MUSIC LELUHUR BARU ( manifes no. 2) paul gutama soegijo Music leluhur baru adalah menyulut
sekelumit kehasratan untuk menyulut bara harapan masa depan, adalah keberhasilan menegakkan suatu identitas, dan adalah penemuan secukilan kemesraan yg bernama individualitas didalam wajah amorf
globalisasi kebudayaan dan peradaban. Music leluhur baru tak berteriak, tak berniat menyaingi, apalagi menanggulangi kekerasan seruan mendunianya musik popular yang datang dengan gagah berani dalam aneka ragam logat kebangsaannya sebagai musik gaya turki atau mencuat sebagai rap gaya pasundan. Musik leluhur baru adalah percikan kecil arus balik menentang gelombang musik popular yang melanda dalam keseragaman bunyi harmoni diatonik, sistem pernadaan yang pernah disebarluaskan oleh para misionaris. Penyebaran diatonik pada abad – abad kolonisasi bangsa-bangsa berwarna adalah gelombang globalisasi kebudayaan yang pertama. Demikian kini sistem do-re-mi-fa-sol-la-si-do'' sudah menjadi kaprah, menjadi milik bersama, dapat dikatakan milik dari
seorang buruh pelabuhan diPapua Nugini maupun seorang pemburu beruang putih dipadang salju Alaska maupun seorang pedagang anggur di bordeux dan begitu selanjutnya. Music leluhur baru tak menggugat status quo tersebut, Cuma ingin menunjukan identitas memihak dan kesetiakawanannya terhadap musik-musik indigen dunia non-barat yang semakin tergusur oleh globalisasi peradaban dan kebudayaan industrial. Diantara gelora masih berkobarnya tradisi-tradisi gamelan, tradisi musik gagaku atau renaissans gendangan ritual malinke ,dan diantara perasaan was-was akan makin memudarnya api tradisi gamelan ajeng di karawang, seni vokal ba-benzele suku pygmi di Afrika Ekuator dan ratusan jenis music leluhur yang terpojok di segala pelosok dunia. Music leluhur yang dipertaruhkan pada inovasi pembauran musik indigen.