• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Buku>Rendra, Ia tidak Pernah Pergi

.

Rendra, Ia tidak Pernah Pergi

oleh : rey0072001    

Pengarang : Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Karya-karyanya Rendra tidak hanya respon terhadap kondisi di
sekitarnya, namun juga menunjukkan berbagai gagasan mengenai
kebudayan
yang luas dan menembus waktu.
Itulah yang dapat ditangkap dari buku
ini. Dari buku ini pertama-tama pembaca dapat melihat bagaimana
"ketegangan" antara Rendra dengan realitas yang terjadi di sekitarnya.
Ketegangan disebabkan Rendra melihat ada yang keliru dalam arah
kebudayaan.
Rendra mencium bahwa kebudayaan Indonesia
tengah berada dalam posisi yang tersingkirkan. Artinya, tidak banyak
orang yang memikirkannya secara serius untuk memperbaiki keadaan,
sebaliknya atas nama perkembangan ataupun pembangunan, perlahan-lahan
kebudayaan masyarakat kian disisihkan, dan akar hal ini telah terjadi
sejak masa kolonial.
Rendra mencontohkan bagaimana
Herman Willem Daendels yang membangun jalan berdasarkan kepentingan
perdagangan, pertahanan militer dan kekuasaan. Implikasi dari itu semua
itu adalah tumbuhnya sebuah ruang metropolitan. Orang-orang desa yang
sebelumnya melakukan perdagangan dengan pembagian waktu berdasarakan
hari pasaran dan penghayatan kosmis, kini berebut mendirikan rumah
tepat di tepi jalan yang dibangun oleh Daendels (hal. 216). Akibatnya,
ketidakseimbangan kosmis terjadi.
Tentu saja hal
semacam itu tidak hanya terjadi di masa lalu, tetapi juga pada masa
kini. Ambil saja contoh pembangunan hipermarket di kota-kota besar.
Keberadaan hipermarket tersebut tidak hanya menggeser pedagang kecil,
tetapi juga telah mengancam keberadaan pasar tradisional.
Pada
masa lampau pasar adalah tempat terjadinya pertemuan berbagai
kebudayaan. Tetapi kini interaksi tersebut terancam. Proses
tawar-menawar yang menjadi pemandangan lumrah di pasar tradisional kini
digantikan dengan belanja yang menghilangkan hak pembeli untuk
melakukan penawaran.
Itu sebabnya Rendra secara tegas
mengungkapkan bahwa sesuatu yang bersifat tradisional layak untuk
dipertimbangkan kembali. Sebab bagaimanapun, tradisi lama dan kearifan
tradisional dapat diolah kembali untuk memperkuat kohesi masyarakat,
sekaligus sebagai modal untuk membangun bangsa dengan lebih baik dan
manusiawi.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah,
apakah hal yang dilakukan oleh Rendra merupakan sesuatau yang sia-sia?
Bukankah pementasan teater maupun pembacaan sajak yang dibawakan oleh
Rendra tidak banyak membawa perubahaan secara signifikan?
Ternyata
Rendra memiliki idealisme tersendiri dalam hal tersebut.. Bagi Rendra.
Seperti dikutipkan oleh Mudji Sutrisno dalam tulisan dalam buku ini,
Fenomena Koko dan Rendra Secara Budaya (Hal. 53), bahwa bagi Rendra
seseorang boleh saja merasa lelah dan merasa sia-sia memikirkan
gambaran keadaan manusia masa kini, namun ia tidak boleh berhenti
berjuang dan bersuara memperjuangkan tegaknya martabat manusia
Indonesia.
Rasanya, ungkapan Rendra tersebut bukan
tanpa alasan. Rendra sendiri yakin bahwa Indonesia masih memiliki masa
depan. Ini dapat ditangkap lewat ucapannya dalam sebuah wawancara.
Menurut Rendra Indonesia masih punya masa depan selama masih ada
pengusaha menengah dan orang-orang muda.
Menurutnya,
pengusaha menengah telah terbukti kekenyalannya sejak masa tanam paksa
di jaman Belanda. Kini pengusaha menengah telah dapat menyerap tenaga
kerja hingga 30 juta orang. Sedangkan anak muda, dalam pengamatan
Rendra, kini semakin banyak melahap buku-buku humaniora, dan semakin
kritis dalam menggugat masalah-masalah kebangsaan. Bagi Rendra,
fenomena ini merupakan investasi budaya.
Selain itu,
Rendra juga ternyata bukan sosok yang hanya memikirkan masalah
kesenian. Ia pun memikirkan bagaimana orang-orang yang hidup dari
kesenian. Rendra paham benar, di Indonesia orang tidak dapat hidup
melulu dari kesenian. Bahkan ia dan anggota Bengkel Teater pernah
mengalami kesulitan keuangan pada tahun 1970-an.
Menurut
Rendra, sulitnya menggantungkan hidup dari teater disebabkan di
Indonesia belum ada infrastruktur yang memungkinkan para pemain teater
bisa berkarya secara total. Di sejumlah negara maju infrastruktur
semacam itu sudah dibangun. Di negara-negara semacam ini para penggiat
teater tidak hanya didukung oleh agen yang profesional, tetapi juga
lembaga lain, sebutlah bank, yang siap mendukung kegiatan teater.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa seluruh pihak memang memiliki
keperdulian terhadap kebudayaan,
Itu sebabnya Rendra
bertekad untuk membuat orang-orang dalam Begkel Teater menjadi lebih
sejahtera. Hal ini terungkap dalam wawancara dengan Rendra berkaitan
dengan Bengkel Teater dan para anggotanya. Dalam wawancara yang
dilakukan pada tahun 1989 tersebut, Rendra mengungkapkan keinginnya
untuk mendirikan sebuah padepokan (hal.149)yang dapat memenuhi
kebutuhan dasar dan kesejahteraan ekonomi anggota Bengkel Teater dapat
terpenuhi.
Buku yang terdiri dari sejumlah tulisan
yang ditulis oleh budayawan, sastrawan, sampai wartwan ini memang tidak
dapat dikatakan mewakili secara keseluruhan gagasan kebudayaan seorang
Rendra. Namun, paling tidak, terbitnya buku ini telah membantu
terkumpulnya berbagai gagasan kebudayaan Rendra yang masih tercecer di
berbagai media. 
Diterbitkan di: Oktober 22, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.