Penentuan terhadap siapa yang akan menjadi pemimpin Amerika Serikat (AS) tidak hanya memberikan implikasi bagi masa depan
rakyat Amerika, namun juga bagi dunia. Sejarah mengetahui, Amerika adalah negara adidaya yang memiliki peran strategis bagi kelangsungan dinamika global, baik dalam aspek politik maupun ekonomi. Hal inilah yang membuat momentum pemilihan presiden Amerika selalu menyita perhatian masyarakat internasional.
Tahun ini, dua kubu politik terbesar di Amerika telah memastikan delegasi calon yang siap bersaing memperebutkan kursi presiden. Dari Partai Republik terpilih John McCain yang melaju cepat dalam pemilihan kandidat calon. Sementara dari Partai Demokrat, Barack Obama terpilih setelah sukses memaksa Hillary Clinton mengubur impian untuk melenggang menjadi presiden.
Buku yang ditulis oleh Achmad Munif ini merekam jejak perjalanan politik Barack Obama dan McCain menuju ring persaingan politik yang cukup sengit. Di mana keduanya telah melancarkan barbagi manuver politik demi meraih kemenangan dalam pemilihan yang akan dilangsungkan pada November 2008.
Dukungan dan Tantangan
Pada awalnya, Obama sempat diremehkan lawan politiknya mengingat usianya yang masih relatif muda. Dirinya dinilai kurang pengalaman, tidak kapabel, serta masih harus banyak balajar soal politik luar negeri. Namun ternyata, Obama mampu mementahkan seluruh argumen yang berusaha memperkecil peluangnya menuju ajang pemilihan. Justru akhirnya, Obama mulai dikenal melalui kharisma pidato dan retorika politiknya yang cerdas. Bahkan, Obama sekarang mampu menjadi ikon bagi sebagian besar pemuda Amerika.
Sejalan dengan itu, terpaan isu warna kulit (baca: rasial) yang menghadang Obama, juga berbalik melahirkan kesadaran di kalangan publik Amerika untuk segera mengakhiri politik rasial secara lebih nyata.. Dalam bukunya yang berjudul Dream from my Father, Obama sendiri menulis bahwa rasisme masih merupakan kekuatan yang amat kuat di Amerika. Rasisme bukan hanya sebuah kesombongan tetapi juga kekejaman.
Pada gilirannya, kehidupan pribadi dan politik Obama terbukti mampu menjembatani kesenjangan antara hitam-putih, miskin kaya atau bahkan Demokrat-Republik. Meski Obama datang dari partai Demokrat, namun ternyata dirinya juga mendapat dukungan cukup signifikan dari beberapa anggota partai Republik.
Meski demikian, publik juga tidak bisa meremehkan McCain. Sekalipun sudah tua bukan berarti tak memiliki peluang besar. Dalam sejarah pemilihan presiden tahun 1980, Ronald Reagan berhasil mengalahkan Jimmy Carter, juga dalam usia senja. Tidak kurang anggapan, bahwa justru orang tua mempunyai lebih banyak pengalaman dibanding orang muda. Di samping itu, McCain juga telah membuktikan diri sekaligus diakui sebagai patriot yang cinta terhadap Amerika.
McCain adalah seorang mantan militer yang memiliki pengalaman perang cukup panjang dan keras. Bertahun-tahun McCain menjadi pilot pesawat tempur Skyhawk dan selama lebih dari 5 tahun diterjunkan dalam kancah Perang Vietnam. Faktor inilah yang membuat kalangan militer AS menaruh kepercayaan kuat dalam mengalirkan dukungan atas McCain.
Dalam tubuh partai Republik sendiri, McCain sangat didukung oleh presiden AS saat ini, George W. Bush. Belum lama ini Bush mengatakan bahwa McCain adalah calon yang paling siap dan lebih matang untuk memimpin AS. Kedudukan McCain bertambah kokoh karena dukungan juga datang dari Nancy Reagan, istri mantan Presiden Ronald Reagan dan aktor yang juga Gubernur California, Arnold Schwarzenegger.
Agenda Strategis
Jika sebelumnya deru kemelut berkutat pada persoalan kapabilitas, patriotisme serta isu rasialis, belakangan aroma persaingan lebih mengarah pada sejumlah program kerja serta sikap masing-masing dalam merespon persoalan global. Perbedaan Obama dan McCain setidaknya dapat dilihat melalui beberapa agenda paling strategis.
Pertama, terkait perang Irak. Obama berpendapat sekaligus berjanji, bahwa dirinya akan menarik pasukan Amerika dari Irak dalam tenggang waktu paling lama 16 bulan masa pemerintahannya. Sementara McCain justru berpendapat lain, yaitu tetap mempertahankan pasukan Amerika di tanah Irak.
Kedua, mengenai pajak kekayaan. Bila Obama bermaksud mengakhiri kebijakan Bush dalam memotong pajak kekayaan, lalu meningkatkan pendapatan pajak negara, maka McCain justru berniat untuk tetap mempertahankan kebijakan Bush terdahulu, yaitu mempertahankan kebijakan pemotongan pajak.
Ketiga, Obama akan mempertahankan sistem tenaga kerja serta memperluas peran pemerintah. Di samping itu, juga mendukung layanan kesehatan untuk 47 juta warga Amerika tanpa harus dikenakan asuransi. Ini berbanding terbalik dengan McCain, yang justru bermaksud menggunakan kredit pajak untuk membantu mengalihkan dari asuransi berbasis pengusaha pada sistem terbuka, di mana rakyat akan dapat memilih asuransi yang sesuai baginya.
Keempat, terkait isu global warming, Obama berniat mengurangi emisi karbon dioksida menjadi 80% di bawah level 1990 untuk jangka tahun 2050, serta memproyeksikan jangka pendek menjadi setara dengan level 1990 pada tahun 2020 mendatang. Sementara McCain justru mendukung pendekatan perdagangan karbon yang mengacu konsensus tahun 2007, di mana cukup mengurangi emisi 30% untuk jangka tahun 2050 mendatang.
Pesaingan antara Obama dan McCain tentu akan menjadi pertarungan politik paling menegangkan. Mengingat, ini adalah pemilihan pertama kali dalam sejarah berdirinya Amerika, di mana seorang calon dari kulit putih akan berhadapan dengan calon kulit hitam. Dan ini tentu menjadi ujian sekaligus pendidikan menarik bagi publik Amerika. Di mana seharusnya menentukan pilihan bardasarkan pada hal-hal yang lebih substansial.