Buku
ini memberikan gambaran yang bagus tentang budaya dan tradisi
China sekitar 100 tahun yang lalu. Ceritera di dalam buku ini menyorot
tentang bagaimana manusia mencintai
Tanah dan percaya bahwa Tanah
merupakan hidup dan darah
dari manusia. Hal ini berasal dari cerita
tentang seorang petani dari keluarga yang tradisional yang
bekerja keras di tanh persawahan dan segala aspek kehidupannya tergantung
keseluruhannya pada Tanah dan dia menuai kekayaan yang mengagumkan
dengan cara bekerja keras menebar bibit dan menanam tanaman pertanian
di dalam cuaca yang sangat panas dan dingin. Petani yang dulunya sangat
rendah hati ini menjadi kaya secara perlahan bahkan cukup kaya
untuk memilih seorang istri yang is pilih diantara para budak yang dimiliki
oleh sebuah keluarga kaya, istri ideal yang dia inginkan adalah wanita
yang mempunyai badan jasmani yang bagus dan mempunyai wajah yang tidak
cantik untuk menemaninya di tanah pertanian. Semenjak hari
pernikahannya, istri pilihannya selalu melakukan rutinitas rumah tangga
dengan rajin dan merawat ayahnya yang sakit, sang istri juga bekerja
keras di perladangan yang membuat suaminya kagum dengan stamina dan
kebaikan yang dia miliki. Dia bahkan bekerja keras pada saat dia hamil
dan sebelum melahirkan anaknya dia bekerja membanting tulang di lahan
pertanian dengan suaminya hingga menahan sakitnya melahirkan yang dia
lakukan sendiri tanpa bantuan dari siapapun. Orang-orang di Cina sangat
lebih menyukai mempunyai anak putra dan tidak perduli dengan anak putri
yang disebut sebagai "budak". Kelahiran putra pertama dirayakan secara
besar-besaran dengan banyaknya manisan dan hiburan , hal ini menaikkan
status sang ibu. Sejak saat itu setiap tahunnya selalu ada kelahiran di
keluarga dan anak ketiga
mereka perempuan dan bisu, dia dikatakan
sebagai "budak yang malang". Keluarga mereka menjadi semakin kaya dan
sang suami secara perlahan berkebiasaan pergi ke rumah budak dan
menikmati ditemani oleh cewek sewaan yang kemudian dia bawa pulang dan
dijadikan sebagai gundiknya. Sang suami menghamburkan segalanya untuk
si gundik ini dan tidak mengiraukan istrinya. Kemudian musim paceklik
datang dan banyak orang terpaksa harus pergi mencari makanan dan tempat
kediaman yang memaksa mereka untuk menjual barang-barang mereka bahkan
barang berharga untuk sesuap nasi. Lakon kita dalam cerita ini berusaha
untuk tidak menjual tanah mereka bahkan pada masa yang sulit itu dan
selalu berusaha melindungi tanah mereka karena mereka tahu bahwa Tanah
adalah hadiah yang sangat berharga dan tidak boleh untuk ditinggalkan.
Dalam usia tuanya, putr-putranya mengambil alih tradisi ini yang
berlangsung dari generasi ke generasi. Pada saat kematiannya tiba, di
dikubur di tanahnya sendiri. Hidup seseorang berawal dan berakhir di
dalam "Tanah".
Resensi lain tentang Tanah Yang Baik