Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak

Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak

oleh: tiwikrama     Pengarang : Andri Priyatna
ª
 

Bagaimana Menumbuhkan Rasa Percaya Diri pada Anak

Percaya diri adalah sebuah kekuatan yang luar biasa. Dia laksana reaktor yang membangkitkan segala energi yang ada pada diri untuk mencapai sukses. Jadi, bantulah anak kita untuk mengembangkan kekuatan ini.

Berikut 7 ide dalam membangun rasa percaya diri pada anak:

1. Beri pujian untuk setiap pencapaian dan hasil pekerjaan yang baik.

MULAI DARI SEKARANG, temukan sesuatu yang dapat kita puji dari anak-anak. Seperti…

“Luar biasa, cepat sekali hafalnya.”

“Tulisan tangannya bagus sekali.”

“Hebat, pekerjaan rumahnya selalu selesai tepat waktu.”

“Ingatanmu sangat tajam, seperti gajah! Hehe…”

“Kamu pandai sekali mencari teman yang baik.”

“Terima kasih atas bantuannya.”

Perhatikan setiap hasil pekerjaan kecil dan besar yang baik, kemudian beri pujian atas hasil jerih payahnya tersebut. Hal inilah yang dinamakan ‘positive programming.’ Kita menanamkan program pada anak agar selalu dan selalu melakukan hal-hal yang baik—tanpa membantah dan mengeluh, serta…otomatis!

Anak yang cukup mendapat kasih sayang akan merasa baik pada diri mereka sendiri, mengembangkan rasa percaya diri lebih tinggi, dan menerima lebih banyak sukses dalam kehidupannya.

Tetapi, ingat pula JANGAN memberi pujian tanpa alasan. Karena boleh jadi anak menjadi gila pujian, padahal dia tidak habis melakukan apa-apa.

2. Ajari anak untuk belajar menerima TANGGUNG JAWAB.

Ajari anak untuk membantu kita melakukan beberapa jenis pekerjaan rumah, sesuai dengan usianya, seperti: membersihkan kamarnya, menggantung pakaiannya dengan rapi, merapikan meja belajar, menyiram bunga, merapikan tempat tidurnya, dll. Untuk anak yang lebih tua, kita dapat memintanya membantu mencuci piring atau pakaian.

Kebiasaan-kebiasaan seperti itu akan memberi anak rasa tanggungjawab, mengajari mereka mau menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tugasnya, serta akan menumbuhkan rasa percaya diri.

3. Mengajari anak selalu bersikap ramah dan senang membantu.

Untuk itu, kita harus selalu ramah kepada siapa saja. Tersenyumlah kepada mereka. Tertawa bersama mereka, dan jadikan segala rutinitas harian menjadi menyenangkan. Ajari anak untuk mau membantu orang lain apabila mereka mampu—misal, membantu kawan sekelas atau kawan sepermainannya.

Ajari anak agar mau berbagi dengan saudara-saudaranya. Sikap senang membantu ini akan menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan dan meningkatkan rasa manfaat diri sendiri.

4. Ubah kesalahan menjadi “bahan baku ” untuk kemajuan.

Pada saat anak kita melakukan suatu kesalahan, tetap fokus pada kemajuan yang telah dicapainya—bukan pada kesalahan atau kegagalan yang terjadi.

Misal, jika anak datang dengan nilai rapor yang buruk, adalah tindakan sia-sia jika kita serta merta memarahinya. Lebih bermanfaat apabila bersama-sama menelusuri mata pelajaran apa yang nilainya jelek, dan mana yang “lumayan”. Doronglah anak untuk mendalami mata pelajaran yang masih kurang dikuasai, sampai diperoleh kemajuan.

5. Jangan “menepuk air di dulang”.

Banyak orang yang mengkritik atau mengeluhkan tentang anak-anak mereka kepada orang lain atau tetangga. Bahkan terkadang langsung di depan anak yang bersangkutan.

“Si Ifan ini memang bandel! Saya sampai bosan mengajarinya!” atau “Angga ini nilai matematikanya selalu jeblok. Dasar otak pepaya!”

Sebagai orang tua, kita harus berhati-hati pada setiap apa yang kita ungkapkan tentang anak kita kepada orang lain. Jika ingin mengungkapkan tentang anak kita kepada tetangga atau orang lain—ungkapkan yang baik-baik saja. Diskusikan kemajuan-kemajuan yang diperolehnya, khususnya jika pada saat itu anak sedang berada di dekat kita.

Misal, jika anak datang dengan nilai rapor matematika yang jeblok, tetapi nilai Bahasa Inggrisnya bagus—bahas saja nilai Bahasa Inggris. “Ifan kuat di Bahasa Inggris. Nilainya bagus sekali!”

Jika anak kita malas belajar, tetapi punya ingatan yang tajam—bicarakan saja tentang kelebihan mengingat yang dimilikinya. Atau, jika anak bangun kesiangan, tetapi kamarnya bersih dan rapi—bahas saja kerapian kamarnya dan kebiasaannya untuk selalu menjaga kebersihan dan kerapian.

6. Dukung apa yang menjadi minatnya.

Dukung hobi dan mimpi-mimpi anak kita. Jika anak suka menggambar, doronglah dia untuk menggambar di waktu luangnya. Jika anak perempuan kita suka mengamati burung, beri hadiah sebuah binokular agar dia dapat lebih saksama mengamati burung.

Tindakan-tindakan seperti itu, tidak hanya akan membangun rasa percaya diri, tetapi juga akan meningkatkan kadar kreativitas mereka. Dan…siapa tahu anak akan mencapai sukses besar dari hobi dan minatnya tersebut.

7. Hindari memanjakan anak.

Coba untuk tidak bersikap overprotect terhadap anak-anak. Sikap seperti demikian hanya akan menjadikan anak lemah dan selalu bergantung pada orang tua. Orang tua harus mampu menumbuhkan rasa mandiri dan percaya diri anak-anaknya dengan cara yang bijak.

Diterbitkan di: 12 Mei, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    Anak sy umur 14 skrg SMP 1 krn kmrn tdk naik kelas. Menurut hsl psyko test dia cenderung tdk pede dan cpt stress khususnya dlm mengerjakan ulg. pdhl sdh bljr dan bisa. tp nilai ulg sering jelek. Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    kapercayaan diri itu seperti apa .? ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    Sederhananya, kepercayaan diri adalah kumpulan ide tentang diri sendiri, shg dia pun merasa baik terhadap dirinya sendiri. 22 Februari 2012
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    ana saya umur 8 tahun kelas 3 sd.kata guru nya di sekolah anak saya ini suka bengong,kurang semangat bergaul dengan teman-teman nya. lamban mengerjakan tugas nya di sekolah. bagaimana solusinya ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    ada kemungkinan anak Anda mengidap gangguan defisit atensi hiperaktif (ADHD); predominan Inatentif. Solusi terbaik adalah memberi ritual pagi yg memberi semangat, selalu terhubung dengan anak, dan menjalin komunikasi yg baik dgn guru. Selengkapnya bisa dilihat di: http://www.gramediashop.com/book/detail/9789792772418/Not-A-Little-Monster 26 Juni 2011
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.