Note: Please give some marks for this article by clicking the stars below! Thank you!
Mengenal Aku, Kamu, dan Kita
Oleh: Sunlita Citra T. Judul Buku : Bumi Manusia
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Cetakan : 14, Juni 2009
Tebal Buku : 535 halaman
Pramoedya Ananta Toer bukanlah sebuah nama yang asing bagi kita. Beliau adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam Daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra. Dari keseluruhan waktu hidupnya, sekian banyak telah beliau habiskan di dalam penjara karena tuduhan keterlibatan dalam G30S PKI. Meskipun telah diperlakukan demikian oleh bangsanya sendiri, beliau tetap merasa bahwa menulis adalah tugas pribadi dan nasional! Karya-karya dan prestasi beliau yang tidak mungkin saya tuliskan semuanya dalam resensi singkat ini, telah berhasil menunjukkan kompetensinya di dalam dunia sastra bahkan semenjak Anda membuka lembar pertama dari karyanya yang agung. Ya, percayalah Anda akan segera tersihir olehnya.
Sungguh sulit menemukan karya-karya yang sejenis dengan Bumi Manusia. Pramoedya telah berhasil membawa pembacanya dengan mesin waktu menuju masa lalu melalui suasana cerita yang benar-benar nyata. Hingga saat ini, menurut saya hanya ada sebuah karya yang teknik pembawaan suasananya agak serupa dengan Bumi Manusia yaitu The Alchemist oleh Michael Scott. Perbedaannya adalah unsur fiksi yang begitu terlihat dalam novel Scott, sedangkan Bumi Manusia membawa suasana nyata seperti perasaan hidup di dalamnya.
Salah satu ciri khas Pramoedya adalah pemikirannya, selain kata-kata Melayu atau Belanda yang terkadang disisipkan di dalam cerita. Pemikiran Pramoedya inilah yang menjadi ujung tombaknya untuk membelah pemikiran global dengan cara yang cerdas dan memikat. Tidak hanya untuk masa itu, namun pemikiran-pemikiran ini juga dapat dijadikan tolak ukur dan pembelajaran untuk masa yang akan datang.
Meskipun saya cukup jarang membaca novel, apalagi sebuah roman, suatu daya tarik yang telah dilancarkan novel ini terhadap saya adalah temanya. Entah karena judulnya yang mengandung kata “manusia” atau karena nama pengarang yang telah bergaung begitu hebatnya, ternyata saya merasa cukup yakin untuk menyatakan bahwa uang sembilan puluh ribu rupiah yang telah saya relakan demi buku ini tidak sia-sia. Manusia, terlebih lagi jika berbicara tentang budaya, mengandung arti yang sangat luas. Masyarakat yang tercermin di dalamnya, juga peradaban manusia secara keseluruhan. Dengan membaca suatu budaya, kita dapat merasakan peradaban tersebut dan perkembangan pola pikir termasuk di dalamnya. Sebelum melangkah lebih lanjut mengenai hal ini, ada baiknya jika kita mengetahui sedikit alur luar dari novel ini.
Minke, seorang Jawa, Pribumi sekaligus Raden Mas, menemukan pola pikir dan prinsip hidup yang berbeda dengan bangsanya sendiri. Hal ini dipengaruhi oleh pendidikan H.B.S. yang ditempuhnya, di mana pemikiran bangsa Eropa telah merasuk ke dalam pemikirannya sendiri. Melalui temannya, Robert Suurhof, ia dapat berkenalan dengan seorang gadis yang cantik luar biasa, Annelies. Sejak mengenal keluarga Nyai Ontosoroh, ibu Annelies, Minke mendapati dirinya di tengah beragam problema kehidupan yang menyerang tanpa belas kasihan. Sempat terpikir di dalam benak Minke untuk melarikan diri, namun akhirnya ia sadar akan rasa cintanya yang mampu membuat dirinya bertahan. Problema kehidupan yang menyerangnya, tidak hanya masalah biasa. Juga terkandung di dalamnya masalah sosial dan budaya. Bagaimana seseorang dengan tubuh Jawa dan pemikiran Eropa akan mengatasi masalah-masalah kehidupan yang begitu rumit? Kini kita tidak hanya berbicara tentang Minke dan masyarakat di sekitarnya, kita telah berbicara tentang masalah antar bangsa, juga peralihannya yang ternyata masih berlanjut hingga sekarang, dan selama-lamanya.
Mari berbicara tentang budaya manusia. Melalui alur luar novel yang ditampakkan secara eksplisit, Pramoedya nampaknya juga menyelipkan sesuatu yang penting tentang budaya dan perjalanan pola pikir manusia. Dengan pendidikan Eropa, Minke telah melupakan dan bahkan menolak budaya tradisional yang sering dikaitkan dengan statusnya sebagai seorang Jawa Pribumi, terlebih sebagai seorang Raden Mas. Hal ini juga mempengaruhi tindakannya, seperti keberaniannya untuk tinggal di rumah seorang gundik, Nyai Ontosoroh. Kebanyakan dari masyarakat langsung menghubungkan hal tersebut dengan hal yang tidak-tidak dan itulah ciri utama rendahnya suatu nilai moral masyarakat itu sendiri. Hanya seorang yang kotor dapat menuding dan menuduh kekotoran orang lain karena ia telah tahu bagaimana kotornya untuk menjadi kotor, seperti itulah perbandingannya. Hingga di tahap ini, baru ada pertentangan antara pemikiran Eropa dan tradisional. Pemikiran Eropa memang terkesan jauh lebih modern, namun ternyata alur novel mengarahkan kita kepada suatu konflik yang lebih besar, pertentangan unsur Eropa itu sendiri. Jika sebelumnya unsur Eropa lebih mengarah kepada suatu yang benar haruslah dipertahankan, keadaan berbalik saat Minke sendiri mengalami kekejaman Eropa yang tidak manusiawi. Pertentangan prinsip hidup inilah yang harus diperhatikan karena berpotensi mengakibatkan kekecewaan yang mendalam. Melalui Bumi Manusia, sesungguhnya kita dapat melihat bumi dari manusia-manusia yang selama ini begitu dekat dengan kita dan bahkan kita sendiri adalah manusia. Kita dapat mengerti dan memahami alur perkembangan budaya yang disajikan dengan begitu menarik. Ia juga menyajikan beragam pertentangan antara pemikiran yang satu dengan yang lain, begitu cerdasnya hingga tanpa sadar api nasionalisme kita telah disulut agar berkobar.
Di tengah perkembangan budaya yang hanya mengarah pada perkembangan teknologi serta perkembangan pola pikir yang tidak terlalu signifikan, buku ini sangat tepat dibaca siapa pun yang ingin mengenal manusia, dirinya sendiri.