Merencanakan keuangan
keluarga sebenarnya merupakan sesuatu yang wajib dilakukan oleh setiap keluarga, namun banyak keluarga
di Indonesia yang memilih jalan hidup mereka
let it flow, mengalir saja. Tanpa memperhitungkan biaya hidup dengan inflasi yang terus menanjak dairi tahun ke tahun. Pengharapan mereka akan turunnya harga adalah sesuatu yang sia - sia. Alhasil, ketika mereka menghadapi kesulitan keuangan, mereka harus gali lubang tutup lubang, dan tidak pernah mendapatkan apa yang sebenernya mereka inginkan dalam hidup ini.
Uang bukanlah segalanya, namun segalanya hampir pasti butuh uang. Seperti halnya untuk setiap fase kehidupan manusia, lulus kuliah, menikah, punya rumah, melahirkan, pendidikan anak, dan pensiun. Butuh uang semuanya bukan ... Itu yang seharusnya menjadi dasar pemikiran semua
keluarga untuk melakukan perencanaan keuangan.
Adalah
Aidil Akbar Madjid (AAM), seorang
Wealth Planner dan Pakar Ekonomi Mikro dan Keluarga yang telah berpengalaman di Amerika Serikat, sejak tahun 1994, selalu aktif untuk mengajak keluarga Indonesia selalu melakukan perencanaan keuangan melalui tulisan-tulisan di majalah, karangan buku, On Air di Radio dan Televisi, sekaligus seminar dan talkshow keuangan. Buku terbarunya ini merupakan kumpulan pertanyaan dan pembahasannya yang ada di sebuah majalah, dan pastinya seluruh pertanyaan sangat dekat dengan kejadian sehari - hari yang dialami oleh keluarga Indonesia. Seperti contohnya, kebingungan seorang ibu antara memilih tabungan pendidikan atau asuransi pendidikan untuk sang anak. AAM tidak memberikan jawaban untuk memilih keduanya, karena hasil yang didapat keduanya tidak maksimal, dibandingkan inflasi yang akan terjadi di masa yang akan datang. Tapi AAM justru menyarankan untuk mengambil reksadana, yang untuk sebagian orang Indonesia masih awam mengenai hal ini. Hmm... saatnya belajar hal baru untuk keluarga Indonesia...
Pembahasan lain misalnya adalah asuransi. Banyak keluarga Indonesia tidak mau memiliki suransi, dengan berbagai alasan. Sangatlah penting memiliki asuransi, ibaratnya
sedia payung sebelum hujan. Karena kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, seperti PHK, sakit kritis, krisis ekonomi, sang pencari nafkah meninggal dunia, dan lain sebagainya. Asuransi baru akan terasa manfaatnya jika sudah terjadi resiko, apalagi jika resiko yang terjadi adalah sang pencari nafkah meninggal dunia. Asuransi bukan untuk orang yang meninggal dunia, tapi orang yang ditinggalkan harus terus mendapatkan kehidupan yang layak. Jika belum terjadi resiko, anggaplah Anda sedang mendisiplinkan diri dalam menabung.
Selain asuransi, buku ini juga membahas mengenai perencanaan hutang, perencanaan penghasilan tidak tetap, perencanaan dana darurat, perencanaan pendidikan anak, dan perencanaan dana pensiun. Setelah pembaca mengetahui mengenai macam - macam perencanaan keuangan tersebut, pada bab akhir buku ini, AAM kemudian mengelompokkan pengeluaran uang tersebut ke dalam 3
amplop, (bonus 3 amplop di dalam buku) yang harus selalu diisi setiap bulannya setelah menerima gaji, yaitu
Amplop merah,
Kuning dan
Hijau.
Amplop merah adalah amplop investasi jangka panjang yang harus
diisi pertama. Seperti untuk pendidikan anak, pensiun, pembelian aset, dan lain-lain (misalnya naik haji).
Amplop Kuning adalah amplop yang boleh
diisi setelah amplop merah diisi, karena merupakan amplop investasi jangka menengah (tahunan). Misalnya, Dana darurat, Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan, Pembayaran STNK, Asuransi tahunan, dan lain - lain. Yang
terakhir diisi adalah
amplop Hijau, yaitu amplop untuk pengeluaran bulanan, seperti listrik, telepon, kredit, transportasi, makan dan minum, serta pengeluaran bulanan lainnya.
Ternyata mudah bukan untuk berdisiplin dalam merencanakan keuangan. Hanya dengan cara sederhana, yaitu penggunaan amplop, keluarga Indonesia sudah siap untuk menjadi keluarga yang mandiri, dan berkontribusi positif dalam perekonomian Indonesia.
Ayo rencanakan Keuangan Keluarga Anda dari sekarang !!!