Revolusi Agustus 1945 yang berhasil gemilang bukanlah suatu "maha-kejadian" yang berdiri sendiri atau yang terjadi dengan
sendirinya, tetapi suatu pemantik dalam sejarah yang begitu erat kaitannya dengan peristiwa perjuangan sebelum itu. Dengan kata lain, kemerdekaan Indonesia adalah pencapaian yang telah dipersiapankan dan dilakukan sejak berpuluh-puluh tahun oleh berbagai pergerakan kemerdekaan di Indonesia dengan pengorbanan yang tidak sedikit.
Sejak tahun 1926
Bung Karno sudah mencita-citakan persatuan antara golongan Nasional, Islam dan Komunis, atau yang lebih dikenal dengan Nasakom. Buku tebal ini menyiratkan bagaimana sosok Sukarno sebagai pemikir besar, sebagai pendekar persatuan, sebagai garda depan pemegang komando pergerakan kemerdekaan bangsa, sebagai seorang Islam modern yang gigih menganjurkan supaya pengertian Islam disesuaikan dengan kemajuan zaman yang begitu pesatnya, sebagai realis dan humanis.
Buku ini merupakan penyegaran kembali atas kesadaran tentang apa sesungguhnya jiwa dan tujuan pergerakan kemerdekaan dimasa lampau. Dengan membaca lagi tulisan-tulisan Ir. Sukarno, kita dapat bercermin "Apakah sikap dan tindakan kita sekarang ini masih sesuai dengan jiwa pergerakan dan perjuangan dimasa lalu, yakni tujuan-tujuan yang tidak berhenti dengan tercapainya kemerdekaan Indonesia saja, tetapi harus berjalan terus menuju demi terwujudnya cita-cita masyarakat yang adil dan makmur. Ataukah justru kita telah berganti haluan menjadi semacam exponen dari
kapitalisme global yang dikutuk dalam tulisan-tulisan Bung Karno?".
Soekarno dan buku Dibawah Bendera Revolusi adalah monumen sejarah yang tak terlupakan