Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Biografi>Riwayat Pendidikan Syeikh Nawawi Al-Bantani

Riwayat Pendidikan Syeikh Nawawi Al-Bantani

oleh: Firin     Pengarang : Karsudin
ª
 

Riwayat Pendidikan Syeikh Nawawi Al-Bantani
Sejak kecil, Syeikh Nawawi telah menunjukan minatnya yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan, khususnya ilmu agama. Guru pertamanya adalah ayahnya sendiri, Kiai Umar, yang mengajarkan aqidah, Al-qur’an, Bahasa Arab, fiqih dan ilmu tafsir. Selain itu Syeikh Nawawi juga belajar kepada Kiai Sahal di Banten dan Kiai Yusuf di Purwakarta.
1.         Belajar di Pondok Pesantren
Ketika berusia 5 tahun, Syeikh Nawawi bersama saudara-saudaranya mendapat pendidikan agama langsung dari Bapaknya. Ilmu-ilmu yang dipelajarinya meliputi pengetahuan dasar bahasa Arab, Fiqih, Tauhid dan Tafsir.
Setelah 3 tehun belajar pengetahuan-pengetahuan dasar tersebut, Syeikh Nawawi kemudian menimba Ilmu ke beberapa pesantren di Jawa. Bersama kedua saudaranya Tamim dan Ahmad, Nawawi muda berguru kepada KH. Sahal, seorang Ulama Banten yang sangat terkenal pada saat itu. Setelah merasa cukup belajar pada KH. Sahal, ia dan kedua Adiknya merantau dan berguru lagi kepada Raden H. Yusuf di Purwakarta.
2.         Pergi ke Makkah
Pada usia 15 tahun, ia mendapat kesempatan untuk pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji, karena saat itu Indonesia yang namanya masih Hindia Belanda dijajah oleh Belanda, yang membatasi kegiatan pendidikan di Nusantara. Di sana ia memanfaatkannya untuk belajar ilmu kalam, bahasa dan sastra Arab, ilmu hadits, tafsir dan terutama ilmu fiqh.                                                                                                                                                                     Kondisi sosial seperti itulah yang melingkupi kehidupan Syeikh Nawawi al-Bantani, sehingga menggugah hatinya untuk terus mengobarkan semangat juang melawan penjajah, salah satunya dengan keberangkatannya ke mekkah.                                               Apabila dikaji lebih lanjut, ada beberapa faktor yang menyebabkan Syeikh Nawawi al-Bantani berketetapan hati untuk meninggalkan tanah kelahirannya dan pergi  ke Mekkah. Faktor-faktor tersebut antara lain:                                                                                                                           
Pertama, Keinginan untuk menunaikan ibadah haji. Bagaimanapun dan siapapun juga, setiap orang yang beragama Islam, pasti mendambakan untuk menunaikan rukun Islam yang kelima itu. Apalagi didukung realita yang terjadi saat itu bahwa, Pemerintah Hindia Belanda mempersulit masyarakat Islam untuk naik haji dengan cara membuat ordonansi yang bermacam-macam, misalnya ongkos perjalanan yang tinggi dan pembatasan pasfort yang begitu ketat. Namun situasi seperti ini tidak membuat surut keinginan Syeikh Nawawi Al-Bantani untuk membuat paripurna rukun Islam bagi dirinya.
Kedua, keinginan untuk mencari ilmu. Sebagaimana telah diketahui, sejak kecil Syeikh Nawawi memiliki semangat dan kemauan yang tinggi untuk terus-menerus mencari ilmu. Apalagi dengan mempertimbangkan eksistensi kota Mekkah disamping tempat ibadah yang mulia di dalam Islam, Mekkah juga merupakan pusat pendidikan agama. Semangat Syeikh Nawawi untuk mencari ilmu sangat tinggi, sehingga walaupun harus pergi jauh ke Mekkah, ia bersedia untuk menuntut dan mengembangkan ilmu-ilmu agama disana. Di samping itu, minatnya yang besar untuk mengembara mencari ilmu sebenarnya didasari oleh kata-kata mutiara dari imam syafi’i yang berikut ini:
“Tidak sepantasnya bagi orang yang berakal dan berilmu, berhenti belajar. Tinggalkanlah negerimu, pergilah mengembara, kelak engkau akan menemukan pengganti orang-orang yang telah engkau tinggalkan. Bersusah payahlah, karena sesungguhnya kenikmatan hidup akan dapat dirasakan  sesudah menderita dan bersusah payah”.
Ketiga, situasi dan kondisi tanah air yang tidak kondusif bagi perkembangan keilmuan dan keagamaan. Pada saat itu, campur tangan Pemerintah Kolonial Belanda dalam kehidupan sosial agama masyarakat sangat kuat. Setiap gerak-gerik umat Islam selalu diawasi dan di batasi oleh Belanda. Sebagai bukti, pada tahun 1825-1859 M, berbagai ordonansi yang menyangkut perjalanan haji dan penyelenggaraannya diatur sedemikian rupa oleh Pemerintah Belanda dengan tujuan mempersulit perjalanan haji ke Mekkah. Pada saat itu, Belanda memberlakukan ongkos perjalanan haji yang sangat tingi sehingga sulit dijangkau oleh rakyat disertai pembatasan untuk memberikan pasport.
Selama di Mekkah, Syeikh Nawawi menimba ilmu kepada beberapa ulama yang bertempat tinggal di masjid al-Haram. Di situ, Syeikh Nawawi memperdalam segala pengetahuan agama mulai dari Ilmu Kalam, bahasa dan sastra Arab, Ilmu Hadits, Tafsir dan terutama Ilmu Fiqh kepada beberapa guru atau Syeikh di Mekkah, kemudian di Madinah, Mesir dan Syiria.        
Pada saat Syeikh Nawawi berada di Mekkah, ia banyak menjumpai orang-orang Jawa atau Indonesia yang ada di sana. Di Mekkah, orang Jawa terkenal sebagai orang yang soleh, walaupun banyak di antara mereka yang pengetahuan agamanya tidak mendalam rata-rata orang jawa menunaikan haji dengan niatan semata-mata beribadah. Oleh karena itu, pada saat haji, mereka tidak membawa barang dagangan dan tidak juga melakukan bisnis. Sebaliknya, mereka banyak membawa barang tetapi hanya untuk kebutuhan haji. Apabila mereka ingin tinggal lebih lama disana, mereka mengharapkan bekal pinansial dari luar, seperti kiriman dari famili mereka yang ada di kampung halaman. Selain itu, di Mekkah orang Jawa juga sangat di kenal dengan kejujuran dan keikhlasannya. Karenanya, kecuali kepada orang jawa, pedagang Mekkah yang sangat sulit untuk dapat memberikan barang mereka kepada seseorang tanpa jaminan yang cukup.                                                                                                                                                                                                          
Orang Jawa yang sudah berumur biasanya ingin menetap di Mekkah untuk menghabiskan sisa usia mereka sambil beribdah di Tanah Suci, sedang kalangan muda umumnya tingal disana dalam rangka menuntut ilmu agama.

Diterbitkan di: 15 Februari, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Komentar Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

5 Teratas

.