• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Buku>Tinjauan Berbagai Aspek Character Building

.

Tinjauan Berbagai Aspek Character Building

oleh : dhian    

Pengarang : Arismantoro
JUDUL BUKU : TINJAUAN BERBAGAI ASPEK CHARACTER BUILDING
TEBAL HALAMAN : 169 Halaman
PENERBIT : TIARA WACANA
PENYUNTING : ARISMANTORO
PEMERIKSA : DHIAN
Banyak orang yang saat ini masih mengira bahwa pendidikan dan kesuksesan hanya bisa diperoleh dari bangku sekolah. Sehingga banyak orangtua yang berlomba-lomba memasukkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah favorit. Tujuannya satu, yaitu agar anak-anak mereka menjadi anak yang pandai. Banyak dari kita juga masih menganggap bahwa IQ (Intelligence Quotient) merupakan tolak ukur kecerdasan dan kesuksesan seseorang. Orang yang ber-IQ tinggi dianggap lebih berpeluang daripada mereka yang memiliki IQ yang lebih rendah. Namun, apakah kedua pendapat tersebut 100% benar? Ada hal lain yang pada kenyataannya lebih berperan dalam penentuan kesuksesan seseorang, yaitu Pengembangan karakter dan EQ (Emotional Quotient). Fakta menunjukkan bahwa seseorang yang ber-IQ tinggi tapi tak memiliki EQ, maka ia kurang bisa meraih sukses. Sebaliknya, Orang yang ber-IQ pas-pasan (masih dalam skor normal) tapi memiliki EQ justru bisa berdiri di puncak kesuksesannya.
Orang yang memiliki EQ adalah orang yang lebih mampu mengembangkan karakter yang ada dalam dirinya. Biasanya, orang yang kurang mampu mengembangkan karakter disebabkan oleh pengaruh keluarga dan pendidikan yang diterapkan saat masih kecil. Misalnya: Orangtua selalu menyuruh anak-anaknya belajar dan melarang mereka bermain. Orangtua merasa takut anak-anak mereka menjadi bodoh karena bermain. Akibatnya, anak tidak bisa mengembangkan karakternya. Padahal dunia anak adalah dunia bermain . Dengan bermain itulah mereka belajar, berkembang, dan berkreativitas.
Buku pengembangan diri berjudul: Tinjauan Berbagai Aspek Character Building ini berisi 14 tulisan dari para pemerhati pendidikan anak, yaitu Umar Suwito, Probosuseno, Seto Mulyadi (Kak Seto), Tadkiroatun Musfiroh, Farida Hanum, Das Salirawati, Hajar Pamadhi, Rita Eka Izzaty, Hermanto SP, Mukti Amini, Anita Yus, Eva Imania Eliasa, Sri Lestari Linawati, dan Nova Indriati. Tujuan mereka adalah menggugah orangtua dan para pendidik tentang pentingnya pengembangan karakter bagi anak yang harus dimulai sejak dini. Orangtua dan pendidik memegang peranan penting dalam mengasuh dan mendidik anak.
Salah satu gaya pengasuhan yang disarankan adalah model orangtua pencerdas emosi. Orangtua harus bisa menghargai emosi anak, mau mendengarkan anak, berempati dengan kata-kata yang menenangkan, dan membantu anak dalam mengenali emosi serta membantu pemecahannya. Selain itu disarankan pula model hypnoparenting. Teknik ini sebenarnya cukup sederhana. Dalam hal ini orangtua harus memiliki sifat positive feeling & positive thinking. Orangtua harus selalu memakai kalimat positif dan menghindari kalimat negative dalam mendidik anak sehingga situasi rumah selalu kondusif. Kebiasaan zaman dahulu, seperti memarahi anak & memberi hukuman jika anak melakukan kesalahan sebaiknya ditinggalkan. Akan lebih mengena jika bentuk hukuman yang diberikan orangtua adalah yang bersifat mendidik (positif). Orangtua juga berkewajiban menciptakan suasana rumah yang hangat & tentram, harus bisa menjadi panutan bagi anak-anak, dan harus mengajarkan karakter yang baik pada anak.
Selain itu, dalam mengembangkan karakter anak juga diperlukan pendekatan kasih sayang di sekolah . Pendidik (guru) harus memiliki kepekaan dan kemampuan psikologis terhadap anak. Dalam buku ini dipaparkan bahwa pendidikan kasih sayang sangat tepat diterapkan di Indobesia. Dengan pola ini, diharapkan anak bisa menumpahkan permasalahan yang sedang mereka hadapi pada guru. Jadi, mereka tidak akan lari ke hal-hal negatif jika sedang menghadapi permasalahan. Di era sekarang, banyak anak muda yang mengkonsumsi narkoba & obat-obat terlarang, minum minuman keras, melakukan pesta seks dengan alasan ingin lari dari masalah. Mereka tidak memiliki tempat untuk menumpahkan permasalahan. Jadi, dalam hal ini guru tidak hanya bertugas menyampaikan pelajaran namun juga harus bisa mendengarkan dan memecahkan masalah anak.
Buku ini layak dibaca dan dapat dijadikan wacana bagi para orang tua, pendidik, atau siapa saja yang peduli pada pendidikan anak. Dengan menerapkan pola pengasuhan dalam buku ini diharapkan anak bisa mengenali karakter dirinya dan pada saatnya mereka lebih siap menghadapi masa depan karena kecerdasan emosionalnya telah terbangun sejak dini.
Diterbitkan di: September 10, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.