Kolodete: Sebuah Anakronisme Budaya
Summary rating: 2 stars
4 Tinjauan
Kunjungan:
369
kata:
600
Diterbitkan di: Februari 26, 2007
(KIAI) KOLODETE Sebuah Culture Identity yang Harus Mengalami Anakronisme di Dalam Mitos dan Kepercayaan Komunitas Dieng, Wonosobo, Banjarnegara, dan Temanggung.
Kolodete sebagai Identity Culture
Identity Culture (meminjam istilah yang dikemukakan oleh Prof. Tjetjep Rehendi Rohidi) pasti diperlukan oleh setiap komunitas karena komunitas tersebut dituntut harus memiliki satu sosok yang “dimitoskan” atau bahkan yang dianggap sebagai karakter super sakral. Kebutuhan yang sangat mendesak tersebut seringkali mengambil karakter dalam sejarah nyata umat manusia yang sayangnya justru lebih banyak mencerabut nilai-nilai asli dari karakter yang dikultuskan; alih-alih sebagai proses sastrawi yang memang dengan penuh kesadaran memoles alur sedemikian rupa, ia justru cenderung merupakan penulisan kasar sebuah cerita berdasarkan folklore yang berkembang di masyarakat tanpa dilandasi keilmuan yang memadai sehingga sebagai akibatnya, terjadi anakronisme dan pencitraan ngawur yang kemudian disepakati oleh masyarakat secara luas lalu disahkan oleh otoritas yang berkuasa, klop sudah penderitaan sejarah nyata umat manusia.
Pemelencengan pencitraan seperti ini tidak lah semata dialami oleh tokoh riil semisal Bung Karno, Nagabonar, maupun tokoh sejarah kerajaan semisal Mas Karebet, tetapi juga menerpa mitos dan legenda simbolis semisal Kolodete dan Prabu Anglingdarmo. Sebagai sebuah culture identity Kolodete oleh masyarakat pendukung kebudayaannya (Dieng - saya pisahkan Dieng sebagai entitas budaya tersendiri dari kabupatennya, Wonosobo, Banjarnegara, dan bahkan Temanggung – “daerah yang terlupakan”) dicitrakan sebagai sosok pelindung (dalam arti harfiah) anak-anak berambut gembel serta wilayah Dieng, Wonosobo, dan Banjarnegara pada umumnya. Sosok tersebut dicitrakan pula sebagai guru dua orang sesepuh lain yaitu Kiai Karim yang berada di daerah Kalibeber dan Kyai Walik yang menguasai sekitar kota Wonosobo sekarang ini. Bahkan seperti halnya mitos-mitos penguasa daerah yang ada di tanah Jawa ini, ia juga digambarkan sebagai mempelai dari Ratu Kidul yang setiap tahunnya akan ikut menari di pertunjukan Lengger (atau istilah aslinya adalah Legger) di atas panggung yang mengambang di tengah-tengah Telogo Balekambang.
Bagaimanakah kisah Kolodete sebenarnya? dan apa hubungannya dengan kisah Baru Klinting di Rowo Pening?Nikmatilah perjalanan kisah yang terbalut Anakronisme selengkapnya...