Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Misteri Dzikir

Misteri Dzikir

oleh: ADIOZ     Pengarang: Muhammad Khatib; S.Pd; I
ª
 
  • Kalimat Hasbunallah Wa Ni'mal Wakil merupakan kalimat sederhana, namun mengandung makna yang luar biasa. Dzikir ini menandakan bahwa seorang hamba hanya pasrah pada Allah dan menjadikannya sebagai tempat bersandar. Ibnu Abbas berkata bahwa “hasbunallah wa nikmal wakil” adalah perkataan Nabi Ibrahim AS ketika beliau ingin dilempar di api. Nabi Muhammad SAW, juga bersabda, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka” Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung” (HR. Bukhari No. 4563)

    Misteri Dzikir “Hasbunallah Wa Nikmal Wakil” adalah barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (QS. Ath-Thalaq 3)

    Buku ini mengupas misteri makna dibalik kalimat dzikir sederhana itu, sehingga kita bisa memahaminya. Selanjutnya, kita megamalkannya dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai sukses hidup, didunia dan kebahagiaan di akhirat. Amin.


    Memahami Tawakkal Secara Benar

    Sebagian orang menganggap, tawakkal adalah sikap pasrah tanpa melakukan usaha sama sekali. Mereka berkeyakinan bahwa apapun yang dilakukan manusia tidak ada pengaruhnya terhadap takdir yang sudah ditentukan, sehingga mereka pasrah pada nasib. Contohnya, ketika sakit, mereka enggan meminum obat. Ketika miskin, mereka tidak mau bekerja keras untuk mengubah keadaannya. Ketika malam hari mereka membiarkan pintu rumahnya terbuka. “ aku tawakkal kepa Allah SWT”. Apakah itu disebut tawakkal ?

    Selama ini kita memahami tawakkal adalah menyerahkan segala sesuatu kepada Allah SWT dengan membabi buta. Akibatnya, kita menjadi pemalas, tak mau melakukan sesuatu yang dapat mengubah keadaan. Sekali berusaha kemudian gagal tidak bersedia lagi untuk bangkit lalu berlindung pada alasan tawakkal.

    Tawakkal itu merupakan amalan hati, tidak terkait dengan anggota badan. Anggota badan harus tetap beraktivitas seolah tidak ada tawakkal. Namun hati terus menerus berharap kepada Allah. Keyakinan kita harus tetap kuat bahwa segala sesuatu itu Allah yang menentukan.

    1. Makna Tawakkal :

      Makna tawakkal berasal dari bahasa Arab yang berarti mewakilkan atau menyerahkan urusan kepada orang-orang lain. Dalam islam, tawakkal ialah menyandarkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.

    2. Puncak Tawakkal

      Tanda seorang tawaakkal ialah menenangkan jiwanya dari kesedihan. Setelah itu merencanakan sesuatu dengan matang. Jika kita merencanakan masa depan, maka hal itu tidak bertentangan dengan tawakkal.

  • Ma'rifatullah

    Ma'rifatullah berasal dari kata ma'rifah dan Allah. Mengenal Allah bukan melalui zat Allah tetapi mengenal-Nya lewat tanda-tanda kebesaran-Nya (ayat-ayatNya). Menurut paham ulama sufi bahwa secara fitrah semenjak dilahirkan manusia telah dibekali sebuah kesadaran bahwa dirinya memiliki Tuhan, atau yang disebut dengan naluri ketuhanan. Hal ini telah dijelaskan dalam Al Quran.

    Apabila kita telah mengenal Allah (makrifatullah), maka kita memperoleh kekuatan iman dan taqwa kepadaNya. Sehingga kita bisa merasakan ketenangan bathin dan mewujudkannya dalam amal perbuatan baik. Hal itu menyebabkan kita mendapat manfaat yang besar didunia maupun di akhirat. Manfaat didunia:

    a. Al-Hurriyah (Kebebasan) dan Al-Amn (Keamanan)

    Kita akan terbebas dari keterikatan dan ketudukan kepada selain Allah SWT. Dengan mengenalNya sebagai Dzat Pemberi rezeqi kita terbebas dari sifat tamak dan ketergantungan kepada orang lain. Kita juga merasa aman karena mengetahui dan meyakini bahwa Allah SWT adalah pengatur segala sesuatu, tidak ada yang terjadi melainkan atas kehendakNya. Keyakinan itulah yang menyebabkan kita mendapatkan perlindunganNya.

    b. Ath-thua'niinah (Ketenangan)

    Allah SWT akan memberikan ketenangan hidup kepada siapa saja yang dikehendaki, yaitu orang-orang yang senantiasa berdzikir kepadaNya. Mereka bisa melakukannya dikarenakan telah mengenal Allah dengan baik

    c. Al Barakat (Keberkahan)

    Setiap orang tentu saja ingin memperolehkeberkahan hidup secara harfiyah, berkah berarti an-nama' waz ziyadah yakni tumbuh dan bertambah. Ini berarti berkah adalah kebaikan yang bersumber dari Allah yang ditetapkan terhadap sesuatu sebagaimana mestinya sehingga apa yang diperoleh dan dimiliki akan selalu berkembang dan bertambah besar manfaat kenaikannya.

    d. Hayatan Thayyibah (Kehidupan yang Baik)

    Masing-masing orang memiliki pandangan tersendiri terhadap hakikat kehidupan yang baik itu. Ada yang memandang bahwa kehidupan yang baik itu terletak pada harta kekayaan. Adapula yang memandang bahwa kehidupan yang baik itu terletak pada pangkat, kedudukan/status sosial, pada ilmu, keturunan dan sebagainya sesuai dengan kecenderungan masing-masing


    Meyakini Allah Maha Besar (Al-Kabir)


    Allah memperkenalkan dirinya sebagai Al-Kabir.

    Karena kemahabesaran Allah, ketinggian dan kelihuranNya, maka semua hukum dan kebutuhan ada ditanganNya.

    Imam Ghazali mengatakan, bahwa kebesaran Allah adalah kesempurnaan Dzat. Yang dimaksud dengan Dzat adalah wujudNya.

    Kesempurnaan wujud ditandai oleh dua hal, yaitu keabadian dan sumber wujud. Allah kekal abadi, Dia awal yang tanpa permulaan, dan akhir yang tanpa akhir. Tidak dapat tergambar dalam benak, apalagi dalam kenyataan. Allah adalah Dzat yang wajib wujudNya. Berbeda dengan mahluk yang wujudnya didahului oleh ketiadaan dan diakhiri pula dengan ketiadaan.


    Cukuplah Allah Sebagai Pemelihara

    Kata al-Muhaimin berasal dari haimana yuhaiminu, artinya “memelihara, menjaga, mengawasi dan menjadi saksi terhadap sesuatu”. Sebagian ahli bahasa berpendapat bahwa kata ini sama dengan kata Al-Mukmin, karena asal kata al-Muhaimin menurut mereka adalah al-Muamin. (Asmaul Husna for succes in bussines & Live, Syafi'i Antonio)



    Diterbitkan di: 06 Februari, 2013   
    Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
    Terjemahkan Kirim Link Cetak
    X

    .