Amerika Serikat adalah tambatan mimpi-mimpi orang-orang dari Amerika Latin. Nyaris alasannya tunggal: kemiskinan yang langgeng.
Mereka datang lantaran mengidamkan kehidupan yang lebih baik ketimbang nasib yang mereka jalani sepanjang hari di negara asalnya.
Gelombang pertama, di tahun 1960-an dan 1970-an, ibu-ibu tunggal dari segelintir negara di Karibia—West Indies, Jamaika, Republik Dominika—pergi ke New York City, New England, dan Florida untuk bekerja sebagai pengasuh anak dan di panti-panti asuhan. Gelombang kedua di 1980-an, perempuan-perempuan Amerika Tengah berjibun menuju pinggiran Washington DC, Houston, dan Los Angeles, tempat pekerja domestik swasta yang menyebabkan jumlah mereka meningkat dua kali lipat.
Enrique’s Journey (EJ) ini tidak membahas itu.
Sonia Nazario memapar tragedi seputar gelombang lanjutan mereka yang berangkat pada gelombang kedua. Modus keberangkatan mereka justru digerakkan oleh cinta. Parahnya, gelombang lanjutan yang menuju ke Utara, Amerika Serikat, adalah anak-anak; yang sekadar ingin menjumpai orang-orang terkasih mereka.
ENRIQUE hanyalah salah seorang dari 48.000 anak yang melakukan perjalanan dari Honduras ke AS dengan menumpang di atas kereta api yang biasa mereka sebut Al Train de la Muerte atau Kereta Api Maut. Sepanjang perjalanan mereka dihantui oleh ancaman pemerasan, pemukulan, pemerkosaan, bahkan pembunuhan oleh para bandit. Beberapa dari imigran gelap itu melakukan perjalanan berhari-hari tanpa makan. Jika kereta berhenti, mereka akan akan merunduk di dekat rel dan meminum beberapa sesap air dari genangan yang telah tercemar dengan minyak mesin.
Dua puluh dua hari setelah keberangkatannya, Enrique kemudian terlihat di Las Anonas, Oaxaca, Mexico. Pemuda itu jalan sempoyong menangis di pinggir rel kereta hanya dengan celana dalam. Tulang keringnya luka parah, bibir atasnya robek, sisi kiri wajahnya bengkak, matanya merah penuh darah. Beruntung ia diselamatkan oleh warga setempat. Pada warga dusun itu ia mengaku bahwa ia menumpang kereta barang lewat Mexico mencari ibunya yang sebelas tahun silam meninggalkannya.
Ia tak kapok. Bersama ribuan anak lainnya, ia melompat antara 7 sampai 30 kereta barang yang melintasi Mexico. Yang paling beruntung berhasil dalam sebulan. Lainnya, berhenti untuk bekerja sepanjang jalan, membutuhkan satu tahun atau lebih. Enrique juga mencoba menyusup masuk ke Negara Paman Sam sampai beberapa kali.
Pertama, ia menempuh kurang lebih seribu mil dari Honduras ke Guatemala lalu Mexico. Tapi petugas menangkapnya dan mengirimnya kembali ke Honduras dengan bus yang mereka namai El Bus de Lagrimas alias Bus Airmata. Armada bus itu berjalan delapan kali sehari, dan setiap tahun mengirim 100.000 imigran yang sedih.
Percobaan kedua, ketiga, dan keempatnya, Enrique baru menempuh perjalanan singkat dan tertangkap. Usaha kelima, ia tertangkap saat berjalan sepanjang rel di utara Mexico City setelah menempuh 838 mil dan hampir sepekan dalam perjalanan. Wajahnya bengkak disengat lebah.
Kali keenam ia nyaris berhasil usai menempuh 1.564 mil. Rio Grande sudah di depan matanya, tapi tertangkap juga. Ia kemudian dikirim ke pusat penahanan El Corralon, Mexico City. Sehari kemudian dikirim pulang. Percobaan ketujuhnya sendiri membawanya ke tangan orang-orang baik hati Los Anonas. Percobaan kedelapannya, Enrique menyeberang air sungai Suchieate yang sedada, pembatas Mexiko dan Guatemala. Ia memakai topi NO FEAR; sebuah bualan besar karena ia sama sekali tak bisa berenang.
Meski sempat ditangkap dan dipenjara di Chiapas, ia kemudian berhasil melarikan diri dengan memanjat dinding bertumpu pada sebuah sepeda. Kenekatannya dipicu sebuah rumor di kalangan imigran bahwa ada kereta yang lewat pada pukul 10 pagi. Pada hari itu, 24 Maret 2000, Enrique berada di antara anak-anak yang berlari di samping gerbong barang yang bergerak.
Kereta-kereta itu memang disebut Kereta Maut. Ada pula yang menyebutnya El Tren Peregrino, Kereta Penziarah. Tapi Enrique kagum pada keajaiban kereta itu karena kemampuannya untuk mengantarnya pada ibunya. Maka ia menamainya El Caballo de Hierro, Kuda Besi.
Pada 18 Mei, di Neuvo Ladero, dia terjaga dan mendapati sepatu kanannya dicuri seseorang. Sepatu sama pentingnya dengan makanan dan nomor telepon ibunya. Untuk perjalanan kali ini saja, ia telah memakai tujuh pasang sepatu. Dia telah membeli, meminjam, bertukar. Semuanya telah robek dan dicuri. Bahkan ia sempat tertangkap karena tak tahan lari telanjang kaki di atas kerikil tajam sekitar rel. Untung ia lihat sebuah sepatu karet terapung di tepi sungai. Sebuah sepatu untuk kaki kiri.
Sepatu itu kemudian ia pakai mengemis dan menawarkan jasa mencuci mobil. Uang itulah yang kelak dipakainya untuk menelepon ibunya. Ia tahu itu bisa berhasil karena seorang pastor membiarkan para migran menelepon dari gereja bila migran punya kartu telepon. Dua sepatu itu pula yang jadi menguatkan hati Lourdes, ibunya, untuk mentransfer uang untuk penyedia jasa penyelundup imigran yang meminta lebih ketika si penyelundup telah bersama Enrique.
“Sepatu macam apa yang kamu pakai?” tanya Lourdes.
“Dua sepatu kiri,” kata Enrique. Mendengar itu, ketakutan Lourdes surut. Ini Enrique, katanya dalam hati.
Buku ini referensi penting penghayat jurnalisme. EJ, buku pemenang feature
Pulitzer 2003 lalu, tentu juga memang menjadi jaminan bagi kita untuk menelusuri petualangan Enrique yang sampai pada ibunya dengan dua sepatu kirinya.
Tualang Enrique dalam perjalanan yang brutal itu rupanya hanya membawa satu hal yang selalu disimpannya erat-erat dan seakan hendak berbicara lirih pada kita semua, seperti yang ia katakan pada adik tirinya, Diana, ”Aku punya rahasia yang harus kuceritakan padamu: aku mencintaimu.”<>