Cara Berkhotbah Yang Baik
Summary rating: 3 stars
36 Tinjauan
Kunjungan:
800
kata:
900
Diterbitkan di: Mei 16, 2007
Buku ini merupakan edisi revisi setelah sebelumnya diterbitkan pada tahun 1997. Buku Cara Berkhotbah yang Baik merupakan salah satu buku pedoman untuk mengembangkan dan menyampaikan khotbah ekspositori di antara sekian banyak buku yang beredar saat ini. Menurut Haddon prosedur pokok dalam khotbah ekspositori adalah khotbah-khotbah harus membawa ide-ide atau khotbah-khotbah itu hampa. Melalui buku ini juga, kita diberikan daftar buku-buku lain untuk studi lebih lanjut. Buku ini memberikan suatu metode kepada mereka yang belajar berkhotbah atau kepada orang-orang berpengalaman yang ingin mempelajari hal-hal dari dasar. Sepuluh bab dipaparkan dalam buku ini. Mulai dari bab 1 tentang Kedudukan Khotbah Ekspositori, bab 2 tentang Apakah Ide Besar itu?, bab 3 tentang Sarana-sarana Kerja, bab 4 tentang Langkah dari Teks Menuju Khotbah, bab 5 tentang Kekuatan Tujuan, bab 6 tentang Bentuk-bentuk Khotbah, bab 7 tentang Membuat Tulang-tulang Kering Menjadi Hidup, bab 8 tentang Mulailah dengan Semangat dan Sudahilah di mana Perlu, bab 9 tentang Gaya Pemikiran, dan bab 10 tentang Cara Berkhotbah Sehingga Jemaat Mau Mendengar.
Khotbah dalam pandangan Paulus bukan aktivitas seseorang yang sedang mendiskusikan masalah keagamaan. Tetapi sebaliknya, Tuhan secara pribadi berbicara lewat pesan yang disampaikan seorang pengkhotbah dan bertujuan untuk membawa jemaat yang menjadi pendengarnya semakin dekat pada Tuhan. Khotbah ekspositori merupakan komunikasi atas suatu konsep Alkitabiah yang diperoleh dan disampaikan melalui suatu studi historis, gramatikal, dan kesusastraan atau suatu nukilan Alkitab sesuai dengan konteksnya, yang pertama-tama diterapkan oleh Roh Kudus kepada pribadi dan pengalaman pengkhotbahnya, baru kepada para pendengarnya. Khotbah ekspositori pada intinya lebih menonjolkan filsafat daripada metode. Pembedaan yang dilakukan antara mempelajari Alkitab untuk menyiapkan khotbah dan mempelajari Alkitab untuk memberi makan pada rohaninya sendiri merupakan hal yang menyesatkan dan keliru. Tuhan lebih menginginkan pertumbuhan para pengkhotbahnya daripada pesan itu sendiri, dan karena Roh Kudus menjumpai manusia utamanya lewat Alkitab, maka seorang pengkhotbah harus belajar mendengarkan Tuhan sebelum ia berbicara bagi Dia.
Dalam menyiapkan sebuah khotbah kita memerlukan persiapan. Tahap 1 adalah kita memilih nukilan Alkitab yang akan dikhotbahkan. Tahap 2 adalah kita mempelajari nukilan Alkitab dan mengumpulkan catatan-catatan. Tahap 3 adalah sementara kita mempelajari nukilan Alkitab, hubungkanlah bagian-bagian untuk menentukan ide eksegetikal dan pengembangannya. Pertanyaan yang dapat kita ajukan meliputi 5 W dan 1 H yaitu Who, What, When, Where, Why dan How. Tahap 4 adalah kita memasukkan ide eksegesis pada tiga pertanyaan-pertanyaan pengembang. Tahap 5 adalah kita mengingat pengetahuan dan pengalaman pendengar, lalu memikirkan ide eksegetikal dan nyatakan setepat dan sesingkat mungkin dalam kalimat. Tahap 6 adalah kita harus menentukan tujuan suatu khotbah. Tahap 7 adalah untuk berpikir tentang ide homilitik, tanyakan kepada diri sendiri bagaimana ide itu harus dipegang untuk menyelesaikan tujuan. Bentuk khotbah dapat dibagi menjadi 3 macam yaitu deduktif, semi induktif, dan induktif. Khotbah-khotbah naratif akan lebih efektif jika pendengar dapat mendengar cerita dan mengambil ide-ide pembicara tanpa pembicara menyatakannya secara langsung. Tahap 8 adalah setelah memutuskan bagaimana ide harus dikembangkan guna menyempurnakan tujuan, selanjutnya buatlah kerangka khotbah. Tahap 9 adalah mengisi kerangka dengan materi-materi pendukung yang menjelaskan, membuktikan, menerapkan, atau menguatkan poin-poin tersebut.
Pengantar dan kesimpulan memiliki makna penting dalam suatu khotbah terlepas dari proporsi panjang pendeknya. Apabila firman Tuhan dibacakan sesudah pengantar, pendengar akan memiliki suatu alur pikiran yang membantu mereka untuk memperhatikan bacaan. Tahap 10 adalah menyiapkan bagian pengantar dan penutup khotbah. Sebuah pengantar yang efektif menarik perhatian, mengungkap kebutuhan-kebutuhan, memperkenalkan bagian isi khotbah. Bagaimanapun kita memulai, kita harus menjadikan sebagian besar dari 25 kata-kata pertamanya alat untuk menarik perhatian. Ada tiga tipe pengkhotbah yaitu mereka yang tidak dapat kita dengarkan, mereka yang dapat kita dengarkan, dan mereka yang harus kita dengarkan.
Naskah-naskah khotbah yang jelas berkembang dari rangkaian kerangka yang jelas. Ketepatgunaan khotbah-khotbah kita bergantung pada dua faktor yaitu apa yang kita katakan dan bagaimana kita mengatakannya. Mata, tangan, wajah, dan kaki mampu berbicara kepada jemaat sebanyak kata-kata yang kita ucapkan bahkan lebih. Pakar ilmu jiwa Albert Mehrabian merincinya dalam sebuah formula. Hanya 7% pengaruh pesan pembicara lewat kata-katanya, 38% timbul dari suaranya, dan 55% dari ekspresi wajahnya. Beberapa observasi dapat ditarik dari riset yang menghubungkan antara pengkhotbah dan khotbahnya. Pertama, bahasa non-verbal memiliki peran yang strategis dalam komunikasi di depan umum. Ketika kita menyapa jemaat, ada tiga jaringan komunikasi yang berbeda yang berjalan pada waktu yang sama yaitu kata-kata kita, intonasi kita, dan gerak tubuh kita. Ketiganya mengkomunikasikan ide-ide. Kedua, riset dan pengalaman menunjukkan hal yang senada bahwa jika pesan-pesan non-verbal berlawanan dengan yang verbal, maka pendengar mungkin akan lebih percaya bahasa bisu tersebut. Ketiga, penyampaian yang efektif diawali dengan hasrat.
Menurut saya buku ini baik sekali bagi pemula yang rindu untuk belajar bagaimana cara berkhotbah khususnya jenis ekspositori, tetapi buku ini juga baik untuk yang sudah biasa berkhotbah yaitu untuk semakin memantapkan khotbahnya. Bagi saya, buku ini merupakan salah satu buku yang terlengkap yang memaparkan mengenai khotbah jenis ekpositori. Biarlah buku ini juga dapat membantu kita untuk terus bertumbuh dalam DIA dan membuat kita semakin baik dalam menyampaikan khotbah. SOLI DEO GLORIA