HARI-HARI ini, ketegangan antara Indonesia-Malaysia kembali menyeruak. Pasalnya, Malaysia kembali “mengkalim” salah satu
seni budaya Indonesia. Tari pendet yang asli produk seni bangsa Indonesia tiba-tiba diakui sebagai milik negeri jiran itu. Pengakuan terbaru tersebut menambah daftar panjang klaim secara sepihak dari Malaysia atas asset seni dan budaya kita. Sebelumnya, angklung dan batik telah diklaim sebagai warisan budaya Malaysia.
Bukan hanya asset seni budaya yang dijadikan sasaran empuk untuk dicaplok. Belum lama berselang, klaim Malaysia atas Ambalat telah menjadikan hubungan dua negara tersebut menuju ke medan perang. Di tengah ketegangan yang belum reda mengenai Ambalat, tiba-tiba Malaysia memasukkan Pulau Jemur di Kepulauan Riau sebagai salah satu tujuan wisatanya.
Pertanyaan kita, mengapa Malaysia yang duduk dan wilayahnya jauh lebih kecil daripada Indonesia berani bertindak seperti itu? Mengapa Malaysia dengan tindakan pelecehan terhadap rakyat dan bangsa Indonesia ? Bagaimana dinamika hubungan Indonesia Malaysia selama ini? Sejak kapan (dan dalam kondisi Indonesia yang seperti apa) berbagai tindakan pelecehan itu dilakukan? Apa yang harus dilakukan pemerintah Indonesia untuk menjawab tantangan Malaysia itu?
Buku yang ditulis dua sarjana pendidikan sejarah Universitas Negeri Yogyakarta tersebut berusaha menjawab berbagai pertanyaan itu.
Hubungan Indonesia Malaysia berlangsung jauh sebelum kolonialisme Eropa menginjakkan kaki di Asia Tenggara. Hubungan keduanya diikat dalam bingkai Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Setelah periode kolonialisme, keduanya terpisah; Indonesia dijajah Belanda, sedangkan Malaysia menjadi jajahan Inggris. Meski sudah berlangsung lama, hubungan negara serumpun itu sering mengalami pasang surut.
Dalam kaitan dengan hubungan Indonesia Malaysia yang panas itu, “Gayang Malaysia” sebagaimana judul buku ini mengingatkan sekaligus memberikan spirit bahwa rakyat dan pemimpin Indonesia harus tetap menjaga harga diri, martabat, keutuhan dan kedaulatan Negara Republik Indonesia terhadap ancaman dari luar, termasuk Malingsia.