Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Sunan KALIJAGA

Sunan KALIJAGA

oleh: ofal     Pengarang : Yuliadi Soekardi
ª
 
Buku ini mengisahkan dengan ringkas dan padat mengenai riwayat SUNAN KALIJAGA.
Kisah diawali dengan keadaan Kadipaten Tuban pada pertengan abad ke-15, Tuban merupakan wilayah Kerajaan Majapahit. Saat iru TUBAN merupakan pelabuhan yang sangat ramai, banyak kapal dari nusantara dan mancanegara yang berlabuh disitu. Adipati Tuban saat itu bernama Raden Tumenggung Wilatikta yang beristrikan Dewi Nawangrum. Adipati mempunyai dua orang nak yaitu RADEN SAHID dan DEWI RASAWULAN. Adipati Tuban telah memeluk agama Islam begitu juga dengan sebagian penduduk Tuban. Sebagai seorang putra adipati, Raden sahid dibekali ilmu-ilmu kedigdayaan dan juga ilmu agama. Untuk memperdalam ilmu agama, Kangjeng Adipati mengundang guru mengaji yang bernama KYAI AKHMAD. Raden Sahid dan anak-anak muda disekitar Istana, setelah shalat isya mengaji pada Kyai Akhmad. Hampir setiap malm, ba'da isya, raden Sahid dan kawan-kawannya tekun mempelajari agama Islam. Mulai dari membaca Al Quran, dan mempelajari isi kandungannya, pelaksanaan ibadah, dan perihal keimanan dan ketakwaan.
Raden Sahid sering melakukan perjalanan bersama ayahandanya ke pelosok desa, ia melihat bahwa masyarakat di pelosok masih memegang teguh dan kuat kepercayaan nenek moyangnya yaitu agama Hindu dan Budha bahkan ada yang masih menyembah leluhurnya. Selain itu yang sangat menyedihkan Raden Sahid, kemiskinan yang merata dikalangan kawula kecil itu. Selain itu mereka juga dikenai pajak yang tinggi. Ketika ia menyampaikannya kepada ayahandanya, beliau menyatakan tak dapat berbuat apa-apa, karena pajak tersebut harus disetor ke Majapahit. Selain suka mengikuti perjalanan ayahnya, Raden Sahid suka menonton wayang beber, yaitu wayang yang dilukis di atas kain putih. Raden Sahid sampai hapal lako-lakonnya, dan terpesona dengan banyaknya penonton dari segala penjuru. Ia berpikir seandainya wayang beber digunakan sebagai alat dakwah Islam tentu dampaknya sungguh luar biasa, tetapi bagaimana caranya?Bukankah di dalam agama Islam tidak diperkenankan menggambar manusia?
Seperti dikisahkan di atas, Raden Sahid sangat sedih melihat keadaan kawula kecil. Akhirnya, pada suatu hari, Raden Sahid dengan menggunakan kunci duplikat, Ia mengambil sebuah karung berisi beras dan memberikannya pada orang-orang miskin. Hal ini lama kelamaan ketahuan, ketika Ki Talimenir, Kepala Perbendaharaan melakukan pemeriksaan jumlah perbekalan berkurang. Akhirnya, Raden Sahid tertangkap dan dibawa menghadap Sang Adipati. Raden Sahid diusir dari Istana, dan Sang Adipati berkata, "Baiklah semua yang hadir di sini menjadi saksi hidup, bahwa mulai hari ini putraku, Raden Sahid tidak diperkenankan menginjakakan kakinya di Istana Kadipaten Tuban untuk waktu yang tidak aku batasi dan baru beleh kembali ke mari, bila kau telah dapat menggetarkan dinding-dinding istana kadipaten ini dengan bacaan Quranmu!". Dengan diiringi isak tangis ibu dan adiknya, akhirnya Raden Sahid meninggalkan istana. Selanjutnya, Dia menetap di hutan Jatiwangi dan menamakan dirinya BERANDAL LOKAJAYA, seorang perampok tunggal yang ditakuti di wilayah tersebut. Sasarannya orang-orang kaya dan bangsawan Majapahit. Hasil rampokannya itu kemudian dibagi-bagikan kepada rakyat miskin. Ketika menjadi Berandal Lokajaya inilah Raden Sahid bertemu dengan Sunan Bonag dan menjadi muridnya. Sunan Bonang mengajukan lima syarat yang harus dipenuhi, pertama meninggalkan pekerjaannya sebagai perampok, kedua menjaga tongkat Sunan Bonang, ketiga mendirikan mushola, keempat,mempejari Al Quran dan tafsirnya sampai hapal diluar kepala,kelima banyaklah beramal saleh kepada sesama. Raden Sahid menyanggupi semua syarat tersebut. Sunan Bonagn kemudian pergi untuk melaksanakan ibadah haji ke Mekah. Sepulangnya dari ibadah haji, Sunan Bonag menuju hutan Jatiwangi, sesampainya di sana ia bertemu dengan Lokajaya dan memberinya nama 'KALIJAGA"  Setelah digemleng oleh Sunan Bonag, Kalijaga diajak berguru pada Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati.
Setelah selesai berguru, Raden sahid yang kini bergelar SUNAN KALIJAGA" mulai berdakwah dari desa kedesa. Dia menciptakan TEMBANG DANDANG GULA. Setelah musyawarah para walisongo di demak selesai, Sunan Kalijaga bersama muridnya Jaka Supa berencana pulang ke Tuban. dalam perjalanan pulanynya ia bewrtemu dengan adikny di hutan Jatiwangi di mushola yang yang pernah didirikannya. Bersama adiknya, Raden sahid menuju istana Adipati Tuban. Sesampainya di ruangan istana Raden Sahid membaca al Quran, sehingga membangunkan ibunya dan ayahandanya, serta mnggetarkan dinding istana seakan maun runtuh saja.Istana  kembali semarak dengan kembalinya si anak yang hilang, Raden sahid dan Rasawulan. Akhirnya Rasawulan menikah dengan Jaka Supa, pernikahan itu membuahkan seorang putra tampan yangb diberi nama Supa Atmaja yang kelak menjadi Adipati Tuban. Suna Kalijaga sendiri menikah dengan Dewi Saroh, Putri Syech Maulana Ishak dan Dewi Sekardadu. Jadi Dewi saroh masih adik kandung Sunan Giri. Pernikahan tersebut mebuahkan tiga orang putra-putri, yaitu raden Umar Sahid, kelak menjadi Sunan Muria, Dewi Rukayah, dan Dewi Sofiah.
Diterbitkan di: 16 Juni, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    saya mau bertanya adakah anak dari sunan kalijaga yg bernama putry bilqis.? atau sering di sebut putry bilqia.? kalo ada tolong info di mana letak makam nya. Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    kapan sunan kalijaga dilahirkan Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

5 Teratas

.