Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Selamat PAGI TUHAN, 33 Renunga Tentang Doa

Selamat PAGI TUHAN, 33 Renunga Tentang Doa

oleh: cinta_hidup     Pengarang : Andar Ismail
ª
 
SELAMAT PAGI TUHAN
33 Renungan Tentang Doa

I. Prolog
Doa, hampir semua manusia, apapun agama dan kepercayaannya melakukan. Pun dalam agama Kristen. Dalam agama Kristen bahkan, karena ada rasa begitu dekatnya dengan Tuhannya, para penganut agama ini dapat dengan mudah, di mana saja, kapan saja, dalam situasi apa saja, formal atau santai, dapat menaikan doa. Apakah doa adalah sesuatu yang mudah dan gampang? Ya mungkin bagi banyak orang Kristen yang melakukannya. Namun kehidupan doa sesungguhnya tak semudah yang kita kira. Doa mempunyai begitu banyak dimensi dan misteri. Karenanya, para murid Yesus minta diajari berdoa: “Tuhan, ajarlah kami berdoa…”(Lukas 11:1).
II. Kekayaan Doa
Manusia berdoa karena ia takut dan gentar dan gentar. Allah dialami dan dijumpai dalam sesuatu yang dahsyat, berkuasa, gaib, murka, tak terhampiri. Manusia juga berdoa karena kagum dan terpesona. Yang Illahi dijumpai dan dialami sebagai sosok yang baik, menyenangkan, menetramkan, mengagumkan.
Berhadapan dengan sakit penyakit, harapan dan keinginan orang pada umumnya adalah sembuh. Namun Tuhan tidak selalu menjawab doa dengan kesembuhan. Namun yang selalu pasti adalah, jawaban Tuhan agar hati dan perasaan kita damai dan tenang. Termasuk ketika sakit kita tidak sembuh.
Dalam doa manusia sering meminta sesuatu. Namun jawaban Tuhan tidak selalu yang manusia kehendaki. Atau Tuhan mengabulkan dengan cara yang lain yang kita sangka,. Ia kadang menempuh jalan yang tidak kita kira. 
Doa dapat diungkapkan dengan syair dan lagu. Puisi dan madah. Doa dapat dinyatakan dengan tindakan yang solider terhadap yang miskin dan tersisih. Sebagaimana dilakukan oleh Fransikus Asisi. Doa juga harus dilakukan dalam tindakan yang bersedia bekerja keras. Karena tidak benar bahwa dengan berdoa dan meminta, lalu kita menjadi malas dan tidak berusaha. Justru doa mendorong kita untuk cinta kerja.
Doa bersifat emosional, namun juga rasional dan realistis. Perasaan, hati kita sertakan, namun juga pikiran yang logis, realistis dan penuh pertimbangan dan perhitungan. Doa yang salah adalah ketika doa hanya dimengerti upaya kepada Allah ketika jalan sudah buntu. Tuhan hanya menjadi pelarian terakhir. Tuhan hanya dijadikan ban cadangan. Doa sebelum makan banyak dilakukan oleh orang Kristen. Namun isinya sering hanya meminta makanan itu diberkati dan acara makan menjadi “sah” di hadapan Tuhan. Doa menjelang makan sesungguhnya mengandung pengertian bahwa saat kita makan makanan, kita sadar bahwa makanan sampai pada kita prosesnya tudak sederhana, melibatkan banyak hal, penuh dengan pengorbanan. Pun, ketika kita makan kita sadar bahwa semua makluk perlu makan, karenanya, kita harus mengingat dan menjadi berkat bagi yang lain. Kita bersyukur atas makanan itu, namun syukur itu kita nyatakan dengan bersedia berbagi makanan bagi yang lain.
Dalam doa, orang sering melakukan penghakiman terhadap orang lain, lalu menganggap diri lebih baik. Misalnya mendoakan orang yang malas, jahat, undur agar mereka menyadari kesealahannya, lalu bertindak seperti dirinya. Doa yang demikian dalah doa yang sombong dan superoir. Kita sadar dan yakin Tuhan selalu dekat dengan kita. Karenanya, kita selalu disadarkan bahwa kita harus juga mendekatkan diri pada Tuhan.
Kalimat “dalam nama Yesus” sering dijadikan mantra dalam doa orang Kristen. Padahal orang Kristen berdoa tidak perlu mantra. Dalam nama Yesus bukan mantra, namun kalimat yang selalu mengingatkan kita bahwa apa yang kita doakan harus selaras dengan orang yang namanya kita sebut tersebut. Dalam pikiran dan perbuatan. Pemilik nama itu kita ikuti dan teladani.  
Dalam doa, kita sering tidak tahu apa yang hendak kita katakan. Maka katakan apa saja, atau tidak usah berkata apa-apa. Yang jelas, doa adalah penghubung kita dengan Tuhan. Maka hubungan itu harus terjalin dan terjaga. Dalam saat kita harus berkata-kata, namun juga dalam saat kita tidak berkata-kata.
Doa memiliki banyak segi. Sehingga kita jangan memutlakkan doa kita, menganggap sebagai yang mutlak, sebagai yang paling baik. Karena yang kita lakukan dengan dan dalam doa, hanya satu segi dari banyak segi atau dimensi dalam doa. Semua dimensi dan segi terlalu luas mengatasi yang kita lakukan dan pahami.
Doa bukanlah sarana untuk kita memuaskan kepentingan dan kemauan kita. Doa bukan untuk memalsukan kehendak kita lewat kata-kata pada Tuhan, bukan tempat pemuasan keegoisan. Tuhan bukan pesuruh yang harus menjalani kehendak kita dalam doa. Doa yang benar bukan sarana untuk mendapatkan kemudahan dari Allah.
Doa membawa kita pada pengertian, bahwa keterbatasan dan ketidakbisaan kita, bukan halangan bagi Tuhan untuk membuat kita berharga dan berguna bagi keryaNya.
Doa syafaat adalah doa yang manghantarkan pihak lain untuk mendapat rahmat Tuhan. Doa yang penuh simpatik dan peduli pada sesama. Menjadi tak ada artinya manakala kita berdoa hanya dalam kata-kata, seperti contoh mendoakan orang yang kelaparan supaya diberkati Tuhan, namun kita yang baru saja makan kenyang tak berbuat apapun bagi mereka yang lapar.
Doa adalah sarana dan kekuatan serta pendorong dalam kita semakin menjadi menjadi bijak dan arif. Karenanya, dengan berdoa kita semakin terdorong untuk memikirkan hal yang baik bagi kehidupan di sekitar kita. Doa adalah bentuk nyata dari pertemanan dan persahabatan kita dengan Tuhan yang mau bersahabat dengan kita.
Dalam doa kita dapat mengungkapkan protes dan kejengkelan kita pada Allah. Bukan untuk menyerang dan menyalahkan Allah. Namun untuk kita kemudian mawas diri setelah mendialogkan sesuatu dengan Allah.
Doa harus dinyatakan dalam perbuatan. Doa tidak harus selalu meminta. Doa dapat kita lakukan tanpa kata, hening, tenang. Doa memperkokoh iman kita. Doa menyadarkan bahwa kita adalah orang yang berhutang. Hutang itu dibayar lunas oleh Yesus. Doa, sarana kita untuk selalu menyapa Tuhan. Sarana mengungkapkan rintihan hati
III. Epilog
Semakin kita menyelami doa, semakin kita sadari betapa dalam dan luas doa. Betapa tak terselami semuanya. Karenanya kita terus berdoa. Untuk semakin dapat menyelami rahasia. Bukan untuk semakin merasa hebat, nanum justru merasa semakin kecil di hadapanNya.

Diterbitkan di: 24 Oktober, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    agama apa yang paling banyak? apakah agama kristen protestan atau agama katolik? aku menanyakan ini karna aku agama kristen protestan berkelahi dengan agama katolik nama ku ladimer putin ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    kupikir pikir sama aja 02 Nopember 2012
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.