Agustinus lahir pada tahun 354 di Thagaste (sekarang Souk Ahras di Aljazair Timur, sekitar 60 km dari pantai), sebuah kota kecil bagian propinsi Romawi di Afrika (Tunisia, sebagian Aljazair, dan sebagian Libya). Dia lahir ketika kekuasaan Romawi masih cukup kuat di negeri-negeri sekitar Laut Tengah dan ke arah utara sampai ke tembok Hadrian, dan perbatasan Rhine dan Danube.
Agustinus sangat akrab dengan ibunya, yaitu Monika, yang saleh dan agak posesif, tetapi agak dingin ketika menceritakan tentang ayahnya Patricius. Keluarganya tidak begitu kaya, namun Agustinus bisa melanjutkan studi ke Universitas Karthago berkat bantuan tetangganya yang kaya. Di sana ia mempelajari retorika, seni berbicara dan menulis Latin dengan lancar dan benar, berdasarkan studi yang teliti terhadap model-model sastra terbaik pada saat itu. Seperti juga dunia pendidikan dan model atau trend yang berkembang saat ini, pada waktu itu pelajaran tersebut sangat berguna bagi kalangan penguasa di lingkungan kekaisaran, dan tentunya bagi mereka yang berminat untuk masuk ke dalam kalangan itu.
Sebagai mahasiswa yang cerdas, Agustinus menyelesaikan studinya dengan baik, dan iapun mengajarkan mata pelajaran itu serta memegang jabatan penting dalam bidang retorika di Karthago, Roma, dan akhirnya di Milano. Sebenarnya pada saat itu masa depan yang baikpun sudah di depan matanya, namun di sisi lain ia juga mengalami krisis religius yang sebenarnya sudah dimulai pada thun 373, yaitu pada saat membaca sebuah karya Cicero yang diwajibkan untuknya di Universitas. Karya tersebut membawanya bertualang mulai dari mengikuti sebuah sekte semi-Kristen bernama Manikheis, yang didirikan oleh seseorang bernama Mani di Persia satu abad sebelumnya.
Sebagai orang yang datang dari keluarga Kristen, Agustinus pun sebenarnya tidak pernah berniat meninggalkan kepercayaannya, tetapi kaum Manikheis ini menaruh perhatian yang mendalam terhadap surat-surat Santo Paulus, dan juga mengaku sebagai orang Kristen.
Seperti kabanyakan anak muda lain, Agustinus juga mengalami dorongan-dorongan nafsu seksual dan sekaligus perasaan bersalah di dalam kehidupan seksualnya, sehingga dengan wajar ia menjadi sangat terkesan dengan praktek penyangkalan seksual dan tawaran kemurnian oleh anggota-anggota kelompok itu. Tambahan lagi, dalam kelompok tersebut para anggota yang digolongkan kelompok ''kelas dua'' hanya wajib mendengar dan menghormati, serta mendukung praktek penyangkalan diri segelintir orang yang menjadi anggota kelompok ''VIP'', tanpa ada keharusan untuk menirunya. Sebuah keuntungan besar bagi seorang Agustinus muda. Dengan demikian ia masih bisa melanjutkan kariernya dan juga meelihara ''gundiknya''.
Setelah beberapa lama terlibat dengan kelompok ini, petualangan religius Agustinus pun masih berlanjut dengan kelompok lain yang bukan merupakan aliran utama dari ajaran Gereja, tetapi betapapun juga setelah terlepas dari kelompok Manikheisme, iapun memilih untuk menerima pembaptisan.
Setelah mengalami pergumulan yang panjang, akhirnya iapun ditahbiskan menjadi imam pada tahun 391, dan segera setelahnya iapun menulis sebuah teks yang diberi judul The Usefulness of Belief . Buku tersebut mengatakan bahwa landasan pengetahuan akan Allah bukanlah pengalaman maupun penalaran, melainkan kepercayaan akan kuasa mengajar Gereja.
Edisi bahasa Indonesia ini diterbitkan oleh:[BR]Penerbit Kanisius (Anggota IKAPI).[BR]Jl. Cempaka 9, Deresan.[BR]Yogyakarta 55281.[BR]Telp. (0274) 88783.[BR]Fax. (0274) 63349.[BR]E-mail: office@kanisius.co.id.[BR]