.
Telepati: Semua Pasti Bisa!!!
font-family: georgia; color: black;">Semua Pasti Bisa!
Telepati mudah dipelajari. Ilmu
katon. Siapa saja bisa. Terlepas dari apa pun agama dan kepercayaan yang kita
anut. Terlepas apakah kita percaya atau tidak. Yakin atau tak yakin. Semua orang
pasti bisa.
Telepati adalah kemampuan dasar yang
sebenarnya sudah dimiliki oleh setiap manusia. Tidak peduli orang tersebut menyadarinya atau tidak. Mengapa? Karena
sejatinya, sebelum kita memasuki alam lahir, kita masih berwujud roh. Nah,
dengan apa roh tersebut saling berkomunikasi? Tentu saja dengan menggunakan
telepati!
Banyak salah penafsiran mengenai
telepati ini, di antara yang paling populer dari pendapat yang salah tersebut
adalah: telepati adalah kegiatan membaca pikiran orang lain. Ini jelas salah! Telepati bukan kegiatan seperti itu, telepati
adalah saling berkomunikasi dengan pikiran. Laksana telepon genggam metafisika.
Oleh karena itu, ada baiknya
kita mulai mencoba beberapa latihan berikut yang dapat membuktikan bahwa
kemampuan telepati adalah hal yang dapat dimiliki oleh semua orang. Latihan
berikut membuktikan bahwa kemampuan telepati adalah hal yang nyata, dan dapat
dilakukan oleh siapa saja:
Kunci dari telepati adalah “memusatkan pikiran pada kondisi dan situasi saat ini”, artinya
tidak memikirkan masa lalu atau masa depan. Pusatkan pikiran pada kondisi saat
ini, pusatkan pikiran pada ruang tempat kita berada saat ini, dan pusatkan
pikiran pada situasi yang sedang dihadapi saat ini. Memang, ini merupakan
bagian yang paling sulit sekaligus paling menarik untuk dapat menguasai
telepati. Duduklah bersama dua orang yang dekat hubungannya dengan
kita. Dua orang tersebut bisa orang yang kita sayangi, kawan, adik atau anak
kita. Untuk mudahnya, kita sebut saja mereka Suyet A dan Suyet B. Kemudian letakkan tujuh batang pensil warna di atas meja. Perintahkan kepada Suyet A untuk memilih sebatang pensil. Cara
mengirim perintahnya biasa saja, seperti kita menyuruh seperti biasa, “Tolong ambil pensil yang berwarna biru.”
Tetapi, tentu saja kalimat itu hanya terpancar melalui pikiran, tidak
terucapkan dengan lisan. Setelah pesan tersebut terpancar dari pikiran Anda,
Anda dapat memberi isyarat kepadanya dengan berkata, “Kirim.” Suyet A akan membaca pesan yang Anda kirim kemudian mengirim
kembali pesan tersebut ke Suyet B di sebelahnya. Dia pun harus memberi isyarat kepada
Suyet B dengan berkata, “Kirim.” Suyet B sebagai penerima pesan terakhir harus membaca pesan
yang dikirim oleh Suyet A, dan langsung memilih pensil yang telah disiapkan di
atas meja. Jika salah, maka harus kembali memikirkan warna tersebut sampai dia
mendapatkan jawaban yang benar. Misalnya, biru.
Lakukan latihan ini sampai proses pengiriman dan penerimaan
pesan telepati dapat berjalan lancar. Kemudian istirahat. Pada latihan putaran kedua, Anda dapat memutar giliran
dengan menyuruh Suyet A sebagai penentu pilihan warna dan pengirim pesan
telepati pertama. Suyet B akan menerima pesan tersebut, dan kemudian
menyampaikannya kepada Anda. Di sini Anda berlatih sebagai “penerima pesan”.
Memang melelahkan, tetapi lama kelamaan kita akan dapat melakukannya dengan
mudah. Di akhir pelatihan, akan dapat kita ketahui bahwa ada orang yang berbakat dalam mengirim dan
ada pula yang sangat berbakat dalam menerima. Anda pun akan menyadarinya, apakah
merasa lebih mudah dalam mengirim pesan atau dalam hal menerima pesan. Terima
saja, apa pun bakat dasar yang Anda miliki. Diterbitkan di:
Mei 14, 2009