Kesederhanaan sikap dan kerendahan hati yang menjadi dasar
kehidupan doa seseorang berangkali adalah hal-hal yang semakin lama semakin tipis seiring
dengan merambatnya usia dan bertambahnya pengetahuan.
Padahal kita
telah diberitahu bahwa jika seseorang tidak datang kepada Allah dengan cara ''... seperti anak kecil ini...'', ia tidak layak bagi-Nya. Komunikasi dengan Allah ternyata membutuhkan keterbukaan dan kejujuran seorang anak kecil, yang akan mengatakan apa pun yang ada di
dalam hatinya, tanpa dihalang-halangi rasa serba ''sudah tahu'' atau ''sudah benar''. Dan juga tidak dihalang-halangi perasaan berdosa dengan membandingkan keadaan diri dengan norma-norma tertulis yang berlaku dalam kehidupan duniawi antar manusia di mana orang itu berada.
Dalam hal-hal ini, barangkali tepatlah jika kita harus belajar dari kesederhanaan seorang anak kecil bernama Therese Martin, yang dilahirkan pada tanggal 2 Januari 1873. Dalam masa hidupnya di dunia
ini yang hanya 24 tahun, ia membangun sebuah kehidupan yang layak dijadikan contoh bagi kehidupan doa seluruh dunia. Ia yang senantiasa mencari kesepian, ramai dipuji orang di dalam Gereja dari tahun 1900 sampai 1950-an.
Dalam Gereja Katolik yang sekarang, minat yang bernyala-nyala tentang kehidupan St. Teresia agak berkurang. Tetapi toh ajaran-ajarannya telah dismpaikn, dan telah menjadi milik umum. Gagasan-gagasannya bukan gagasan yang baru lagi, tetapi menjadi begitu biasa karena telah meleur dengan kehidupan umat, sehingga sering tidak disadari apa buah karya St. Teresia bagi kehidupan kita semua.
Dengan cara sederhana yang mudah dipahami semua orang, St. Teresia telah mendekatkan kita dengan Kitab Suci. Ia membantu orang megatasi rasa takut di hadapan Allah, dengan menekankan arti kebersamaan dan kesederhanaan bahwa setiap orang dengan usaha yang biasa saja dapat hidup di tengah-tengah masyarakat sebagai seorang Kristen.
Buku Seri Teresiana 3, yang berjudul ''Tangan Kosong'' ini berkisah tentang kehidupan St. Teresia dari Lisieux. Judul tersebut adalah kutipan dari kata-kata terakhir St. Teresia yang berbunyi, "
Pada malam hidup ini aku akan datang di hadapan-Mu dengan tangan kosong. Dengan tangan kosong. Terbuka lebar untuk Allah..."
St. Teresia wafat pada tanggal 30 September 1897, sekitar jam tujuh lewat beberapa menit. Kata-katanya yang terakhir adalah, "
Ya Allahku, aku mencintai Dikau!"
Edisi bahasa Indonesia ini diterbitkan oleh:
Penerbit Kanisius (Anggota IKAPI).
Jl. Cempaka 9, Deresan.
Yogyakarta 55281.
Telp. (0274) 88783.
Fax. (0274) 63349.
E-mail: office@kanisius.co.id.
Dan Penerbit NUSA INDAH.
Ende - Flores.
Resensi lain tentang Tangan Kosong, Teresia dari Lisieux