas keluar rumah dan gerak-geriknya dibatasi. Hal ini merupakan pukulan yang sangat berat bagi jiwanya.

Kegemarannya membaca dapat mengurangi rasa kesepian dan tertekannya. Salah satu buku yang dikaguminya yaitu "Minnebrieven" Multatuli. Ia dapat mengetahui tentang penindasan dan pemerasan terhadap bangsanya serta buruknya kepegawaian dan pendidikan yang dijalankan oleh pemerintah Belanda.

Melalui surat kepada sahabatnya di negeri Belanda, Kartini memprotes dan mengungkapkan rasa jengkelnya terhadap pemerintah yang kurang memperhatikan pendidikan. Ia menuduh pemerintah dengan sengaja membatasi pendidikan untuk rakyat karena takut nantinya tidak ada lagi orang yang mengerjakan sawah dan ladang.

Dari sekian banyak buku yang dibaca yang menceritakan kemajuan dari berbagai negara seperti Belanda dan Jerman, yang sangat terkesan adalah karangan Ny.C.Gekoop yang menguraikan perjuangan Hylda Van Suyenderb membela hak wanita Belanda. Agaknya buku inilah yang mengilhami untuk memperjuangakan emansipasi kaum wanita Indonesia. Di samping itu buku lain yang berpengaruh adalah De Vrouw en Sosialisme (Wanita dan Sosialisme) karangan August Bebel.

Kartini berkesimpulan bahwa Tuhan menciptakan laki-laki dan wanita sebagai makhluk yang sama. Bahkan Kartini yakin bahwa wanita memegang peranan penting dalam kehidupan suatu bangsa. Sebagai seorang ibu., wanita adalah pengajar dan pendidik yang pertama bagi anak-anaknya. Masalahnya ialah wanita yang memikul tanggungjawab yang besar itu masih berada dalam keterbelakangan. Untuk itu perlu diberikan pendidikan, yaitu pendidikan barat dalam hal-hal yang positif yang dapat mengangkat derajat wanita bangsanya, namun nilai budaya asli tetap dipertahankan.

Sebagai puteri Bupati, Kartini juga memperhatikan keadaan masyarakat sekelilingnya terutama rakyat kecil. Melalui artikelnya yang berjudul "Van Een Vergeten Uithoekje" (dari pojok yang dilupakan) Kartini memperkenalkan ukiran kayu Jepara.

Di samping itu, Kartini mengumpulkan para pengukir di Kabupaten untuk disuruh membuat bermacam-macam barang ukiran dan dikirimkan ke kota lain.

Upaya mempopulerkan kerajinan baik dengan mengikut sertakan proses pembuatan batik pada pameran karya wanita di Den Haag tahun 1898. Untuk itu dibuatnya sebuah artikel sebagai pengantar dengan judul "Handschriff Japara" yang mendapat perhatian cukup besar dari masyarakat Belanda. Dari artikel tersebut dimuat sebagai pedoman tentang batik dalam buku "De Batikunst In Nederlandsch en Hare Geshiedanis".

Ia tidak bosan-bosannya memperdalam pengetahuan belajar menulis kepada Ny.Ovink Westenenk (adik Residen Jepara) dan menulis cerita anak-anak kepada Ny Ovink Soer. Cita-citanya belajar ke negeri Belanda untuk belajar menjadi dokter, guru dan mendirikan sekolah untuk gadis-gadis Indonesia dibicarakannya dengan Mr.J.H.Abendanon, Direktur Pengajaran saat berkunjung ke Jepara. Karena usaha itu memakan waktu lama, Kartini tidak berminat lagi belajar ke Eropa, namun berniat belajar ke Jakarta. Sambil menunggu jawaban, Kartini mendirikan sekolah bagi gadis-gadis di Jepara. Sementara itu datang pinangan dari Raden Adipati Djojodiningrat, Bupati Rembang. Jawaban dari pemerintah Belanda tentang dikabulkannya permintaannya belajar di Eropa serta mendapatkan bea siswa sebesar 4.800 Gulden datang. Melalui surat tanggal 17 Juli 1903, Kartini mengusulkan agar beasiswa tersebut diberikan kepada pemuda yang cerdas yaitu Agus Salim.

Tanggal 8 November 1903, Kartini menikah dengan Bupati Rembang dan beberapa bulan setelah menikah jatuh sakit. Dalam keadaan sakit, Kartini melahirkan bayi laki-laki dan tanggal 17 September 1904 ia meninggal dunia.

Surat-surat Kartini untuk teman-temannya di Negri Belanda dikumpulkan oleh M.J.H.Abendanon dan diterbitkan pada tahun 1911 dengan judul "Door Duisternis Tot Licht" (Habis Gelap Terbitlah Terang).

Buku ini terjual habis dan dicetak ulang. Hasil penjualan buku tersebut dikumpulkan dalam Kartini Fonds (dana Kartini) di Den Haag dan digunakan untuk membantu kaum wanita Indonesia.

Jasa Kartini akan tetap abadi dalam sejarah bangsanya, sehingga Pemerintah RI menganugerahinya Gelar Pahlawan Nasional.

Di kala itu, orang-orang yang beruntung mendapatkan akses pendidikan terbatas pada orang-orang berdarah biru. Meski berdarah biru pun, untuk kaum wanita barangkali masih tak lazim. Kini akses tersebut sudah terbuka, meski dalam kenyataannya tetap saja ada yang membatasi wanita yakni kodrat wanita yang membuat wanita enggan-meski tidak dilarang untuk memasuki pendidikan atau dunia tertentu..
Diterbitkan di: 01 April, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.