Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>The Fifth Column - Ernest Hemingway

The Fifth Column - Ernest Hemingway

oleh: Radja     Pengarang : Ernest Hemingway
ª
 
The Fifth Column; Perang = Mati sia-sia
(Angkatan Kelima)
Ernest Hemingway


…Pada jaman dulu mereka menulis betapa manis dan terhormat orang yang mati demi negaranya. Tapi dalam perang modern kematianmu tidak lagi manis dan terhormat. Seperti seekor anjing kau akan mati tanpa alasan yang jelas..(Notes for the Next War, Ernest Hemingway)


Melalui 3 baris kalimat notes-nya diatas, Ernest Hemingway mencoba mengidentifikasi makna perang di era modern sebagai latar 1 karya drama & 4 cerita pendek dalam bukunya ini. Bagi yang pernah menonton film bersetting perang semacam Brave Heart, Lord of The Ring, The Last Samurai, maka bersiaplah untuk kecewa saat membaca buku ini. Anda takkan menemukan pahlawan seorang pun didalamnya. Perang yang ‘seharusnya’ mengisahkan tokoh pejuang, pemberani, ditangan Hemingway malah diisi oleh para penakut, pengecut & pengkhianat sebagai tokohnya. Tapi disinilah kekuatan utamanya. Peraih Nobel Kesusateraan tahun 1954 ini membawa kita hadir ditengah kancah Perang Sipil Spanyol tahun 1937 untuk menyaksikan betapa perang hanya semata aktivitas saling membunuh antar manusia. Tak kurang, tak lebih.
Pada cerpen PENGADUAN (Hal.161-183), tokoh Aku (sudut pandang orang pertama subjektif) bersama seorang Waiter Bar terjebak dalam konflik bathin. Keduanya terpojok pada keharusan mengadukan seorang kawan lamanya (Luis Delgado) yang dalam perang tersebut berdiri dipihak lawan mereka. Tokoh Aku dan Waiter bar diawal cerita saling mengharap dan menekan satu sama lain untuk memikul tanggung jawab mengadukan Lusi Delgado pada markas polisi pemerintah. Mereka pada satu sisi terbebani dengan keberanian Luis Delgado yang hadir di Bar tersebut yang notabene berada dalam wilayah demarkasi mereka, dan disi lain mereka tidak mau dianggap berdosa karena tidak melaporkan keberadaan sang musuh tersebut kepada polisi.
Dengan cara bertutur yang kuat dan ritmis khas Hemingway kita juga disodori oleh deskripsi Bar Chicote’s sebagai latar tempat. Meminjam Bar tersebut, Hemingway menelanjangi sisi kemanusiaan kita yang cenderung tidak masuk diakal. Bagaimana para pengunjung bar yang baru saja membunuh dipagi hari atau mereka yang dijadwal untuk maju ke garis depan esoknya bisa terlibat dalam interaksi, pembicaraan dan diskusi dengan topik-topik ringan khas obrolan antar tetangga di waktu damai di Bar itu. Bagaimana seorang Luis Delgado yang berani mengambil resiko mati dengan pergi ke Bar tersebut yang berada dalam wilayah kekuasaan lawannya, hanya untuk memenuhi hasrat manusiawinya, yaitu bertemu dan bercengkerama dengan sahabat-sahabat lamanya. Inilah pesan yang ingin disampaikan oleh Hemingway. Perang bagaimanapun ganasnya tak mampu membunuh sisi-sisi kemanusiaan seseorang sebagai homo socius. Dan pada akhir cerita, tokoh Aku menelpon polisi yang akhirnya menangkap Lusi Delgado, Memintanya memberitahu Luis Delgado bahwa dialah (Aku), sahabat lamanya yang mengadukannya. Tokoh Aku ingin menegaskan bahwa dia –sebagai sahabat- masih punya sisi kemanusiaan yaitu Rasa Bertanggung jawab.
Di 3 Cerpen berikutnya; Kupu-kupu dan Tank, Malam Sebelum pertempuran, Di atas Punggung Bukit, Hemingway kembali menggunakan sudut pandang tokoh Aku dalam melukiskan konflik-konflik kecil para tokoh ceritanya sebagai media penyampaian pesan. Konflik kecil yang seolah tak ada artinya dihadapan perang besar dimasa itu justru diolah sebagai cermin besar dalam mendefinisikan makna sejati perang itu sendiri. Hemingway memaksa kita menggunakan pelupuk mata untuk melihat perang dalam perspektif semut dan bukan sebagai gajah.
Buku yang isinya ditulis tahun 1937 ini sebenarnya sangat cocok bagi para penulis pemula yang hendak belajar menulis cerita fiksi. Hemingway menuntun kita belajar teknik menggiring pembaca seolah berada nyata dalam setting waktu & tempat terjadinya peristiwa. Kalimat singkat, paragraf singkat, kalimat aktif & bahasa yang dahsyat, itulah empat rumus dasar Hemingway dalam menulis. Kita juga bisa meniru cara dia menyisipkan tema & pesan cerita secara tersirat. Hemingway tidak menaruh pesan secara kasar & amatir lewat dialog atau ending cerita sebagaimana kebiasaan penulis sekarang. Dia justru menyisipkannya secara halus dan hati-hati, tersebar merata pada semua paragraf. Dan pembaca akan terkejut dengan kecerdasannya sendiri, saat berhasil menemukan tema & pesan moral cerita begitu selesai membaca tanpa merasa digurui. Tak salah kalau Erza Pound menyebut Ernest Hemingway sebagai ‘Penulis prosa dengan gaya terbaik di dunia’.

Penerbit Pedati, Agustus 2003 ( penerbitpedati@hotmail.com)
Diterjemahkan dari judul asli : The Fith Column & Four Stories of the Spanish Civil War
Simon and Schuster Inc. Rockefeller Center, New York, NY 10020

Diterbitkan di: 08 Juli, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.