• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Buku>Runtuhnya Globalisme dan Penemuan Kembali Dunia

.

Runtuhnya Globalisme dan Penemuan Kembali Dunia

oleh : BlackMorpel    

Pengarang : John Ralston Saul
eolah tanpa asal-usul, Globalisasi muncul pada 1970-an, tumbuh besar dan dewasa, diselimuti dengan aura inklusivitas. Melalui
prisma mazdab khusus ilmu ekonomi, para penganjur dan penganutnya dengan mantap menyatakan, bahwa msyarakat dunia akan menempuh arah baru, saling terkait erat dan positif.
Pada pertengahan 1980-an gagasan mengenai perdagangan untuk menopang pertumbuhan ekonomi diterima di kalangan pebisnis sebagai penyelamat yang bagus dari campur tangan besi pemerintah. Tidak banyak muncul pertanyaan perihal bagaimana cara kerjanya yang sebenarnya dan apa saja dampak besarnya.
Kini, setelah tiga dasawarsa, dapat diamati hasilnya. Melaui buku terbarunya, John Ralston Saul dengan cukup lihai mengelaborasi kebobrokan globalisasi secara reflektif-analitis. Globalisasi yang memiliki keniscayaan sebagai sebuah sistem yang tangguh dikatakan telah semakin rapuh dan terkikis. Hingga membawa Saul pada spekulasi akan runtuhnya tandem globalisasi.
Ekuilibrium negatif
Globalisasi ekonomi sebenarnya tidak terjadi dalam arti sesungguhnya di mana semua negara membuka diri terhadap arus barang, jasa, orang dan uang. Bahkan tidak sedikit negara-negara maju masih menutup sistem ekonominya dengan berbagai cara, tapi “memaksa” negara-negara berkembang untuk membuka diri terhadap negara maju.
Dalam kenyataannya, perusahaan-perusahaan multinasional sebenarnya tidak mensubstitusi perusahaan-perusahaan pada tingkat nasional. Bahkan perusahaan-perusahaan pada tingkat nasional cenderung tumbuh pesat dan melakukan perdagangan pada tingkat global melalui ekspor-impor.
Pada jalur searah, integrasi global secara aksleratif lebih berkutat pada bidang keuangan (bank, pasar modal, perdagangan valuta). Hal ini memberikan implikasi yang cukup rawan karena institusi keuangan yang sudah maju sangat berpotensi untuk meredusir institusi keuangan di negara berkembang. Stabilitas ekonomi negara berkembang menjadi terganggu akibat perubahan iklim investasi, pelarian modal dalam skala global, serta spekulasi-spekulasi institusi dan jaringan keuangan raksasa.
Globalisasi dengan pola yang tidak berbentuk dan tidak terarah seperti sekarang semakin menyulitkan negara berkembang untuk berdiri sama tinggi dengan partnernya negara maju. Aliran modal dalam arti investasi riil dari negara maju pada akhirnya tetap marjinal secara relatif dibandingkan volume aliran modal secara global.
Demikian dapat dikatakan bahwa globalisasi sejatinya tidak berjalan dalam proses yang alamiah dan berkeadilan, karena kekuatan tersembunyi dibalik globalisasi tidak lain merupakan konspirasi kebijakan dan kontrol negara-negara kuat, termasuk mafia pelaku di dalam sistem dan institusi keuangan swasta di negara tersebut.
Monolog pasar
Proses sangat kompleks dari globalisasi memang telah menggiring semua elemen-elemen kehidupan dan seluruh pranatanya untuk masuk secara langsung maupun tidak langsung ke dalamnya. Globalisasi seakan tidak terhindarkan bagi individu, masyarakat dan suatu negara untuk secara mandiri menentukan arah kebijakan dan strategi pembangunan.
Sesungguhnya proses globalisasi bukan tanpa kendali karena aktor-aktor global yang mempengaruhinya sudah teridentifikasi dengan jelas. Pelaku itu tidak lain adalah perusahaan multinasional yang membanjiri produk-produk konsumsi di penjuru dunia. Selain itu, integrasi global juga dicirikan oleh dominasi lembaga-lembaga keuangan, investasi dana, currency trader, dan pialang saham. Aktor-aktor terakhir inilah yang kemudian berperan dominan dan berhasil mempengaruhi sistem keuangan suatu negara.
Dalam koridor seperti inilah globalisasi ekonomi ikut menyentuh sistem dan institusi suatu negara, sehingga secara strategis mampu mensubordinasi sistem politik. Di pasar uang, valuta, dan saham, tidak ada institusi moral dan etika seperti di dalam institusi sosial dan politik suatu negara. Kehadiran globalisasi dalam perspektif ini menjadi krusial, paradoks dan menciptakan konflik nilai.
Kelemahan mendasar dalam mekanisme institusi pasar dapat terbaca melalui dua hal. Pertama, institusi pasar tanpa kehadiran institusi negara –sebagai funsi kontrol- dapat menghasilkan eksternalitas negatif, seperti kerusakan lingkungan alam dan sosial akibat kegiatan ekonomi. Kedua, institusi pasar tidak dapat mengakomodasi moral karena pelaku-pelakunya hanya bermotifkan provit ekonomi. Kelemahan mendasar yang kedua ini dapat terjadi di dalam kekuatan pasar global dengan absennya institusi pengaturan (govenance) pada tingkat global.
Krisis Asia yang dipicu oleh spekulasi fun manager dan currency traders dapat merupakan simbol absennya institusi moral di dalam mekanisme pasar global. Peserta globalisasi dapat terjerumus dengan sendirinya tanpa ada institusi pelindung atau bahkan sengaja dijerumuskan oleh sistem yang kuat dalam pola yang subordinatif. 
Dalam kerangka pikir seperti ini, muncullah pesimisme bahwa bagaimana mungkin globalisasi itu akan dapat mensejahterakan umat manusia. Interdepedensi melalui hanya mekanisme pasar dengan sendirinya akan melahirkan bentuk penolakan terhadap globalisasi itu sendiri.
Diterbitkan di: Februari 08, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.