Buku yang ditulis oleh Simon Saragih yang berjudul
Ketekunan dan Hati Putih Barack Obama ini menyajikan rangkaian
kehidupan Barack Obama mulai dari tataran yang terendah--sebagai orang dari kalangan minoritas--hingga pada akhirnya sebagai Presiden dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat pada bulan November 2008 yang lalu. Buku ini mencoba merangkum komentar orang-orang mengenai kualitas yang menyelamatkan Obama dari potisi pas-pasan yang hanya pandai berpidato tanpa tindakan nyata. Banyak hambatan dan tantangan yang harus dilalui hingga pada akhirnya ia mencapai karir tertinggi sebagai orang nomer satu di Amerika Serikat. Dilahirkan dari orang tua campuran--bapak seorang keturunan kulit hitam dari Kenya dan ibu seorang wanita berkulit putih, Obama memiliki pemikiran terhadap multi ras. Setelah menempuh pendidikan dari Universitas Columbia dan Harvard, Obama mengawali pekerjaannya sebagai lawyer (pengacara) yang sangat terkenal. Dia banyak berkecimpung di organisasi yamg membantu masyarakat miskin perkotaan (
urban poor). Persentuhannya dengan masyarakat miskin inilah yang membekali dirinya pemahaman tentang penderitaan rakyat kecil. Konsep kepemimpinan Obama banyak diilhami oleh konsep yang dianut oleh Abraham Lincoln yang dimasa pemerintahannya menghapus prakti perbudakan di Amerika Serikat. Dia seringkali mengutip kalimat kalimat dari pidato Lincoln bila dia menyampaikan pidatonya dihadapan publik. Dalam setiap pidatonya dia dengan konsisten selalu menyatakan anti diskriminasi. Namun Obama tidak terjebak dalam keterpihakan yang tidak seimbang terhadap masyarakat kulit hitam. Itu yang menyebabkan daya kata-katanya bertuah. Bagi Obama, argumen pertama bagi sebuah visi politik adalah alur tindakan politik dan pribadi pada masa lampau dan bukan pada logika dan permainan bahasa. Menurut Jim Margolis Obama adalah kombinasi dari banyak hal yang terbungkus dalam keotentikan yang mampu menghadirkan Obama sebagai figur kebaikan yang nyata sebagai sosok seorang pemimpin (hal. 283).