Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Perbedaan Pendapat Adalah Wajar

Perbedaan Pendapat Adalah Wajar

oleh: cheppy     Pengarang : No_Name
ª
 
PERBEDAAN PENDAPAT
ADALAH WAJAR SAJA


Masyarakat Islam secara umum terbagi menjadi 2 golongan besar, yaitu golongan Ahlu Sunnah waljama’ah yang disebut juga sunni, dan golongan Syi’ah. Menurut sejarah, golongan Ahlu Sunnah waljama’ah lahir pada zaman ketika Muawiyah menjadi khalifah menggantikan Khalifah Ali yang terbunuh, sedangkan golongan Syi’ah lahir sebelumnya yaitu pada zaman Khalifah Umar bin Khatab.
Bila pengikut golongan Ahlu Sunnah waljama’ah sangat menghormati para sahabat Rasulullah saw. Sebagai pribadi yang agung, maka pengikut golongan Syi’ah hanya menganggap Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat Rasulullah SAW. Yang layak diikuti.
Selanjutnya sebagai golongan Ahlu Sunnah waljama’ah terpecah menjadi 4 Mazhab, yaitu Maliki, Syafi’i, Hanafi dan Hanbali. Dan di Indonesia sebagian besar mengikuti mazhab Syafi’i yang terbagi-bagi lagi menjadi paham Muhammadiyah, NU, Persatuan Islam dan lain-lain.
Sedangkan golongan Syi’ah hanya mengenal mazhab Ahlul Bait, yaitu hanya mengikuti para ahlul bait yang menurut mereka adalah Ali bin Abi Thalib dan istrinya Fatimah, serta kedua putranya Hasan dan Husein. Mereka tidak beriman dengan mazhab golongan Ahlu Sunnah waljama’ah , demikian juga sebaliknya.
Tentu saja kedua golongan ini masing-masing mempunyai alasan-alasan kuat yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadist, hanya menafsirkannya yang berbeda.
Sebenarnya keberagaman pendapat dalam fiqih ini adalah wajar saja dan hal ini tidak mungkin dapat dihindarkan. Sejarah juga mencatat disamping golongan Syi’ah yang cenderung hanya mengakui Ali, kaum Khawarij hanya mengakui Abu Bakar dan Umar saja, sedangkan kaum Umawi (lama) hanya mengakui Abu Bakar, Umar, Ustman, dan Mu’awiyah (tanpa Ali), terakhir Khalifah Umar Ibn Abd al-Aziz mengakui Abu Bakar, Umar, Ustman, dan Ali. Sikap kita dengan adanya keberagaman ini haruslah bijaksana. Kita harus bersikap toleransi dengan pendapatnya itu didukung oleh dalil-dalil yang sah.
Janganlah kita berburuk sangka (Al-Hujarat:12) atau bertindak zalim terhadap orang yang berbeda paham dengan kita. Ingatlah, selama mereka mengikuti Al-Qur’an dan beriman kepada nabi Muhammad Rasulullah saw. Maka mereka itu Muslim juga dan sesama Muslim itu bersaudara (Al-hujarat:10). Janganlah sampai perbedaan ini memutuskan tali persudaraan, karena hal ini sangat dimurkai Allah (Muhammad:22-23) yang terpenting adalah kita mengerti (tidak taqlid buta) bahwa paham yang kita anut itu ada dalilnya yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadist. Masalah perbedaan penafsiran, haruslah dianggap hal yang wajar dan tidak perlu dibesar-besarkan, apalagi sampai saling mengkafirkan. Adalah lebih bijaksana bila kita menjaga persatuan menyeluruh kaum Muslim tanpa memandang perbedaan pendapat dikalangan mereka, yang tentunya sepanjang perbedaan itu tidak mengenai pokok-pokok keimanan. Al-Qur’an sendiri mengatakan, “Wahai sekalian orang yang beriman ! janganlah suatu golongan menghina golongan (lain), kalau-kalau mereka (yang dihina) itu lebih baik daripada mereka (yang beriman)…” [Al-Hujarat:11].
Bagaimana mungkin kita mengatakan kafir pada orang yang tidak sepaham dengan kita, sedangkan Rasulullah SAW sendiri mengatakan: “Siapa saja yang kau jumpai menyaksikan bahwa Tiada Tuhan Selain Allah dengan penuh keyakinan, maka berilah berita gembira akan syurga kepadanya.”
Diriwayat lain diceritakan, “Suatu hari Tha’labah memohon kepada Rasulullah saw. Agar mendo’akan supaya dia jadi kaya raya. Dia mendesak Rasulullah dan berjanji kepada Allah akan bersedekah apabila dia kaya kelak. Rasulullah mendo’akannya dan Allah pun memperkayakanya. Setelah kaya ia tidak sempat lagi menghadiri shalat Jum’at, bahkan ketika nabi mengutus para Amilin (pengumpul zakat) untuk mengambil zakat dari Tha’labah, dia menolak untuk memberikannya. Mengetahui hal ini Rasulullah tidak memeranginya (!). Hukuman yang dijatuhkan Nabi pada Tha’labah malahan seolah-olah membebaskannya dari kewajiban, yaitu nabi tidak pernah mau menerima zakat darinya. Dibandingkan dengan pembangkangan Tha’labah, maka perbedaan fiqih rasanya tidaklah sefatal itu. Lalu mengapa hukuman yang kita jatuhkan jadi lebih berat, yaitu dianggap kafir. Bukankah ini terkesan berlebih-lebihan ?
Hendaknya kita camkan baik-baik, dalam menilai suatu mazhab atau paham, janganlah melihat dari tingkah laku penganutnya, namun nilailah dari ajaran-ajarannya.
Dalam perjalanan hidup ini, akan kita temui berbagai aliran-aliran agama Islam yang kesemuanya mengaku bersumber pada Al-Qur’an dan Hadist. Ada sedikitnya tiga kriteria pokok yang harus dipenuhi oleh suatu aliran yang benar yaitu;
  1. Tidak menyebabkan putusnya persudaraan dengan umat Muslim. Ingatlah bahwa yang menjadi panutan kita adalah Rasulullah SAW. Tidak pernah memerangi orang yang telah mengucapkan syahadat. Adapun perang antar kaum Muslimin terjadi setelah Rasulullah wafat. [Rasulullah SAW. Pernah bersabda “Orang muknin terhadap mukmin lain bagaikan bangunan, yang tiap bagiannya saling menguatkan.”]
  2. Meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah. Indikatornya adalah disamping menjalankan dengan taat syariat (peraturan-peraturan agama), juga harus mampu melaksanakan shalat khusuk, bersabar, ikhlas, tawakal, bersyukur, tidak melakukan syirik, serta mampu mengalahkan nafsu.
  3. Kehadirannya tidak membuat orang lain merasa takut atau cemas. [Rasulullah SAW. Bersabda, “seorang Muslim (yang ideal) ialah yang sesama Muslim selamat dari lidah dan tangannya].

Diterbitkan di: 14 Juni, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.