Daniel masih remaja saat diambil dari rumahnya dan dipaksa
untuk menjadi pelayan di rumah orang paling berkuasa di dunia. Dia adalah seorang tawanan Israel yang hidup di
tengah orang-orang yang sibuk menghancurkan kehidupan bangsanya. Tantangan, tipu daya, dan bahaya selalu ada di sekitarnya dan memaksa Daniel untuk menyeimbangkan antara menjaga keselamatan dirinya dengan kesetiaan dan pelayanan yang ingin dia lakukan bagi
Tuhan. Namun Daniel bukannya
tidak berdaya. Dia
memiliki keberanian dan kebijaksanaan, dia memiliki kemampuan untuk menerjemahkan penglihatan dan mimpi, dia memiliki Tuhan Yang Maha Kuasa di pihaknya. Sedangkan Babylonia, tidak mengakui Tuhan ataupun melayaniNya. Mereka punya agama
sendiri, Tuhan sendiri, dan tidak ada alasan untuk mentolerir pandangan dari sebuah bangsa yang baru saja mereka kalahkan. Tidak ada manusia yang dapat bertahan sendiri di tengah keadaan yang begitu kontras dan tetap hidup. Tetapi Daniel bertekad melakukan hal itu. Situasi yang kontras inilah yang menjadi latar belakang konfrontasi dramatis yang terjadi dalam buku ini. Di tengah konfrontasi-konfrontasi ini, Tuhan diungkapkan sebagai Tokoh utama. Penguasa berganti, kerajaan runtuh, dan tuhan-tuhan yang disembah oleh penguasa Daniel datang dan pergi. Namun di tengah semua perubahan itu, hubungan antara Tuhan dan Daniel berketerusan dan jelas.
Resensi lain tentang Daniel