Runtuhnya Martadipura
Buku ini mengisahkan sejarah yang berlatar belakang runtuhnya dinasti kerajaan Mulawarman, yaitu kerajaan Hindu tertua di Nusantara yang berada di bumi Kalimantan Timur dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang berketurunan dari Aji Batara Agung Dewa Sakti.
Mangkuyuda, dia diutus oleh Baginda Darmasetia untuk memberikan amanat kepada orang-orang pantun apakah masih setia dan tunduk dengan kerajaan Prabu Darmasetia. Tapi yang ada hanyalah terjadi pembakangan dan pemberontakan, mereka menolak senopati Pertala menjadi kepala kepatihan di Pantun menggantikan Senapati Raga Sukma yang notobene berasal dari keluarga Kepatihan Sendawar. Tetapi semua itu adalah rekayasa, telah terjadi penghasutan dari kerajaan Prabu Darmasetia untuk melakukan penyerangan terhadap orang-orang Pantun yang tidak menerima keberadaan Senapati Pertala di Pantun. Pangeran Satiyuda adik dari Prabu Darma setialah otak dari semua hasutan yang terjadi di Kerjaan Martadipura yang dibantu oleh Pamanya panembahan Mas Patilaga untuk mengusai kekuasaan di Martadipura yang selama ini di pegang oleh Darmasetia.
Kerajaan Kutai yang pada waku itu berkedudukan di Pamerangan Jembayan dengan raja Aji Pangeran Sinum Panji. Raja yang suka menjelma seperti orang biasa berbaur dengan rakyatnya untuk mengetahui secara langsung kehidupan rakyatnya. Tanpa disengaja sang pangeran bertemu gadis cantik yang tak lain adalah Sekar Anjani puteri bungsu dari Prabu Darmasetia dan Permasuri Ambar Dewi yang pergi dari kerajaan karena tingkah lakunya yang sangat nakal.
Awal dari kekeruhan di Martadipura adalah saat Pangeran Satiyuda serta Panembahan Sukapura dan Panembahan Mas tidak setuju dan menerima dengan Prabu Darmasetia untuk memberikan putrinya Sekar Arum dan Sekar Wulan ke Kerajaan Kutai. Karena dianggap melecehkan kerajaan Martadipura. Kemudian mereka merencanakan untuk menghasut rakyat lagi seperti sama halnya pada waktu mereka menghasut untuk mengacaukan orang-orang Pantun, yaitu menyebarkan isu kalau Prabu Darmasetia sudah melanggar adapt istiadat leluhur sampai rakyat mengambil sikap yang bersipat tidak sependapat dengan keputusan itu.
Tumenggung Seroja adalah seorang Senapati Kutai telah tewas ditangan oleh panglima Martadipura membuat geger kerajaan Kutai Kertanegara. Mereka menuduh perbuatan ini dilakukan oleh pihak orang-orang Martadipura yang tak setuju dengan rencana penyatuan Kutai dan Martadipura. Terlebih isu pun dikembangkan dan sisebarkan oleh kelompok Ki Labda dan Ki Narang Baya keduanya panglima kerajaan Kutai.
Pangeran Satiyuda dengan akal liciknya melakukan penyerangan di perbatasan Kutai, setelah semua tentara Kutai tewas, lalu menggantikan pakaian mereka dengan pakaian prajurit Kutai. Setelah itu mereka berbalik menyerang kerajaan mereka sendiri yaitu Martadipura. Dengan adanya peristiwa tewasnya para prajurit penjaga perbatasan sampai kekerajaan Martadipura membuat Darmasetia bingung. Tapi bagi rakyat kutai pembataian itu merupakan penghinaan terhadap kedaulatan kerajaan kutai. Kutai kian memanas, dimana-mana orang-orang yang berasal dari Martadipura diusir dari tanah Kutai.
Akhirnya Kutai menyerang Martadipura, runtuhlah kerajaan martadipura. Kemudian maharaja Kutai Pangeran Sinum Panji Mendapa mengumumkan pada seluruh rakyat Martadipura bahwa Martadipura bukanlah jajahan Kutai Kertanegara tetapi mereka adalah merupakan setinggil atau serumpun. Martadipura dan Kutai Kertanegara adalah satu. Satu raja, satu setinggil, satu mahkota, satu wilayah, satu pemikiran. Karena mulai sekarang kerajaan itu bernama Kutai Kertanegara Ing Martadipura.
Abstrak lain tentang Runtuhnya Martadipura