INTERVIEW WITH KIM JONG KWAN
Summary ratings: 3 stars
(xx voters)
Kunjungan:
88
kata:
900
Diterbitkan di: Desember 08, 2007
Kim Jong Kwan lahir di Seoul pada
tahun 1975, lulus dari Seoul Institute of the Arts. Beberapa film
pendeknya menang di festival film di Korea. Filmnya “Monoloque #01”
berhasil masuk di sesi tiger competition untuk short film di Festival
Film Roterdam 2007. Sekarang dia sedang mempersiapkan film panjang
pertamanya, A boy.Selected Filmografi :1. Wounded (2002)2. Tell Her I Love Her (2003)3. How to Operate a Polaroid Camera (2004)4. Slowly (2005)5. Lonely Season (2006)6. Monoloque #01 (2006)7. Waiting (2007)Berikut
rangkuman pembicaraan saya dengan Kim Jong Kwan selama di Almaty dan
Seoul, tentang dirinya dan film. Dia tidak bisa berbahasa Inggris dan
saya tidak bisa berbahasa Korea.Ifa (I) : Siapa Jong Kwan?Jong
Kwan (JK) : Jong Kwan adalah sutradara. Saya nggak suka disebut
sutradara film pendek atau film panjang, film independen atau film
dengan perusahaan besar, saya nggak begitu peduli. Karena saya sangat
mencintai film, jadi sebut aja bahwa Jong Kwan adalah sutradara. Dua
tahun yang lalu saya hanya ingin membuat film pendek dan saya suka
sekali menyebut diri saya sutradara film pendek. Tapi setelah itu saya
mulai ada keinginan bahwa saya harus membuat film panjang, walaupun
saya tetap suka dan akan terus membuat film pendek.I : Kapan ada keinginan membuat film panjang?JK
: Setetah nonton film “Nobody’s Knows”. Filmnya Kore-eda Hirokazu dari
Jepang. Kamu juga harus nonton! (setelah itu Jong Kwan memberi saya DVD
film itu, karena dia punya dua)I : Mmh..Ok..Kamu sutradara yang bagaimana?JK
: Buat saya film adalah kebebasan, saya hanya ingin bebas berkarya. Dan
yang terpenting terpenting dalam membuat film adalah Mind Set, cara
berpikir kita. Saya nggak terlalu suka dengan teknis. Pada saat akan
membuat film, hal yang penting dilakukan oleh sutradara adalah memilih
kru. Pilihannya hanya baik dan buruk. Kalo baik kita ambil, yang buruk
kita buang. Tapi baik dan buruk itu bukan teknis, tapi Mind Set, cara
berpikir kru. Banyak Kru film di korea yang profesional secara jam
terbang, tapi amatir secara cara berpikir, saya nggak suka. Dan dalam
membuat film saya selalu membebaskan pemain saya, dan saya hanya
menangkap emosinya, just catch the emotions! Maka dari itu saya harus
percaya kepada pemain saya, dan pemain juga harus percaya pada saya.
Begitu juga saya dengan kru. Kalo saya pikir baik, tapi kru (DOP dan
Astrada) pikir yang saya lakukan tidak baik, akan saya buang. Saya
sangat percaya kru yang saya pilih.I : Tentang Film kamu?JK
: Beberapa film saya sangat personal. Kamu sudah liat sendiri “How to
operate a polaroid camera”, “Lonely season”,”Good Bye”..dan film saya
yang lain..beberapa sangat personal. Bahkan saya belum ijinkan kamu
melihat film saya yang pertama, walaupun kamu udah memaksa aku sampai 7
kali selama di Almaty ataupun Seoul. Saya baru ijinkan kamu liat film
itu setelah kita besok bertemu lagi. “How to operate a polaroid camera”
itu cerita tentang frame pertama yang saya ambil, usiaku baru 5 tahun.
Di foto itu adalah ayah dan ibuku. “Monologue #01” tentang pacarku
dulu, tidak semuanya, hanya sebagian cerita. Saya pikir mood film saya
nggak beda sama filmmu. Saya suka dan mengagumi sekali “half teaspoon”.
Dari film itu saya merasa sangat mengerti arti film buat kamu, apalagi
setelah saya tahu pemainnya adalah orang2 di sekitar kamu, bahkan ayah
kamu. Dan kru adalah teman-teman kamu. Aku pikir film memiliki arti
yang sama buat aku dan kamu.I : Mungkin..Project selanjutnya?JK
: Dua tahun yang lalu saya kontrak dengan MK Pictures (sebuah
perusahaan besar di korea, yang memproduksi Tae Guk Ki, dll) untuk
sebuah film panjang pertama saya “A Boy”, tapi kondisi industry film
korea sekarang sedang nggak bagus. Mungkin baru akan di produksi summer
2008, kemaren udah dapet support dari cinemart di Roterdam Festival
2007. Lalu MK minta saya untu membuat “A boy” menjadi low budget, saya
nggak mau. Akhirnya saya menulis cerita lagi “memory” dan akan di
produksi dengan HDkamera winter tahun ini. Beberapa perubahan harus
dilakukan di script saya, saya lakukan karena tidak banyak perubahan
dan saya masih ikhlas. Produser ingin mencari uang, saya harus merubah
script untuk membuat lebih banyak uang. Saya mau melakukan selama saya
masih bebas. Dua tahun yang lalu MK mengkontak saya pertama kali untuk
menyutradarai “Ice Bar” (sebuah film di korea yang sudah release tahun
lalu). Dan saya bilang nggak mau karena saya nggak suka scriptnya. Jadi
saya akan menyelesaikan “Memory” Winter 2007 ini dan selanjutnya “A
Boy” di Summer 2007.