(Sumber Riau Pos, 4 Oktober 2009)
Dari "Wan Tulin" ke "Ketan Durian"
Oleh Romi Zarman
Dalam sejumlah cerpen
Zelfeni Wimra yang terhimpun dalam Pengantin Subuh (Lingkarpena Publishing, 2009) kita merasakan adanya tegangan antara kampung dan rantau. Terkecuali untuk cerpen “Wan Tulin”, periode 2000-2004 adalah masa-masa kegelisahan ZW dalam memandang kampung halaman dari tanah rantau. Kegelisahan ZW dapat dilihat melalui tokoh Ayah, Ibu, Daro, perempuan bertubuh lisut, dan tokoh “Aku” dalam cerpen “Yang Terbungkuk-bungkuk di Halaman”.
Demikian besarnya kegelisahan ZW menyebabkan ia lupa menata bangunan cerita. Lihatlah jalinan cerita “Pipik Tuai” dan “Menjelang Subuh”. Akan tetapi, melalui cerpen “Sepeda Malik Tumbang” dan “Jalan Mati”, kita mulai melihat adanya upaya pencarian karakter yang sudah dibangun ZW sejak awal melalui “Wan Tulin”.
ZW sendiri sepertinya tak belajar pada cerpen “Wan Tulin”. Pada cerita ini sebenarnya ZW sudah bisa mengatasi kegelisahannya. Akan tetapi, pada cerita-cerita berikutnya, ZW justru tidak mampu mengatasinya. Lihatlah kisah “Wan Tulin”, dengan jalinan cerita yang tertata apik, ia menciptakan sebuah efek dari jejak masa lalu dan realitas kekinian. Kepedihan dan ketragisan pun menyelusup kedalaman dada. Inilah yang membedakan cerpen-cerpen ZW dengan sejumlah cerpennya yang lain.
Bila diurutkan dari waktu penciptaan, sebenarnya ZW sudah memulainya dengan langkah yang bagus, yakni ketika ia menulis “Wan Tulin” pada tahun 2000. Akan tetapi, di masa berikutnya, ZW tak mampu mengatasi kegelisahannya sehingga ia lupa pada “Wan Tulin”. Kegelisahannya terus mendera sampai pada suatu waktu, dipertengahan tahun 2004, lahir sebuah cerpen dengan judul “Sepeda Malik Tumbang”. Cerpen ini memperlihatkan upaya untuk “kembali” pada “Wan Tulin”, yang terlupa (ataukah disengaja?), atas apa yang telah dimulainya.
Menjelang “Ketan Durian”
Upaya ZW untuk belajar pada “Wan Tulin” mulai nampak pada sejumlah cerpennya dalam kurun waktu 2005-2006. Dimulai dari cerita “Imam Sunyi”, “Bunga dari Peking”, “Madah Anak Laut”, “Ibu Hujan”, “Negeri Air”, hingga puncaknya pada “Orang Kampung Hilang”. Cerita “Orang Kampung Hilang” pada mulanya hanya berawal dari sesuatu yang kecil, yakni penambahan daging sebelum hari raya tiba. Penggarapannya sangat detail, fokus dan memiliki korelasi yang jelas ketika objek cerita pindah dari satu objek ke lain objek, sehingga tak mengherankan kenapa cerita ini mampu memberikan efek demensional, yang bagi kaum New History Criticsm dikenal dengan nama mikrokospik.
Memasuki periode 2007-2008, ZW kembali mencari alternatif lain. Mungkin ketergodaannya disebabkan oleh upaya eksperimentasi yang dilakukan oleh pengarang-pengarang mutakhir. Cerita dibumbui dengan kisah kasih tak sampai, dengan perempuan sebagai pusat cerita dan alurnya yang tidak hanya linear.
Lihatlah cerpen “Pengantin Subuh” yang diambil untuk judul buku antologinya ini. Dengan gumam yang tak tertahankan, ZW bercerita melalui tokoh “Aku-Nenek” yang bunuh diri setelah menulis sepucak surat untuk kekasihnya. Surat yang tak pernah dikirimkan itu sekaligus jadi penyampai cerita tentang kisah kasih tak sampai antara si nenek dan kekasih yang ditinggalkannya di kampung halaman.
Jika diurutkan lagi dari awal, dari cerpen-cerpen periode 2000-2008, maka upaya ZW mencari sejumlah alternatif bukanlah sepenuhnya untuk menggali apa yang telah ia bangun sejak semula. Di awal kepengarangannya pada tahun 2000, ZW sudah menemukan alternatif pertama, yakni pada cerpen “Wan Tulin”. Akan tetapi, karena di masa sesudahnya ia tak mampu mengatasi kegelisahannya akan kampung halaman, maka ia pun seakan lupa pada “Wan Tulin”. Baru pada tahun 2006 ZW “kembali” pada “Wan Tulin” melalui cerpen “Orang Kampung Hilang”. Dan menjelang kelahiran cerpen “Ketan Durian” pada tahun 2008, ZW pun kembali melupakan “Wan Tulin” dengan melakukan sejumlah upaya ke arah alternatif lain.
Padang, 2009