Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Genealogi Kekerasan dan Pergolakan Subaltern: Bara di Bali Utara

Genealogi Kekerasan dan Pergolakan Subaltern: Bara di Bali Utara

oleh: imanasri     Pengarang : Ngurah Suryawan
ª
 
Ida Bhagawan Dwija mengingatkan umat tentang ajaran Mpu Kuturan yang membawa ajaran Hindu dan menulis lontar Pakem Gama Tirtha yang menjadi Upanishad kali pertama yang dianut penduduk Bali. Agama itu disebut agama Titha dengan prinsip pentingnya Trihitakarana: tiga hal yang mengakibatkan kebaikan/kebahagiaan. Orang Bali menjadi brutal karena tidak lagi setia pada prinsip itu.

Dr I Gede Made Metera sebaliknya menguraikan teori mengenai genealogi kekerasan dan pergolakan subaltern (kaum yang terpinggirkan) yang dapat kita pakai sebagai petunjuk memahami topik di dalam buku ini.

Buku ini diawali bab khusus mengenai berbagai teori, mulai teori poskolonial, studi tentang subaltern, teori spiral kekerasan Dom Helder Camara, teori kekerasan struktural dan kultural Johan Galtung, teori kekerasan negara dan kekuasaan, kekerasan kolektif, terori subjektivisme kekerasan, teori kuasa Michel Foucault, teori hegemoni Antonia Gramsci, hingga teori habitus dan kekerasan simbolik Pierre Bourdieu. Kebanyakan infomasi mengenai teori-teori itu diperoleh dari tangan kedua, berupa hasil penelitian dan buku kajian.

Wawancara intensif dengan keluarga korban kekerasan, sejarah kekerasan yang terjadi di Bali Utara sejak 1965, masih dilanjutkan pada 1971 saat penggolkaran Buleleng yang dikenal sebagai ''dibulelengkan'', sampai peristiwa kekerasan lain. Ngurah Suryawan juga menemukan bahwa kekerasan bagi kaum terpinggirkan tersebut terjadi sejak zaman raja-raja. Sebagai contoh sederhana dia kemukakan mengenai anak kembar lelaki-perempuan. Untuk keluarga raja atau berkasta, kembar yang disebut kembar buncing itu diperkenankan. Tetapi, bila peristiwa yang sama terjadi pada kaum sudra, mereka dikucilkan dari desa dan harus tidur di tanah kuburan selama waktu tertentu. Raja dan kaum berkasta boleh punya anak kembar buncing, tetapi orang kebanyakan bila mengalami hal yang sama harus dihukum karena dianggap menyaingi raja.

Contoh lain adalah Puputan (kecuali Puputan Margarana tentunya). Raja melakukan perang habis-habisan dengan mengajak semua orang mati. Dalam kasus Puputan Margarana, yang dibela bukan raja, tetapi tanah air. Puputan di Desa Margarana Tabanan dilakukan para pejuang Bali pimpinan Gusti Ngurah Rai demi kehormatan tanah air Indonesia.

Ulasan mendetail mengenai kekerasan di Bali Utara diutarakan dengan sangat baik oleh Ngurah Suryawan dengan pelukisan yang jelas dialog korban kekerasan 1965 dan kekerasan-kekerasan lain, diikuti teori yang dipakai untuk membahasnya. Demi kehati-hatian, Ngurah Suryawan mengutip berbagai pendapat para ahli mengenai kekerasan di Petandakan dan wilayah-wilayah lain di Bali Utara, mulai masa 1965 sampai saat massa Megawati membakar sejumlah bangunan di Singaraja dan Denpasar serta menebang pohon lantaran Megawati kalah dalam pemungutan suara pemilihan presiden. Tampaknya Akbar Tandjung -saat itu ketua Golkar- segera tanggap dan mundur dari pencalonan sehingga Mega bisa terpilih menjadi wakil presiden.

Justru karena kehatian-hatiannya dengan mengutip pendapat para ahli yang berbeda mengenai peristiwa kerusuhan sama, terasa pengulangan-pengulangan yang membosankan. Andaikata Ngurah Suryawan berani mengedit tesisnya untuk dibaca publik umum dan mencarikannya untuk pembaca, pastilah buku ini lebih menarik dan tidak perlu tebal. Namun, upaya peneliti muda ini perlu dipuji. Semoga desertasinya nanti dalam versi bacaan umum bisa pula memperkaya pengalaman kita. Semoga
Diterbitkan di: 18 April, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.