• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Buku>Satu DEKADE PASCA-KRISIS INDONESIA, Badai Pasti Berlalu?

.

Satu DEKADE PASCA-KRISIS INDONESIA, Badai Pasti Berlalu?

oleh : BlackMorpel     

Pengarang : Sri Adinigsih, dkk

 Slogan reformasi yang telah begitu populer dikalangan masyarakat tentu tak mampu berpaling dari bingkai sejarah keterpurukan

yang melanda bangsa ini satu dekade silam. Masyarakat menyebutnya dengan “krismon” ( krisis moneter). Krisis yang tidak memberikan alternatif bagi bangsa Indonesia selain harus mereformasi semua bidang kehidupannya, seperti bidang politik, sosial, keamanan dan ekonomi, bahkan imperium pemerintah yang yang telah begitu berkuasa selama tiga dekade juga harus dipaksa lengser.


 Tidak terasa krisis ekonomi sudah sepuluh tahun berlalu, hal ini mengingatkan pada Bath Thailand yang menjadi pemicu krisis ekonomi Asia. Saat itu Indonesia masih percaya diri dengan kekuatan ekonominya, tidak ada kekhawatiran dengan krisis yang terjadi di Thailand, sehingga tidak ada langkah antisipasi. Bahkan pemerintah agak overconfident, sehingga pada saat mata uang Malaysia dan Filipina sudah mulai goyah kita masih merasa nyaman. Namun begitu Rupiah jatuh dan dihapuskannya rentang kurs intervensi pada 14 Agustus 1997 ekonomi Indonesia bablas, masuk jurang krisis yang lebih dalam dan lama dari negara-negara tetangganya yang mengalami krisis.


Bangsa Indonesia baru dapat bernafas agak lega saat graduated dari program IMF akhir 2003 dengan lancar. Di mana memasuki tahun 2004 sudah dapat dikatakan bahwa ekonomi sudah mulai pulih dan normal kembali, meskipun untuk menjaga agar proses transisinya berjalan mulus perlu dikeluarkan white paper. Meski demikian, selesainya program IMF, sekaligus pelunasan seluruh kewajiban pada IMF dan pembubaran CGI pada tahun 2006 ternyata belum banyak berarti bagi kemajuan ekonomi bangsa ini.

 Pada Agustus 2004 bangsa ini sempat dilanda mini crisis valas, Rupiah terdepresiasi cukup tajam hingga mencapai hampir Rp12.000,00 per dollar AS. Kemerosotan Rupiah akibat dari hilangnya kepercayaan pasar pada kemampuan otoritas ekonomi mengatasi masalah APBN dan perkembangan pasar keuangan pada saat itu juga harus dibayar mahal. Pada tahun 2005 instabilitas ekonomi makro dengan inflasi lebih dari 17% menghantam ekonomi Indonesia. Jelas hal itu berdampak pada sektor riil dan kehidupan masyarakat.


 Saat ini perekonomian Indonesia juga dapat dikatakan belum bisa bangkit, tumbuh dan berkembang seperti yang diharapkan. Memang pada kuartal 4 tahun 2004 ekonomi pernah tumbuh 7% namun secara umum masih tetap sulit menembus pertumbuhan ekonomi di atas 6% pada saat ini. Berbagai motor penggerak ekonomi utama seperti investasi dan industri masih berjalan lamban. Ekonomi lebih banyak digerakkan oleh sektor keuangan atau sektor-sektor non tradable. Demikian juga kenaikan ekspor banyak didukung oleh kenaikan harga komoditas primer, pada gilirannya pengangguran dan kemiskinan tetap saja tinggi.


 Lebih jauh, Indonesia memiliki kewajiban internasional yang besar. Cadangan devisa Indonesia tidak akan mencukupi untuk memenuhi kewajiban internasionalnya jika ada arus balik besar-besaran. Dalam suatu seminar 10 Tahun Krisis Asia di Bangkok awal tahun 2007 seorang pembicara dari Korea menyatakan bahwa kawasan ini masih rentan terhadap serangan krisis ekonomi dan sumber kerapuhan ekonomi adalah Indonesia dan Filipina. Jika demikian boleh jadi selama ini otoritas kekuasaan hanya menghibur masyarakat dengan pernyataannya bahwa stabilitas ekonomi indonesia semakin menguat serta prospek gemilang, padahal sesungguhnya keropos.


 Buku yang di tulis melalui kerja-bareng oleh lima orang penulis ini cukup tajam dalam menganalisa dinamika serta perkembangan ekonomi sejak beberapa tahun sebelum krisis dan sepuluh tahun pasca-krisis 1997, sehingga mampu memberikan gambaran yang jelas mangenai dampak krisis, upaya-upaya untuk pulih serta berbagai kendala yang dialami dalam mengatasi problem kesejahteraan rakyat. Selain itu, buku yang disajikan dengan gaya bahasa populer akademis ini juga dilengkapi dengan tabel data dari berbagai sumber.


Satu dekade lebih krisis ekonomi berlalu dari Indonesia, namun reformasi ekonomi belum selesai. Permasalahan ekonomi masih banyak yang menghadang. Sektor riil masih berjalan lamban ditambah kualitas pembangunan ekonomi juga memburuk. Sepatutnya kita dapat mengambil pelajaran dari berbagai krisis secara arif agar dapat mencapai kebangkitan ekonomi seperti yang kita harapkan, kehidupan yang makmur dan sejahtera bagi seluruh rakyat indonesia. Segala hal yang berpotensi menimbulkan instabilitas ekonomi harus ditangani dengan serius properly and timely. Jangan sampai lagi ada krisis di tanah air ini, agar bangsa ini benar-benar mencapai cita-cita kemerdekaan.  
Diterbitkan di: Februari 08, 2009

Komentar

Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.