Saat Zana Muhsen dan adiknya Nadia Muhsen berumur 15 dan 14 tahun, ayah mereka mengiming-imingi "Liburan gratis keluar
negeri". Betapa bahagianya kedua gadis itu mendengar tawaran ayahnya. Tanpa berpikir dua kali, mereka mengiyakan. Namun, betapa terkejutnya Zana dan Nadia setelah mengetahui bahwa ayah mereka telah berbohong. "Liburan" yang mereka "nikmati" ternyata sebenarnya adalah dinikahkan dengan laki-laki keturunan Yaman.
Keterkunkungan, tamparan, pukulan hingga kerja paksa merupakan makanannya sehari-hari. Mereka dipaksa bekerja siang dan malam, berjalan sejauh satu mil setiap hari untuk membawa air ke rumah, atau bercocok tanam di tanah yang tandus, hanya dengan menggunakan sendok semen atau belati, tahun demi tahun. Tanpa terus melupakan tanah kelahirannya, Birmingham, Inggeris, Zana terus berusaha sekuat tenaga mencari jalan keluar untuk lari dari sana.
Buku "Sold: Kenapa Aku Dijual?" adalah kisah nyata perdagangan orang (traficking) yang dialami Zana Muhsen dan Nadia Muhsen yang mengalami berbagai derita saat dijual, dipaksa bekerja, dan hidup dalam kunkungan suami. Setelah lepas, kisahnya diceritakan kembali oleh Zana Muhsen dengan bantuan Andrew Crofts, seorang ghostwriter kenamaan Inggris.
Membaca buku ini, ternyata kasus perdagangan orang bukan hanya terjadi di Indonesia. Dibelahan dunia lainpun di negara maju terjadi kasus perdagangan orang. Hanya modus operandi yang berbeda-beda.