"Saudara, Rusia telah kembali, itu harus diperhitungkan!"
Demikian pernyataan mantan Presiden Rusia
Vladimir Putin dalam
konferensi tahunan mengenai kebijakan keamanan di Muenchen, Jerman, 10 Februari 2007. Dengan penuh percaya diri, Putin melempar pernyataan itu di hadapan para pejabat tinggi Eropa dan Amerika Serikat (AS), termasuk Menteri Pertahanan AS Roberts Gates. Seakan menjadi sebuah penegasan kepada dunia bahwa Rusia telah bangkit dan siap menandingi dominasi Barat.
Setelah sebelumnya sempat terpuruk karena efek domino krisis ekonomi Asia tahun 1997. Rusia di bawah komando Putin mengalami kemajuan yang signifikan. Rusia kini merupakan kekuatan ekonomi nomor delapan di dunia dengan nilai riil produk domestik bruto sekitar 1,7 triliun dollar AS. Rusia juga mampu melunasi utangnya sebesar 40 miliar dollar kepada IMF. Perekonomian Rusia diprediksikan akan semakin besar di masa mendatang.
"Kibarkan rasa cinta tanah air dan laksanakan", demikian panduan bagi pembangunan Rusia. Terobosan Rusia cukup mengejutkan. Melalui buku ini,
Simon Saragih menelisik sendi-sendi penting dalam tubuh Rusia serta pergulatan kelompok patriotik yang di motori mantan anggota KGB, dinas intelijen Rusia yang tak kenal kompromi.
Tonggak Awal
Rusia di masa lalu (baca: Uni Soviet) pernah melancarkan pembaruan melalui ide glasnost dan perestroika (keterbukaan dan restrukturisasi), kausal yang mengantarkannya ke dalam arus globalisasi, namun sayangnya langkah itu tidak dibarengi oleh ketahanan ekonomi yang memadai. Pasar gelap yang mencatat kurs US$ 1 untuk 60 sampai 100 rubel (kurs resmi US$ 1=1 rubel) dalam waktu yang tidak terlalu lama merosot hingga US$ 2 dihargai 1.000 rubel. Krisis nilai tukar di pasar gelap segera memicu ledakkan social dynamite yang sudah lama tertanam di Negeri Tirai Besi itu.
Dampak kemerosotan rubel baru dapat diselesaikan lebih dari sepuluh tahun kemudian melalui keputusan "politik-ekonomi" Boris Yeltzin: menetapkan satu rubel Rusia baru sama dengan 1.000 rubel uang lama di akhir tahun 1997. Melalui proses penyehatan ekonomi yang panjang dan menyakitkan, pada 1 Januari 1998, US$ 1 sepadan dengan 6 rubel Rusia (baru) -- sebuah tonggak permulaan bangkitnya kembali perekonomian.
Peningkatan berikutnyaya melebar kepada ekspor alat-alat persenjataan roosvooruzheniye. BUMN Rusia memonopoli perdagangan ekspor. Berbagai order dan kontrak telah meningkatkan penjualan ekspor senjata sejumlah 4 miliar dolar di tahun 1997 menjadi 6 miliar dolar di tahun 1998 (Economist lnteligence Unit).
Dengan perekonomian yang membaik, Rusia bisa melepaskan diri dari ketergantungan kepada Barat. Harga diri dan gengsi Rusia di hadapan negara lain meningkat, pengaruhnya di tingkat regional dan global pun semakin kokoh. Putin, yang beberapa tahun lalu masih dicitrakan sebagai pemimpin bersahaja dan tidak berkoar-koar, kini tegas mengatakan, "Saya ingin mengembalikan kejayaan Rusia sebagaimana saat
Perang Dingin."
Seteru Lama
Sepanjang tahun 2007, Putin melontarkan berbagai kritik tajam terhadap mantan seteru utamanya Amerika Serikat. Menurut Putin, AS merupakan kekuatan sembrono yang membuat dunia menjadi lebih berbahaya akibat kebijakan perangnya. Di katakan juga, AS telah secara liar mempertontonkan kekuatan di berbagai negara hingga memicu perlombaan senjata di tingkat global. Masih belum cukup, Juni 2007, Putin menyebut AS sebagai kekuatan imperialisme yang mencoba mendikte dan memaksakan keinginan kepada orang lain.
Rusia juga semakin tak gentar untuk menyeimbangkan kekuatan militernya. Rencana AS yang ingin membangun sistem pencegat rudal di Polandia dan Ceko --yang notabene adalah bekas sekutu Uni Soviet dan jaraknya dekat dengan Rusia--. Di anggap sebagai proyek yang mengancam keamanan Rusia. Karena itu, Rusia mengancam akan menempatkan sejumlah roket di wilayah Kaliningrad, wilayah Rusia yang dekat dengan UE.
Tidak hanya sebatas itu, Rusia juga mulai memamerkan kekuatan militernya. September 2007, Rusia menguji coba bom non-nuklir berdaya ledak terhebat dalam sejarah yang dijatuhkan dari pesawat. Bom yang disebut "ayah semua bom" itu berisi 7 ton bahan berdaya ledak tinggi dengan kekuatan ledak setara 44 ton TNT. Bandingkan bom milik AS yang dijuluki "ibu segala bom". Bom tersebut berisi 8 ton bahan berdaya ledak tinggi, tetapi daya ledaknya "hanya" 11 ton TNT. Hasil uji coba "ayah semua bom" dilaporkan televisi Rusia sebagai sebuah kampanye.
Obsesi Rusia sebagai negara superior seakan membuka kembali memori di era Perang Dingin. Lantas, apa arti semua ini bagi masyarakat dunia? Agaknya kebangkitan Rusia merepresentasikan wajah internasional yang semakin getol dengan kompetisi persenjataan. Hal ini akan memberikan konsekuensi logis terhadap semakin rentannya perdamaian dunia.